Rendah Hati – Apr 11

 

By: Ps. Samuel Yusuf

 

RENDAH HATI adalah suatu sikap hati kita kepada Tuhan yang mengakui bahwa kita adalah manusia yang tidak bisa berbuat apapun dihadapan Tuhan dan sangat bergantung hanya ke­padaNya. Pengertian inilah yang akan membuat kita mengutamakan orang lain disekitar kita. Abraham mengakui bahwa dia tidak berarti apapun karena dia berasal dari debu dan tanah liat.

 

“Abraham menyahut: Sesung­guhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walau­pun aku debu dan abu” Kejadian 18:27

 

Rasul Paulus mengatakan di dalam 1 Korintus 4:6-7,

 

Saudara-saudara, kata-kata ini aku kenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos, karena kamu, supaya dari teladan kami kamu belajar apakah artinya ungkapan: “Jangan melampaui yang ada ter­tulis”, supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain. Sebab siapakah yang menganggap eng­kau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, me-ngapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?

 

Menurut Paulus, apa yang ada pada kita, yang terbilang milik atau kepunyaan kita, semuanya kita teri­ma dari Tuhan dan tidak ada satupun yang berasal dari diri kita sendiri. Hal ini juga termasuk bakat, kepandai-an, bentuk fisik, suku bangsa, orang tua, jenis kelamin, urutan kelahiran dan lain sebagainya.

 

Dalam konteks keilahian Tuhan, KERENDAHAN HATI adalah sikap seorang makhluk yang tidak berdaya dihadapan Sang PENCIPTA yang Maha Agung; yang mengakui sudah berdosa dan sangat membutuhkan penebusan dan pemulihan dari Sang PENCIPTA itu sendiri. Sehingga, da­pat menjalani kehidupan yang sesuai dengan rencanaNya. Seperti pe-ngakuan nabi Yesaya yang berkata: “Celakalah aku, aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir”.

 

Tuhan Yesus mendemonstrasikan pada kita sebuah KERENDAHAN HATI yang harus ditiru oleh orang-orang yang mengasihi Dia dan mau menjadi murid-muridNya. Dia me-ninggalkan jati dirinya sebagai Tuhan dan merendahkan diri dengan penuh kesadaran dan ketaatan kepada kehendak BapaNya untuk men­jadi sama dengan manusla yang Dia ciptakan. Bahkan, taat sampai mati dengan cara yang sangat terkutuk di kayu salib untuk menebus dan menyelamatkan seluruh manusia. Dan dengan demikian, RENCANA-Nya tergenapi dengan sempurna. Hal ini dikenal sebagai KENOSIS.

 

“Hendaklah kamu dalam hidup­mu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan melainkan telah me-ngosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manu­sia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” Filipi 2:5-8

 

Tuhan Yesus mengakui bahwa Dia tidak bisa mengerjakan apapun kecuali BapaNya memperlihatkan kepadaNya.

 

“Kita tahu, bahwa kita berasal dari Allah dan seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat.” Yohanes 5:19

 

“Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesung­guhnya bukan Musa yang mem­berikan kamu roti dari Sorga, melainkan BapaKu yang mem­berikan kamu roti yang benar dari Sorga.”” Yohanes 6:32

 

Bahkan apa yang Dia ajarkan ke­pada murid-muridNya juga bukan berasal dari Dia sendiri, tetapi ber-asal dari BapaNya.

 

“Jawab Yesus kepada mereka: “AjaranKu tidak berasal dari diriKu sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku.”” Yohanes 7:16

 

“Maka kata Yesus: “Apabila kamu meninggikan Anak Manusia, baru­lah kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diriKu sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa ke­padaKu.”” Yohanes 8:28

 

Karena kita adalah murid-murid Tuhan Yesus, maka kita wajib untuk meniru dan meneladani kerendahan hati Yesus yang tidak melakukan agenda atau keinginan kita sen-diri, tetapi hanya melakukan REN­CANANya. Kita juga tidak mencari kesempatan untuk meninggikan diri sendiri. Biarlah kita semakin berkurang-kurang dan hanya Tuhan Yesus yang semakin kita tinggikan dalam segala aspek kehidupan kita

 

“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Yohanes 3:30

 

Janganlah kita bermegah de-ngan keberhasilan kita. Kalaupun kita mau bermegah, biarlah itu se­mua hanya dalam salib Kristus saja.

 

“Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tu­han kita Yesus Kristus, sebab oleh­nya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.” Galatia 6:14

 

Marilah kita sadari dan laku­kan bersama-sama bahwa setiap pribadi kita diberikan kasih karunia yang berbeda oleh Tuhan Yesus dan janganlah kita memikirkan serta menginginkan sesuatu yang lebih tinggi dari yang sudah diberikan ke­pada kita (Roma 12:3), kecuali Tuhan sendiri yang menaikkan batas kasih karunia itu.

 

Jadi KERENDAHAN HATI bu­kanlah sebuah sikap yang selalu tersenyum lebar di semua kesem­patan. Apalagi berjalan terbungkuk-bungkuk sambil membuka tangan kanan ke arah lantai dengan tangan kiri diletakkan di bagian belakang dan berkata: “permisi-permisi, numpang lewat”.

 

KERENDAHAN HATI bukan sikap yang selalu menuruti apa kata orang, ataupun selalu memakai pakaian yang paling murah dan sudah ke-tinggalan jaman. RENDAH HATI bu­kan berarti tidak memiliki kepribadi­an sehingga menjadi sangat mudah diatur oleh RENCANA dan kehendak orang lain seperti boneka.

 

Akhir kata, saya menghimbau agar kita melakukan apa yang firman Tuhan katakan dalam Mikha 6:8:

 

“ Hai Manusia, telah diberita­hukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang di­tuntut Tuhan dari padamu:

1. Selain berlaku adil,

2. Mencintai kesetiaan,

3. Dan hidup dengan RENDAH HATI dihadapan Allahmu.”

Sebagai pengakuan bersama, marilah kita ucapkan perkataan Maria (ibunda Yesus) yang terdapat dalam Yohanes 1:38

 

“SESUNGGUHNYA AKU INI HAMBA TUHAN, JADILAH PADAKU MENURUT PER­KATAANMU ITU.” Amin