Kasih Bapa (Father€™s Love)

Pelajaran kita hari ini diambil dari perumpamaan tentang anak yang hilang (Lukas 15:11-32). Kita mau bersama-sama belajar tentang hati seorang bapa kepada anaknya. Hal ini menggambarkan juga bagaimana hati Tuhan sebagai Bapa kepada kita semua anak-anak-Nya.

Pertama-tama, kita harus tahu bahwa Tuhan adalah Bapa yang penuh kasih. He is a loving Father. Dan yang terpenting bagi Dia adalah fellowship dengan kita. Untuk menyenangkan hati Bapa, kita harus hidup di dalam fellowship dengan-Nya, serta menyerahkan hati kita kepada-Nya.

Di dalam bacaan hari ini, kita dapat melihat bahwa anak yang bungsu adalah seorang yang kurang ajar. Ia meminta warisan sebelum ayahnya meninggal. Bukankah kita hari-hari ini, khususnya anak-anak muda juga berkelakuan seperti ini? Anak-anak muda sekarang cenderung tidak mau hidup di bawah otoritas dan di dalam batasan-batasan (boundaries). Mereka tidak mau diatur dan mau melakukan segalanya dengan bebas.

Tahukah saudara bahwa kita berada di dalam batasan atau “pagar” supaya kita punya kebebasan? Mungkin saat ini anda bertanya: “Kebebasan apa yang terdapat di dalam pagar?” Kebebasan yang di dapat di dalam pagar adalah keamanan, pagar memberikan perlindungan kepada kita. Dan biarlah setiap kita hidup di dalam pagar Firman Tuhan yang menjadi batasan-batasan hidup ini.

Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari anak bungsu yang terhilang ini: – Harta tanpa Bapa adalah suatu ilusi – Di dalam sistem dunia, saat kita banyak uang, maka kita akan banyak teman – Tidak ada kasih yang sesungguhnya di dalam dunia ini.
– Kenikmatan di luar batas akan membawa kepada perbudakan – Tidak ada tempat yang lebih baik daripada di rumah Bapa

Pada saat anak bungsu ini memutuskan untuk akhirnya kembali kepada bapanya, saya kira tidak ada orang yang dapat ataupun mau mengenalinya. Tetapi kita membaca di ayat ke-20: “Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.”

Seperti bapa di dalam perumpaan ini, begitu juga dengan Bapa di surga yang senantiasa menunggu anak-anak-Nya yang sudah keluar dari pagar untuk kembali kepada-Nya, sebab Tuhan tidak akan melupakan anak-anak-Nya; dan Dia tidak pernah mengingat-ingat kembali kesalahan dan dosa mereka.

Di dalam adat orang Yahudi, maupun orang-orang di Timur Tengah pada waktu itu, kebesaran seseorang dapat dilihat dari seberapa cepat atau lambat ia berjalan. Lebih besar dan tinggi jabatan orang tersebut, maka akan semakin lambat ia berjalan. Di cerita yang kita baca, kita melihat bagaimana bapa merendahkan dirinya dengan berlari kepada anaknya untuk merangkul dan mencium dia.

Sadarkah kita bahwa Tuhan Yesus juga merendahkan dirin-Nya guna menyelamatkan kita semua? (Filipi 2:5-11). Saat ini, seberapa busuk sekalipun hidup kita, jika kita mau mengambil langkah untuk kembali kepada Bapa, maka Ia akan menerima kita, memeluk, serta mencium kita. Bapa kita di surga bukan hanya mengampuni, namun Ia juga akan memulihkan kita, dan mengadakan pesta untuk kita.

“Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita.” (Lukas 15:22-23)

Walau si anak yang bungsu bahagia boleh diterima kembali, namun sang bapa jauh lebih bersuka cita sebab anaknya kembali kepadanya.

Biarlah kita belajar dari perumpaan ini dan marilah kita bersuka cita melihat orang-orang diselamatkan dan kembali kepada Bapa. Ayo, ikut dan nikmatilah pesta yang Bapa adakan saat anak-anak-Nya kembali.

Tags:
No Comments

Post A Comment