Mazmur 42

Mazmur 42:1-11

Untuk pemimpin biduan. Nyanyian pengajaran bani Korah. Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah? Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: “Di mana Allahmu?” Inilah yang hendak kuingat, sementara jiwaku gundah gulana; bagaimana aku berjalan maju dalam kepadatan manusia, mendahului mereka melangkah ke rumah Allah dengan suara sorak-sorai dan nyanyian syukur, dalam keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan. Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!

Jiwaku tertekan dalam diriku, sebab itu aku teringat kepada-Mu dari tanah sungai Yordan dan pegunungan Hermon, dari gunung Mizar. Samudera raya berpanggil-panggilan dengan deru air terjun-Mu; segala gelora dan gelombang-Mu bergulung melingkupi aku. Tuhan memerintahkan kasih setia-Nya pada siang hari, dan pada malam hari aku menyanyikan nyanyian, suatu doa kepada Allah kehidupanku. Aku berkata kepada Allah, gunung batuku: “Mengapa Engkau melupakan aku? Mengapa aku harus hidup berkabung di bawah impitan musuh?” Seperti tikaman maut ke dalam tulangku lawanku mencela aku, sambil berkata kepadaku sepanjang hari: “Di mana Allahmu?” Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!

 

 

Ketika berbicara tengang pertumbuhan fisik dan kesehatan, kita memiliki pelatih dan dokter. Pelatih adalah orang yang meregangkan batas anda dan melatih anda dengan disiplin setiap hari untuk membuat anda lebih kuat, sedangkan dokter adalah orang yang membantu anda kembali sehat ketika anda sakit atau terluka.

Ilustrasi: Ketika saya pertama kali terlibat dalam dunia atletik, tubuh saya tidak dilatih untuk itu. Ketika saya masi di sekolah dasar, saya pendek, gemuk, dan terlihat sebagai anak kutu buku. Saya benci olahraga. Setiap hari sewaktu kami harus lari keliling lapangan sebelum kelas dimulai, saya akan berlari secepat yang saya bisa untuk tidak datang terakhir. Saingan saya adalah seorang gadis yang jauh lebih besar daripada saya. Setiap hari, saya memepertaruhkan harga diri dan kebanggaan saya sebagai pria untuk tidak kalah, namun saya sering juga kalah. Tapi tubuh saya mengalami perubahan besar sewaktu saya di kelas 7. Saya menjadi ramping dan tinggi dan mulai bersaing untuk mendapatkan tempat pertama dari depan, bukan dari belakang. Melihat potensi saya, departemen atletik sekolah merekrut saya ke dalam tim dan mulai melatih saya. Kami berlatih tiga kali seminggu untuk memperkuat tubuh kami. Latihan ini melibatkan banyak exercise yang berat-berat yang membuat saya ingin muntah tapi hal itu membuat saya menjadi lebih kuat. Hal ini tidak menyenangkan tapi bermanfaat bagi pertumbuhan fisik saya.

Namun, saya gampang sekali cedera. Saya sering sekali mengalami kram otot. Pelatih saya berasumsi bahwa hal ini mungkin disebabkan karena otot saya tidak biasa digunakan untuk exercise yang berat. Jadi solusinya adalah untuk terus melatih, membuat otot saya lebih kuat, dan saya akan dengan sendirinya akan lebih jarang cedera. Tapi itu tidak membantu. Bahkan frekuensi cedera saya menjadi lebih sering. Ketika saya bergabung dengan tim sepak bola sekolah, saya akan terkena kram atau cedera hampir di setiap pertandingan. Ini terus terjadi selama hampir dua tahun sampai saya akhirnya diberitahu untuk menemui chiropractor. Jadi saya pergi menemui chiropractor dan ia mengungkapkan kepada saya bahwa masalah saya itu bukanlah otot saya tidak cukup kuat tapi tulang saya tidak mampu mendukung pertumbuhan tubuh saya dan yang saya butuhkan bukanlah lebih banyak latihan, tetapi lebih banyak kalsium.

