Children are Gift from God

“Children are a gift from the Lord. They are a reward from him. Children who are born to people when they are young are like arrows in the hands of a soldier. Blessed are those who have many children. They won’t be put to shame when they go up against their enemies in court.” Mazmur 127:3-5

Kekristenan adalah satu-satunya agama yang paling banyak berbicara tentang anak-anak. Bahkan bukan hanya itu, semua hal tentang kehidupa dapat kita temukan di dalam Alkitab. Misalnya soal diet atau makanan-makanan sehat, tentang hal hokum (law), hal manajemen, soal keuangan, dan masih banyak lagi.

Untuk itu sangatlah bodoh bagi orang Kristen yang memiliki the best book in the world tetapi tidak memakainya dengan maksimal.

Janganlah kita lihat Alkitab hanya sebagai buku agama. Alkitab adalah suatu buku kehidupan.

Anak-anak panah disimpan di dalam tabung panah; tabung ini menggambarkan orang tua yang melindungi anak-anaknya. Anak-anak harus dilindungi oleh orang tua mereka. Jika orang tua gagal menjadi orang tua, maka gereja Tuhan haruslah siap menjadi orang tua bagi anak-anak ini.

Orang tua harus menunjukan jalan dan tujuan kepada anak-anak mereka. Ketika manusia tidak mempunyai sasaran atau tujuan dalam hidup maka akan celakalah dia.

Hal yang paling mengerikan di jaman ini adalah generasi yang tidak memiliki figur bapa, atau yang disebut fatherless generasion. Sekarang ini banyak sekali peternakan anak, di mana banyak anak-anak dilahirkan tanpa orang tua. Anak-anak ini dilahirkan tanpa pikir panjang dan tanggung jawab, dan mereka ditinggalkan begitu saja setelah lahir.

“Her filthiness clung to her skirts; she did not consider her future. Her fall was astounding; there was none to comfort her. “Look, O Lord, on my affliction, for the enemy has triumphed.”” Lamentations 1:9

Ayat di atas berkata “she did not consider her future”, kata “she” di sini adalah bangsa Israel, dan “future” di sini bukanlah nasib, melainkan tujuan akhir dari kehidupan seseorang.
Contohnya, tujuan akhir Yesus bahkan sebelum Ia dilahirkan adalah untuk mati di atas kayu salib guna menebus dosa manusia, hal ini sangat berbeda dengan yang disebut sebagai nasib. Di dalam Alkitab dan di dalam Kristus tidak ada yang namanya nasib.

Ketika seseorang tahu akan destiny dalam hidupnya, maka orang itu tidak akan mungkin menyia-nyiakan hidupnya. Bayangkan jika kita tahu bahwa kita mempunyai destiny menjadi presiden, apakah kita akan bolos sekolah, berbuat kejahatan, dan sebagainya? Bukankah kita akan hidup semaksimal mungkin?

Di dalam dunia ada dua orang yang tahu destiny seorang anak, Tuhan dan orang tua anak tersebut. Orang tua diberi fungsi dan mandat oleh Tuhan untuk mengetahui destiny anak-anak mereka.

Di Indonesia, tercatat di koran Kompas pada tanggal 26 January 2007 bahwa ada empat juta bayi-bayi di bawah umur lima tahun yang kekurangan gizi! Sangat menyedihkan sekali.

Para orang tua, ingatlah bahwa setiap anak-anak kalian mempunyai destiny.

“Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibuNya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.” Lukas 2:51

“Ketika Yesus memulai pekerjaan-Nya, Ia berumur kira-kira tiga puluh tahun dan menurut anggapan orang, Ia adalah anak Yusuf, anak Eli,” Lukas 3:23

Ayat di atas memberitahukan kepada kita bagaimana pada umur 12, sewaktu remaja, Yesus tetap tinggal di bawah asuhan orang tuanya di bumi. Yesus tinggal bersama dengan orang tuanya sampai pada umur 30.

Kita harus sadar bahwa anak-anak tidak akan mengenal Tuhan kalau mereka tidak terlebih dahulu mengenal orang tuanya di bumi.

Tags:
No Comments

Post A Comment