Arti Sebuah Gua

“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya… Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang inipun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya.” (Pengkhotbah 3:1; 7:14)

Semua kita tahu bahwa hari-hari mujur adalah hari yang sangat menyenangkan, namun hidup pada hari-hari malang sangatlah menyedihkan.

Hidup pada hari yang malang hidup itu seperti hidup di dalam gua.

Hari ini kita mau belajar tentang hidup di dalam gua. Kita akan melihat tokoh-tokoh di dalam Alkitab yang mengalami hidup seperti ini. Pertama-tama kita lihat hidup nabi Elia.

“Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.”… Maka bangunlah ia, lalu makan dan minum, dan oleh kekuatan makanan itu ia berjalan empat puluh hari empat puluh malam lamanya sampai ke gunung Allah, yakni gunung Horeb. Di sana masuklah ia ke dalam sebuah gua dan bermalam di situ. Maka firman TUHAN datang kepadanya, demikian: “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?”” (1 Raja-raja 19)

Elia adalah seorang nabi yang dipakai Tuhan dengan luar biasa. Dan jikalau kita membaca firman Tuhan kita tahu bahwa ada penyertaan Tuhan di dalam hidup Elia. Namun kenapa Elia menjadi seorang yang seolah-olah tidak lagi mempunyai pengharapan? Dia tidak lagi bersemangat dan sedang bersembunyi di dalam gua.

Siapa yang mengikuti Yesus akan hidup penuh dengan berkat, namun juga akan hidup di dalam segala tantangan dan di dalam gua yang sunyi. Ada waktunya di mana Tuhan akan mengijinkan kita untuk masuk ke dalam gua, dan bukan hanya hidup di dalam istana yang enak.

Namun apa sebenarnya maksud Tuhan mengijinkan kita masuk ke dalam gua?

Di dalam gua, Tuhan datang kepada Elia dengan Firman-Nya. Sering kali kita berada di dalam gua karena Tuhan ingin berbicara kepada kita. Kita diijinkan untuk masuk ke dalam gua supaya kita punya waktu lebih untuk mendengar suara Tuhan.

Bukankah manusia pada umumnya lupa kepada Tuhan sewaktu hidup enak; dan sering kali tidak mendengar dan merenungkan firman Tuhan pada waktu berada di puncak kejayaan?

Ketahuilah bahwa Tuhan ada di mana-mana, bahkan di dalam gua sekalipun. Dia tidak akan pernah meninggalkan kita sendiri.

Setelah Tuhan datang kepada Elia, Ia lalu memerintahkan Elia untuk bangkit dan keluar dari gua. Bukan saja Tuhan ada bersama dengan kita saat kita berada di dalam lembah kekelaman, Dia juga tidak akan membiarkan kita tinggal tetap di dalam gua.

Daniel adalah tokoh Alkitab yang kedua yang juga masuk ke dalam gua. Daniel adalah seorang yang takut akan Tuhan. Alkitab mencatat bahwa tidak ada kesalahan sedikiput terdapat di dalam hidup Daniel. Namun walaupun Daniel tidak bersalah dan setiap kepada Tuhan, ia tetap mengalami pencobaan. Daniel dilempar masuk ke dalam gua singa; tetapi malaikat Tuhan menyelamatkan Daniel sehingga akhirnya Daniel dapat bersaksi kebesaran Tuhan kepada raja.

Begitu juga dengan kita, Tuhan mau supaya melalui pengalaman kita di dalam gua, kita dapat melihat kebesaran Tuhan, dan bersaksi kepada orang-orang akan Tuhan.

Tokoh ketiga yang akan kita lihat pada hari ini adalah Daud. Dia adalah seorang yang gagah perkasa; seorang yang punya pengalaman yang luar biasa bersama dengan Tuhan. Namun Tuhan juga tetap mengijinkan Daud mengalami hal ini supaya ia tidak menjadi sombong.

Pada umumnya manusia senang dipuji. Tuhan ingin kita tahu dan menyadari bahwa segala yang kita peroleh adalah dari Tuhan. Dan jikalau bukan karena Tuhan, maka semua yang kita miliki adalah sia-sia.

Biarlah kita, di saat mengalami hidup di dalam gua yang sunyi boleh senantiasa mengucap syukur kepada Tuhan dan tidak bersungut-sungut serta melupakan-Nya!

Tags:
No Comments

Post A Comment