 

 

Ada disiplin rohani yang bertindak seperti seorang pelatih dan beberapa yang bertindak seperti dokter. Untuk membedakan antara keduanya adalah sangat penting. Jika saya terus melatih tanpa menyembuhkan tubuh saya, tidak akan lama sebelum masalah akan menjadi lebih parah dan lebih besar. Ini adalah kenyataan yang dialami pemazmur dalam mazmur ini. Mazmur ini ditulis oleh salah satu dari anak-anak Korah. Kita tidak memiliki banyak informasi tentang penulis mazmur ini selain fakta bahwa anak-anak Korah adalah sekelompok imam yang dipercaya dengan pelayanan bernyanyi. Mereka seperti pemimpin pujian dan penyanyi yang anda lihat hari ini.

Mazmur ini dimulai dengan pernyataan putus asa. “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.” Saya kira anda dapat mengubah pernyataan ini menjadi pick up line. ‘Sayang, aku merindukanmu seperti rusa merindukan air.’ Tetapi jika anda memperhatikan dengan seksama, ini bukan pernyataan lucu untuk memberitahu orang lain bahwa anda merindukan mereka. Ini adalah jeritan keputus asaan. Apakah anda pernah mengalami kehausan di bawah panas matahari di timur tengah, mencari air namun tidak menemukannya? Ini sangatlah menyakitkan! Dan ini adalah apa yang dialami pemazmur. Dia berada dalam kesakitan dan kesengsaraan yang luar biasa. Mengapa? Karena “jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup.” Dengan kata lain, ia ingin mengalami Tuhan, tetapi dia tidak bisa.

Ini bukan berarti bahwa ia berhenti percaya pada Tuhan tapi dia tidak bisa merasakan Tuhan. Dia kehilangan pengalaman relasional dangan Allah. Pikiran tentang Tuhan yang memberikan ketenaggan dan menguatkan dia sudah tidak ada lagi. Ia kehilangan realitas Allah, bukan kepercayaan kepada Tuhan. Dr. Martyn Lloyd Jones menyebutnya sebagai ‘spiritual depression.’ Ada saat-saat dalam kitab Mazmur bahwa hal itu terjadi karena rasa bersalah. Anda akan menemukan banyak bagian yang mengkomunikasikan dosa sebagai alasan kondisi ini. Daud dalam Mazmur 51 adalah contoh yang baik untuk ini. Mazmur 51 ditulis dari keputus asaan dan pertobatan hati Daud untuk dosa yang dilakukan sewaktu dia tidur dengan Beersheba dan membunuh Uria. Tapi tidak dengan Mazmur 42. Anda tidak menemukan alasan di mazmur yang menunjukkan dosa sebagai alasan terhadap kondisi yang dia alami.

Kecenderungan kita dalam depresi rohani adalah mencari apa yang salah. Kita hidup dengan asumsi bahwa segala sesuatu akan berjalan dengan baik sewaktu kita mengikuti rutinitas kita sehari hari. Jadi ketika kita bertemu orang yang mengalami spiritual depression, kita akan mengajukan pertanyaan seperti: “Apakah kamu berdoa? Apakah kamu membaca Alkitab? Apakah kamu puasa? Apakah kamu sudah melayani? Oh kamu belum. Itu mungkin sebabnya. Mari pelayanan sekarang. Tim perlengkapan malam ini setelah ibadah!” Tapi itu tidak terjadi dalam Mazmur ini. Spiritual depression dapat terjadi bahkan jika kita melakukan segala sesuatu dengan benar. Spiritual depression akan terjadi pada semua orang. Jika anda belum mengalaminya, puji Tuhan. Ini kemungkinan besar berarti anda baru saja menjadi seorang Kristen tidak lama. Atau anda bukan orang Kristen sama sekali. Kita perlu mengetahui bagaimana menangani depresi rohani karena kita semua pasti akan mengalaminya. Untuk bertindak seolah-olah tidak ada apa-apa yang terjadi dan terus menekankan pada disiplin sehari-hari kita dapat mengakibatkan bahaya yang lebih besar. Contoh: Seorang pria yang sakit yang mengabaikan penyakitnya dan terus melakukan pekerjaannya. Apa yang akan terjadi? Dia bisa berakhir di rumah sakit. Itu sebabnya kita perlu tahu bagaimana menangani spiritual depression.

