Catatan Harian Nanik

By Lynda Hartati

 

Mataku terbuka lebar setelah mendengar ayam berkokok jam 5 pagi karena hari ini adalah hari pertama aku ke sekolah. Ibu tidak dapat menyiapkan makanan untukku karena minggu lalu ayah belum menghasilkan apapun dari panennya. Oleh karena itu, perjalanan bersama teman-teman menuju sekolah menjadi lebih berat karena aku sangat lapar. Setelah melewati satu jam perjalanan ke sekolah, temanku Mina hampir terkapar karena kakinya terantuk batu yang sangat tajam. Aku dan Suratno cepat-cepat menolong dan memapahnya sampai ke sekolah. Sampai di sekolah, kaki Mina dibersihkan dan dibalut dengan kain oleh Ibu Wati agar tidak mengeluarkan darah lagi. Ah.. Andai kami dapat memakai sepatu ke sekolah..

 

Pelajaran yang aku dapat hari ini dan sangat kusukai yaitu berhitung. Ketika aku besar nanti, aku ingin menjadi guru berhitung.

 

Lalu, sesuatu yang sangat menyenangkan terjadi di tengah pelajaran. Ada beberapa orang baik dari kota membawakan kami makanan lezat berupa nasi dan kuah ayam. Setelah makan, kami diberikan hadiah istimewa yaitu sepatu sekolah, kaos kaki dan topi. Aku sangat gembira, terlebih lagi ketika aku melihat Mina sedang menitihkan air mata bahagia, seperti mimpi rasanya.

 

Kami pulang sekolah dengan berjalan lebih cepat dan tidak sabar untuk memberi tahu ayah dan ibu akan hadiah yang kami terima. Mereka selalu berkata kepadaku untuk mengucapkan doa dan syukur kepada Tuhan sebab Dia selalu memperhatikan kita apapun keadaan kita. Ya memang benar, Tuhan sangat baik, terima kasih Tuhan!

 

Catatan harian diatas hanyalah cerita fiktif, tetapi kisahnya tidak asing bagi anak-anak desa yang kurang mampu di Indonesia. Mereka tidak mempunyai segalanya, tetapi mereka menjalankan hari demi hari bersama keluarga dengan senyuman. Itulah yang membuat mereka kaya. Dengan demikian, marilah kita terus mengucap syukur dalam segala keadaan.

 

 

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.