Apa yang ada padamu?

“Lalu sahut Musa: “Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?” TUHAN berfirman kepadanya: “Apakah yang di tanganmu itu?” Jawab Musa: “Tongkat. Firman TUHAN: “Lemparkanlah itu ke tanah.” Dan ketika dilemparkannya ke tanah, maka tongkat itu menjadi ular, sehingga Musa lari meninggalkannya. Tetapi firman TUHAN kepada Musa: “Ulurkanlah tanganmu dan peganglah ekornya” –Musa mengulurkan tangannya, ditangkapnya ular itu, lalu menjadi tongkat di tangannya”

Keluaran 4:1-4

Seperti Musa, kita juga sering bertanya dan ragu-ragu kepada apa yang Tuhan perintahkan. Pertanyaannya adalah, mengapa kita ragu-ragu? Ada dua kemungkinan, pertama karena kita pernah gagal sebelumnya, kedua mungkin kita takut gagal.

Pernyataan Tuhan kepada diri kita masing-masing adalah pernyataan subyektif yang Ia nyatakan untuk diri kita sendiri. Untuk itu tidak ada gunanya mencari konformasi tentang pernyataan subyektif seperti ini kepada pendeta, gembala atau siapapun juga. Apa yang Tuhan nyatakan kepada kita untuk diri kita masing-masing tidaklah Dia nyatakan kepada orang lain.

Coba perhatikan ayat-ayat di atas, Tuhan tidak marah kepada Musa atas keragu-raguannya.

Tuhan bertanya kepada Musa: “Apa yang ada padamu?”. Ini adalah cara Tuhan meyakinkan Musa akan pernyataan Tuhan atas diri Musa. Yang saya mau tekankan hari ini adalah bahwa Tuhan tidak pernah melakukan mujizat besar atas hidup kita diluar dari apa yang sudah terlebih dahulu ada pada kita.

Ibrani 11:21

Yakub menyandarkan dirinya kepada tongkat yang ia miliki. Hal ini mempunyai makna bahwa Yakub menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan.

Tongkat yang Musa miliki mungkin tidak berarti banyak bagi dirinya, tetapi ini sangat berarti dan penting bagi Tuhan. Sejelek apapun yang kita miliki, janganlah pernah kita menganggap remeh akan itu sebab Tuhan memakai apa yang ada pada diri kita bukan apa yang ada pada orang lain untuk membuat perkara besar.

2 Raja-Raja 4:1-7

Sebelum melakukan mujizat, Elisa bertanya kepada: “apa yang ada padamu?”, perhatikan bahwa ia tidak bertanya: “berapa banyak hutangmu?”.

Semiskik apapun juga, sebodoh apapun juga, setiap manusia pasti mempunyai sesuatu yang dapat Tuhan pakai untuk melakukan mujizat.

Jika kita berdoa sesuai dengan kehendak Tuhan, maka hal itu akan terjadi.

Supaya kita dapat dipakai Tuhan maka kita perlu terlebih dahulu mengosongkan bejana hidup kita. Pengurapan dan mujizat Tuhan akan terus mengalir sampai bejana kita penuh!

Dan supaya pengurapan dan mujizat terus Tuhan isi dalam hidup kita, kita perlu terus mengosongkan bejana kita dengan menyalurkannya kepada orang lain.

Sewaktu Tuhan memberi makan 5,000 orang, Yesus juga bertanya: “Apa yang ada padamu?” kepada murid-murid-Nya. Roti yang dimiliki oleh seoarang anak kecil di sana bukanlah suatu roti yang bagus. Saya percaya bahwa banyak orang-orang dewasa di sana pada saat itu yang memiliki roti atau bekal makanan yang lebih baik. Namun hanyak anak kecil ini yang bersedia memberikan apa yang ada padanya kepada Tuhan.

2 Raja-Raja 4:30, 31

Sebenarnya bukan tongkat yang mempunyai kuasa, tetapi orangnya lah yang Tuhan berikan kuasa. Untuk itu janganlah kita pernah memakai pengurapan orang lain.

Keluaran 4:3

Melemparkan tongkat ke bawah mempunya arti bahwa apa yang kita andalkan kita lemparkan di bawah kaki Tuhan.

Adalah suatu hal yang biasa bagi Musa yang tinggal di daerah padang gurun untuk bertemu dengan ular. Tetapi mengapa Musa lari ketika melihat ular ini? Saya percaya karena Musa melihat ular kobra yang adalah lambang dari kerajaan Mesir, dan memang Musa sedang lari dari Firaun.

Pelajaran dari cerita ini adalah jangan kita lari pernah kenyataan, sebab Tuhan akan melatih kita untuk menghadapi hal-hal yang membuat kita takut. Jangan pernah takut jika berjalan dalam panggilan Tuhan.

Keluaran 14:16

Do something with what God has given you!

Pakailah pengurapan yang sudah Tuhan curahkan atas hidup kita, dan janganlah mencoba meniru-niru orang lain. Berjalanlah senantiasa dalam pengurapan Tuhan. Lakukan segalanya dengan segenap hati dan sungguh-sungguh secara maksimal.

Setiap karunia yang sudah Tuhan berikan, jika tidak kita pakai maka akan menjadi ular.

To “stretch out” itu memang tidak nyaman, namun kita perlu stretch out, dan kita akan Tuhan “stretch” sesuai dengan kapasitas kita masing-masing.

Tags:
No Comments

Post A Comment