 

 

Meskipun tidak eksplisit, ada beberapa kondisi dalam mazmur ini yang tampaknya berhubungan dengan depresi rohani pemazmur.

  • Perubahan komunitas – Kita bisa melihat dari ayat 5 bahwa pemazmur dulu tinggal di dekat kuil di bagian selatan Yehuda dan ia biasa datang untuk menyembah di kuil. Tapi untuk beberapa alasan yang tidak diketahui, ayat 7 mengatakan kepada kita bahwa dia sekarang berada di tanah Jordan, yang terletak di wilayah utara Yehuda, jauh dari kuil. Ada perbedaan antara ibadah pribadi dan ibadah bersama-sama dan kita perlu keduanya. Kita hidup dalam budaya yang sangat individualistis yang percaya bahwa kita dapat bertumbuh sendiri. Tentu kita bisa. Saudara dan saya dapat bertumbuh melalui keintiman pribadi kita dengan Allah. Alkitab mengajarkan pentingnya ibadah pribadi. Di saat-saat inilah kita mengenal Kristus dengan intim dan secara pribadi. Anda tidak bisa mengenal seseorang secara pribadi sewaktu anada pergi rame-rame. Anda bisa mengenal mereka secara pribadi ketika anda menghabiskan waktu berdua. Tapi itu tidak berarti anda mengabaikan ibadah bersama-sama. Kita diciptakan untuk bertumbuh bersama dalam komunitas. Itulah mengapa Allah menunjuk banyak festival dan perayaan di Perjanjian Lama. Tujuan dari ibadah bersama-sama adalah untuk semua umat Allah untuk datang bersama-sama dan memperkuat, mendorong, mendukung dan menegur satu sama lain. Kita perlu ibadah pribadi dan ibadah bersama-sama.

 

  • Situasi yang tidak diharapkan – Salah satu alasan yang kita lihat dalam mazmur ini di balik depresi pemazmur adalah ejekan orang-orang. Kita membaca dalam ayat 4 dan ayat 11 di mana orang menanyakan, “Di mana Allahmu?” Kita tidak tahu apa yang terjadi tapi kita mengetahui dari ayat 10 bahwa hal ini sangat pribadi untuk pemazmur – Aku berkata kepada Allah, gunung batuku: “Mengapa Engkau melupakan aku? Mengapa aku harus hidup berkabung di bawah impitan musuh?” Kita tidak bertanya kepada Tuhan pertanyaan ini kecuali sesuatu yang terjadi dalam keadaan kita yang tampaknya tidak cocok dengan karakter Allah. Ini adalah jenis pertanyaan yang ditanyakan ketika hal-hal buruk terjadi pada orang baik. Ini terlihat pada orang-orang di sekelilingnya seakan-akan Allah telah meninggalkan dia. Dan pemazmur merasakan hal yang sama. Contoh: Doa yang tidak terjawab. Amsal 13: 12a – Harapan yang tertunda menyedihkan hati.

 

  • Penurunan kesehatan fisik – Anda bisa melihat tanda-tanda ini dalam ayat 4 – “Air mataku menjadi makananku siang dan malam.” Dengan kata lain, ia tidak tidur atau makan. Air mata adalah makanan dan air matanya menjadi tidurnya. Kedengarannya seperti anda ketika Anda patah hati? Kita tidak bisa mengambil assumsi bahwa pemazmur sedang patah hati tapi hal itu mungkin. Situasi yang tidak diharapkan – dia mengatakan tidak. Penurunan kesehatan – anda terus menangis dan anda tidak punya nafsu makan dan tidak dapat tidur. Perubahan komunitas – anda menghindari pergi ke gereja untuk pergi sejauh mungkin dari dirinya dengan harapan bahwa dia menyadari kehilangan anda dan mencari anda. Jangan mengangapnya terlalu serius. Ini hanya hipotesis liar saya. Kenyataannya adalah kesehatan fisik dan dan kesehatan rohani anda lebih terhubung daripada yang anda kira. 

