Allah yang Kekal

Satu bulan yang lalu, Tuhan ijikan saya terkena leukemia setelah saya baru saja menyelesaikan studi saya selama 5 tahun di Dallas. Saya bertanya kepada Tuhan, “Why?” Tetapi sebenarnya seminggu sebelumnya Tuhan sudah memberikan jawaban ketika saya sedang mempersiapkan kotbah tentang kedaulatan Tuhan. Jadi ketika saya bertanya kepada Tuhan, Ia mengingatkan saya tentang pesanNYA.

Ada perbedaan di antara orang yang belajar tentang Tuhan dan orang yang mengalami Tuhan. Saya berdoa kepada Tuhan beberapa tahun yang lalu saya ingin menjadi penginjil yang berkotbah dengan baik dari pengalaman pribadi saya dengan Tuhan, bukan semata-mata dari pengetahuan saya tentang Tuhan. Ketika saya pertama di diagnosa dengan penyakit ini, papi memberitahu saya ini penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Saya berkata kepada Tuhan bahwa Dia tidak adil. Saya mengira Tuhan punya rencana besar bagi hidup saya tetapi kenapa saya harus mengalami maut begitu cepat?

Rencana Tuhan dalam hidup kita tidak bisa digagalkan. Tuhan tidak bisa gagal karena Dia Tuhan. Kalau Tuhan bisa gagal, maka Tuhan bukan Tuhan. Ketika kita berada di tengah proses kehidupan, kita mempunyai banyak pertanyaan karena kita tidak mengerti banyak hal. Kita tidak tahu akhir ceritanya. Konsep waktu kita bukanlah konsep waktunya Tuhan. Waktu adalah ciptaan Tuhan tetapi Tuhan tidak hidup di dalam waktu. Tuhan hidup dalam kekekalan. Tuhan mengalami kejadiaan-kejadiaan yang terjadi di masa lampau, saat ini dan masa depan secara bersamaan. Jadi akhir hidup kita sebenarnya sudah terjadi buat Tuhan. Tuhan sudah menuliskan apa yang akan terjadi. Ini bukan berarti Tuhan meramal apa yang akan terjadi di masa depan kita tetapi Tuhan sudah mengalaminya.

Sewaktu Daud melewati banyak proses-proses menuju menjadi raja, seperti waktu Daud menggembalakan domba yang hanya 2-3 ekor, waktu Daud menghadapi Goliath, dan waktu Daud sedang diburu mau dibunuh oleh Saul, Daud tidak tahu bahwa akhirnya dia akan menjadi raja. Kita tahu karena kita sudah membaca kisah akhir Daud. Mungkin kita bertanya bagaimana halnya dengan kejadiaan ketika Daud jatuh ke dalam dosa dengan Betsyeba? Bagaimana ini menjelaskan rencana Tuhan atas hidup Daud? Apakah Tuhan tahu Daud akan berdosa? Iya! Lalu mengapa Tuhan membiarkan itu terjadi? Ingat bahwa Tuhan sudah selesai menulis kisah hidup kita dari awal sampai akhir. Mungkin anda bertanya, kalau Tuhan sudah menentukan segala sesuatu dari awal, pertengahan, hingga akhir, kenapa kita tetap dituntut untuk bertanggung jawab untuk hal-hal yang kita lakukan, baik atau jahat? Jawabannya adalah memang benar Tuhan tahu jalan hidup kita dari awal sampai akhir tetapi Tuhan tidak pernah berencana kita jatuh ke dalam dosa.

Jadi walaupun Tuhan sudah menetapkan segala sesuatunya, tetapi Tuhan tetap menuntut kita untuk melakukan hal yang benar. Salomo lahir melalui Betsyeba setelah Daud bertobat. Tuhan dapat memutarbalikkan segala sesuatu, bahkan menjadikan kesalahan kita untuk mendatangkan kebaikan dan berkat. Rencana Tuhan dalam hidup Daud tidak gagal tetapi Daud harus membayar harga yang sangat mahal sepanjang hidupnya, contohnya anak lelaki Daud memperkosa anak perempuannya lalu anak lelakinya yang lain berusaha merebut tahta kerajaan Daud. Tetapi Tuhan tetap Allah yang sangat baik. Roma 8:28-30 berkata, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.

Kata-kata €˜segala sesuatu€™ (ayat 28) mencakup yang baik maupun yang jahat. Kesalahan, kelemahan dan dosa Daud Tuhan ubahkan menjadi menjadi berkat bagi kita semua melalui kitab Mazmur, yang sebagian besar ditulis oleh Daud. Jadi apakah Tuhan tidak adil ketika Dia membiarkan kita mengalami masalah? Apakah Tuhan tidak adil membiarkan Daud gagal? Roma 9:14-24 menjawab hal ini. Ayat 14 dan 15 berkata, “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil? Mustahil! Sebab Ia berfirman kepada Musa: “Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.” Apakah keselamatan itu adil? Tentu tidak. Kita manusia berdosa dan tidak pantas menerima kesalamatan dari Allah! Tetapi Tuhan memilih untuk memberikan belas kasihan kepada siapapun yang Dia pilih.

Selanjutnya di ayat 16 dan 17 berbicara bahwa Tuhan memberikan kuasa kepada Firaun supaya Ia dapat menunjukkan kuasaNYA kepada seluruh bumi ketika Israel dibawa keluar dari Mesir melalui perkara-perkara yang ajaib. Apakah hal ini adil bagi Firaun? Melalui kaca mata manusia, jawabannya tidak. Ayat ke 19 berkata, “Sekarang kamu akan berkata kepadaku: “Jika demikian, apa lagi yang masih disalahkan-Nya? Sebab siapa yang menentang kehendak-Nya?”” Salahkah kita berbuat sesuka hati kita, melakukan hal-hal berdosa? Ayat 20-24 menulis jawaban rasul Paulus. Kita manusia ciptaan Tuhan tidak berhak mempertanyakan Tuhan. Apa hak kita bertanya kepada sang Pencipta, “Kenapa kau biarkan ini terjadi?”, “Kenapa aku dibuat seperti ini?”, dan lain sebagainya. Tuhan punya kuasa dan hak untuk melakukan apa saja yang Dia inginkan karena Dia Tuhan. Seringkali kita susah untuk menerima kenyataan ini. Karena kita sudah terbiasa hidup di negara demokrasi dan kita ingin pilihan kita berpengaruh. Ini tidak demikian dengan Tuhan. Tidak perduli apa yang kita katakn dan lakukan, kehendak Tuhan akan tetap terjadi. Itulah Tuhan. That€™s just the way it is.

Jadi kalau Tuhan sudah menentukan segala sesuatu dari awal, kenapa kita masih harus bertanggung jawab untuk melakukan hal yang benar? Karena Alkitab mengajarkan demikian. Firman Tuhan berkata, “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.” (Lukas 12:48b) Hal ini istilah teologinya €˜antinomy€™ yang berarti dua kebenaran yang berbobot sama tetapi bertolak belakang. Contohnya Allah TriTunggal, tiga pribadi di dalam satu Tuhan. Jadi walaupun Tuhan sudah menentukan akhir dari awal, kita tetap bertanggung jawab untuk melakukan hal yang benar.

Yeremia 29:11 berkata, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Dengan ayat ini, Roma 8:28 masuk akal. Bahkan ketika kita jatuh, Tuhan bisa merubahnya menjadi kebaikan. “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.” (Ibrani 11:6a) Iman itu percaya walaupun kita tidak mengerti.

Tags:
No Comments

Post A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.