Iman Sebagai Dasar Kehidupan

Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakannya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui. Karena iman ia diam ditanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan disitu ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu. Ibr 11:8-9.

Saudara yang terkasih, kita semua tahu bahwa Abraham digelari sebagai bapak orang beriman. Mengapa ia disebut bapak orang beriman? Karena Abraham mentaati Tuhan dengan iman. Abraham pergi dengan iman tanpa mengetahui tujuannya…ia hanya taat, taat dengan iman. Apakah iman itu? Ibr 11:1, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”

Jadi iman itu adalah suatu dasar/fondasi dari yang kita harapkan. Sebelum adanya suatu fondasi, maka kita tidak bisa membangun! Iman adalah awal/modal dasar kita. Iman tidak sama dengan Percaya! Percaya itu contohnya seperti kita percaya jika besok pagi matahari akan terbit di sebelah Timur. Kita tidak perlu iman untuk itu, karena itu pasti akan terjadi. Tetapi jika kita tidak punya uang tetapi mau mempunyai gedung yang jutaan dollar harganya…kita perlu iman!! Iman menjadikan segala sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin! Iman adalah permulaan, dasarnya! Tentu saja bukan iman yang ngawur atau dibuat-buat, seperti kita melihat sebuah mobil mewah lalu kita imani supaya menjadi milik kita. Iman itu harus datang dari Tuhan, karena Dialah pemberi iman itu! Abraham mendengar suara Tuhan dan janji Tuhan lalu ia beriman atasnya. Tuhan memperhitungkan kepercayaan (iman) Abraham sebagai kebenaran.

Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah.” Ibr 11:10. Saudara, perhatikan ayat ini baik-baik…lalu siapakah dasar itu? Dasar itu adalah Yesus. Yang merencanakan: Yesus, yang membangun juga Yesus! Jadi dimana bagian kita?? Tidak ada….! Semua dari Dia, oleh Dia dan untuk Dia! Abraham mengerti ini, itulah sebabnya ia berani pergi walaupun tidak jelas kemana, tetapi ia tetap pergi seperti yang Tuhan suruhkan. “Secara itu jugalah Abraham percaya kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham” Gal 3:6-7. Apakah saudara hidup dengan iman? Waktu kita hidup dari iman, maka iman seperti Abraham itu akan kita miliki.

Apakah itu iman yang dibenarkan? Iman yang dibenarkan adalah yang tahu iman itu dari Allah dan melangkah didalam ketaatan. Karena iman tanpa perbuatan adalah mati, sia-sia!

Sekarang mari kita lihat satu sisi lain, yaitu dari Yesus. “Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yoh 14:6. Kebenaran itu bukanlah terdiri dari kata-kata tetapi adalah suatu pribadi!

Yesus berkata: “Sesungguhnya diantara orang yang hadir dsini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya” Mat 16:28. Banyak orang berpikir bahwa perkataan Yesus ini tidak tergenapi, karena mereka semua sudah mati dan Tuhan Yesus belum datang juga sebagai Raja. Saudara, mari kita melihat ayat-ayat selanjutnya, kejadian pada waktu Yesus dimuliakan diatas gunung, “Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Disitu mereka sendiri saja. Lalu Yesus berubah rupa didepan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.” Mat 17:1-2. Ternyata sesungguhnya apa yang dikatakan Yesus terjadi enam hari kemudian. Petrus, Yakobus dan Yohanes melihat Yesus dalam kemuliaan-Nya!

Saudara, kerajaan Allah ada didalammu! Coba bandingkan Mat 17:4 dengan Mrk 9:5, “Kata Petrus kepada Yesus: “Rabi, betapa bahagianya kami berada ditempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu unutk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan.” Petrus yang sifatnya sok tahu, ia cuma asal ngomong saja mengenai mendirikan tenda. Membuat tenda berarti: akan diam (tinggal didalam tenda), stop, tidak mengalir lagi, tidak bergerak! Berapa banyak dari kita yang mendirikan tenda buat Tuhan dan menaruh Tuhan didalamnya sehingga kita berhenti (tidak ada kemajuan) didalam hubungan dengan Tuhan, pelayanan, dll. Hidup kita harus ada movement bukannya monument!! Allah tidak mau kuasa-Nya dijadikan monument. Tuhan tidak suka orang yang suam-suam. “Pada waktu itu Aku akan menggeledah Yerusalem dengan memakai obor dan akan menghukum orang-orang yang telah mengental seperti anggur diatas endapannya dan yang berkata dalam hatinya: Tuhan tidak berbuat baik dan tidak berbuat jahat” Zef 1:12. Orang yang mengental, ia tidak bergerak kemana-mana.

“Saudara-saudaraKu yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan yang sebenarnya.” 1 Yoh 3:2. Kita berharap didalam iman kepada Yesus, bahwa kita satu hari nanti akan melihat Yesus didalam kemuliaan-Nya, rupa yang sesungguhnya. Rupa Yesus yang sesungguhnya bukanlah seperti yang kita lihat digambar atau di patung tetapi seperti yang tertulis di Why 1:13-16. Dia Allah yang dahsyat…!!! Penuh kemuliaan…! Harapan mulia itu, Yesus! Yesus adalah dasar iman kita!

No Comments

Post A Comment