 

Contoh: Beberapa bulan yang lalu saya berbicara dengan seorang teman dan dia mengatakan kepada saya bahwa ketika ia exercise secara teratur dan menjaga dirinya fit, itu jauh lebih mudah baginya menemukan sukacita di dalam Tuhan. Dan saya mulai berpikir bahwa itu benar bagi saya juga. Setiap kali saya secara konsisten tidur kurang dari 7 jam, saya menemukan diri saya menjadi marah dengan mudah. Hal Ini mempengaruhi emosi saya dan cepat atau lambat mempengaruhi kesehatan rohani saya.

Alkitab mengajarkan kita bahwa kesehatan fisik, kesehatan emosional dan spiritual kita semua terhubung. Alkitab mengatakan bahwa kita memiliki aspek emosional jadi kita perlu komunitas. Kita juga memiliki aspek fisik sehingga kita membutuhkan makanan dan istirahat. Tapi kita juga memiliki aspek spiritual sehingga kita perlu kebenaran. Seorang Kristen harus memiliki ketiganya dengan seimbang, bukan satu lebih dari yang lain.

 

 

Jadi bagaimana kita berurusan dengan depresi rohani? Ada lima langkah yang dapat kita pelajari dari pemazmur tentang bagaimana menangani masalah ini. Empat dari langkah ini eksplisit dalam teks dan salah satunya adalah implisit tapi hal inilah yang paling penting. Langkah-langkah ini tidak ditulis dengan berurut dalams teks. Mereka semua berantakan. Anda sangat mengerti hal ini. Ketika teman anda menelfon anda untuk memberitahu anda bahwa mereka baru saja putus, cerita-cerita mereka semua berantakan. Mereka tidak pernah memberitahu anda secara kronologis. Jadi dalam hal ini, kita juga bisa merasakan keputusasaan pemazmur hanya dengan struktur dari mazmur yang dia tulis. Mazmur ini memiliki perasaan dan struktur yang sangat berbeda dengan Mazmur 23. Tapi saya akan memberikan langkah-langkah dalam urutan kejadian yang saya lihat.

 

 

1. Mencurahkan jiwa anda. – 42:5 – Inilah yang hendak kuingat, sementara jiwaku gundah gulana. (These things I remember, as I pour out my soul – V.4). Para wanita, anda adalah seorang yang ahli dalam hal ini. Bahkan, anda tidak perlu saya untuk memberitahu anda tentang ini. Hal pertama yang anda lakukan ketika sesuatu yang buruk terjadi adalah menelfon semua teman anda (berlebihan). Tidak ada yang salah dengan itu dan itu sebabnya kita perlu komunitas. Tetapi di atas semua itu, kita perlu mencurahkan jiwa kita kepada Allah. Kaum pria, ini adalah sesuatu yang perlu kita pelajari. Hal ini tidak datang secara alamiah bagi kita. Kita adalah orang yang suka memperbaiki dari sananya. Kita tidak suka membicarakan sesuatu. Kita ingin memperbaikinya langsung. Jadi yang saya biasa lakukan ketika saya mengalami depresi ini adalah saya akan melihat spiritual to-do list saya dan pastikan semua isi daftar terpenuhi.

 

Daftar cek spiritual sangat penting untuk melatih anda. Tapi dalam situasi ini, yang anda butuhkan adalah dokter; bukan pelatih. Hal ini membutuhkan anda untuk berhenti dan mulai mencurahkan jiwa anda kepada Tuhan. Dan jangan berpura-pura menjadi super-spiritual ketika anda melakukannya. Apa yang saya sukai tentang mazmur ini adalah mazmur ini penuh dengan kejujuran. Dia tidak berpura-pura seolah-olah dia mengerti segalanya. Sebaliknya ia berkata, “Mengapa Engkau melupakan aku? Mengapa aku harus hidup berkabung di bawah impitan musuh?” Ini adalah teologi yang sangat buruk tapi sangat jujur. ​​Allah tidak takut dengan teologi buruk anda. Ilustrasi: Sebagai seorang pendeta, saya sering mendegar curahan hati anda. Dan kecenderungan alami saya adalah untuk menjadi polisi teologi. “Tuhan selalu adil dan baik. Hanya karena bekas pacar anda meyakiti anda bukan berarti bahwa Allah menyakit anda.” Tapi Tuhan tidak seperti saya. Dia bukan polisi teologi. Dia dapat menerima pertanyaan anda. Dia tidak takut teologi buruk anda. Tapi jangan berhenti di situ.

 

2. Bertanya dan mendengar – 42:6 – Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Pemazmur bertanya pada dirinya sendiri pertanyaan ini. Apa yang dia coba lakukan adalah dia sedang mencoba untuk menganalisis masalah. Dan ketika anda bertanya pada diri sendiri, anda perlu mengambil beberapa waktu untuk mendengarkan jawabannya. Dan ini menyakitkan dan sulit. Dalam lingkungan yang kita hidup, kita memiliki banyak cara untuk mematikan rasa depresi kita untuk sementara. Daripada menghadapi masalah, kita ingin lari ke hal-hal yang berbeda. Contoh: 16 jam drama Korea, pergi keluar dengan teman-teman, belanja, fine dining, dll. Kita tidak merasa nyaman dengan waktu waktu kesendirian di mana kita bertanya pertanyaan sulit kepada diri sendiri dan mulai menganalisa jawabannya. Kemungkinan besar kita akan menemukan bahwa di bawah semua itu yang terjadi adalah harapan kita telah berubah dari Tuhan terhadap sesuatu yang lain. Jawaban pemazmur sepertinya menunjukan bahwa itulah yang terjadi. Dia mengatakan, “Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” Jadi ada pergeseran harapan yang terjadi di balik depresi ini. Tapi sampai kita mengambil waktu untuk bertanya dan mendengarkan jawabannya, kita tidak akan pernah tahu.

 

3. Ingat – 42:7-9 – Jiwaku tertekan dalam diriku, sebab itu aku teringat kepada-Mu dari tanah sungai Yordan dan pegunungan Hermon, dari gunung Mizar. Samudera raya berpanggil-panggilan dengan deru air terjun-Mu; segala gelora dan gelombang-Mu bergulung melingkupi aku. Tuhan memerintahkan kasih setia-Nya pada siang hari, dan pada malam hari aku menyanyikan nyanyian, suatu doa kepada Allah kehidupanku. Dua hal yang pemazmur ingat – Kedaulatan Allah dan kasih setia-Nya. Bahkan saat ia mencurahkan isi hatinya dan mempertanyakan Tuhan, ia ingat bahwa Allah berdaulat. Dia menyebut masalah sebagai “air terjun-Mu; gelora dan gelombang-Mu.” Dia mengingatkan dirinya sendiri bahwa meskipun dia merasa dilupakan, Tuhan tidak pernah kehilangan kendali sedetikpun. “Aku tahu apa yang perasaanku katakan kepadaku, tapi aku juga ingat kebenaran tentang Allah.” Pemazmur juga mengingatkan dirinya akan kasih setia Allah. “Tuhan memerintahkan kasih setia-Nya pada siang hari, dan pada malam hari aku menyanyikan nyanyian.” Kata kasih setia berasal dari kata Ibrani ‘hesed’ yang berarti kasih tanpa syarat, kasih setia, cinta kasih dan kasih karunia. Jadi pemazmur mengingatkan kepada dirinya dua kebenaran yang besar tentang Tuhan – Dia selalu pegang kontrol dan Dia selalu baik.

 

4. Berkotbah kepada diri sendiri – 42:6,12 – Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! Ini adalah seni yang hilang yang kita semua perlu pelajari. Ada saat-saat dimana kita harus ‘diam dan dengarkan’ jiwa kita sewaktu kita menganalisa masalah. Tapi ada juga waktu untuk memberitahu jiwa kita untuk ‘DIAM DAN DENGARKAN.’ Yang saya maksud adalah ada waktu bagi kita untuk mendengarkan apa yang jiwa kita katakan tentang kondisi kita tapi kemudian ada juga waktu untuk berkhotbah kepada jiwa kita. Tapi sebelum kita bisa berkotbah kepada jiwa kita, kita perlu mendengarkan. Dibutuhkan banyak mendengarkan untuk menjadi pengkhotbah yang baik. Tanpa terlebih dahulu melakukan pekerjaan rumah kita untuk mendengarkan, kita tidak akan mempunyai sesuatu yang berarti untuk dikotbahkan.

 

Ilustrasi: Sebagai seorang pengkhotbah, salah satu keterampilan yang paling penting yang saya pelajari untuk ditingkatkan dalam persiapan khotbah saya adalah seni mendengarkan. Saya harus membuka telinga dan pikiran saya lebar untuk mendengarkan masalah, kelemahan dan kekuatan orang-orang sebelum saya bisa menyampaikan pesan yang tepat untuk anda semua. Jika tidak khotbah saya akan tidak relevan. Saya percaya Alkitab selalu relevan. Alkitab tidak pernah ketingalan jaman dan tidak akan pernah terjadi. Tapi saya perlu belajar bagaimana cara untuk memberitakan kebenaran Alkitab dengan cara yang memenuhi kebutuhan anda. Dan untuk itu saya harus menjadi pendengar yang baik. KM saya membantu saya untuk menjadi seorang pengkhotbah yang lebih baik karena saya bisa mendengar mereka mencurahkan jiwa mereka setiap minggu.

Jadi cara yang sama dapat diterapkan untuk berkotbah kepada diri anda sendiri. Anda perlu pertama mendengarkan jiwa anda dengan baik, sebelum anda mengingat kedaulatan dan kasih karunia Allah kita dan mulai berkhotbah kepada diri sendiri. Daripada membiarkan depresi anda untuk berbicara kepada anda, mulai mengatakan kepada diri sendiri, “Self, tutup mulut! Kamu sudah memiliki giliranmu dan mulai sekarang giliranku. Aku akan berbicara kepadamu dan kamu akan mendengarkanku!”

 

5. Lihat Yesus – 42:2-3 – “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?” Point terakhir ini tidak eksplisit namun ini yang paling penting bagi kita. Ini adalah satu kenyataan yang kita miliki namun pemazmur tidak memilikinya waktu itu. Dia mengatakan bahwa jiwanya haus. Tidak hanya haus tetapi sangat amat haus. Kalau rasa hausnya tidak dipuaskan, maka ia akan mati. Tapi apa yang menakjubkan tentang kerinduannya adalah bahwa ia tidak merindukan keadaannya untuk menjadi lebih baik. Dia juga tidak merindukan hal-hal untuk bekerja dengan cara yang ia harapkan dan inginkan. Dia tidak merindukan untuk melarikan diri dari musuh-musuhnya. Yang dia katakana adalah dia sangat haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup.

Tidaklah salah untuk berdoa kepada Tuhan untuk bantuan, jawaban, dan campur tangan-Nya dalam keadaan kita. Tapi pada akhirnya, hal itu bukanlah yang utama. Yang anda paling butuhkan adalah Allah. Yang jiwa anda hauskan adalah pengalaman dengan Allah yang hidup yang memuaskan anda dengan kasih-Nya setiap pagi.

Ketika pemazmur bertanya, “Bilakah aku boleh datang melihat Allah?” Secara harfiah berarti ‘kapankah aku bisa datang dan melihat wajah Allah?’ Pemazmur menginginkan hal ini. Tapi hari ini, kita memiliki jawabannya. Dengarkan apa yang dikatakan Paulus dalam 2 Korintus 4:6 – “Sebab Allah yang telah berfirman: “Dari dalam gelap akan terbit terang!”, Ia juga akan membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.” Jadi ketika kita tergoda untuk merasa seperti kita terlupakan, yang harus kita lakukan adalah melihat satu-satunya yang benar benar dilupakan. Dia berteriak di kayu salib, “Ya Tuhan, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Pemazmur memahami bahwa meskipun ia mungkin merasa dilupakan, ia tidak pernah dilupakan. Tapi Yesus di kayu salib bukan hanya merasa dilupakan Tuhan melainkan Ia benar benar kehilangan Allah! Kristus mengalami pengabaian yang anda dan saya tidak akan pernah alami jika kita percaya kepada-Nya. Jadi lihat kepada Yesus dan anda akan menemukan bahwa tidak ada yang dapat memisahkan anda dari kasih-Nya.

 

Roma 8:35-39 – “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan, atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya mau sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas,maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”

 

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.