Memilih Atas Dasar Iman

“Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. Ia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah. Karena iman maka ia telah meninggalkan Mesir dengan tidak takut akan murka raja. Ia bertahan sama seperti ia melihat apa yang tidak kelihatan.” Ibrani 11:24-27

Memilih itu adalah satu hal yang sulit dan banyak dari kita yang berusaha untuk menghindarinya. Dalam hal iman, untuk percaya kepada Tuhan Yesus kita juga harus memilih.

Musa menunjukkan kepada kita bahwa memilih Tuhan berarti harus meninggalkan banyak hal-hal yang enak di dunia ini. Sebab jika kita memilih Tuhan, banyak hal yang tidak dapat kita nikmati lagi.

Berkata €˜ya€™ kepada Tuhan itu jauh lebih mudah daripada berkata €˜tidak€™ kepada dunia.

Musa membuat pilihannya atas dasar iman. Terjemahan Bahasa Indonesia untuk ayat ke-27 di atas kurang tepat, Musa melihat “Tuhan” yang tidak kelihatan, bukan “apa” yang tidak kelihatan.

Marilah kita bersama-sama melihat 3 hal yang ditinggalkan Musa dalam hidupnya karna memilih Tuhan:

1. He chose his identity in God rather than the identity of Egypt (ayat ke-24) Musa memilih untuk menanggalkan tahta Pangeran Mesir dan memilih untuk menjadi budak. Ia meninggalkan tahta yang paling tinggi dengan yang paling rendah.

“You can€™t be both faithful and popular” John Stott

Kita tidak dapat mengejar popularitas dan setia kepada Tuhan.

“Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.” Yakobus 4:4

Sewaktu Musa memilih Tuhan maka namanya langsung dicoret dari kerajaan Mesir, dan langsung tertulis di kerajaan surga.

2. He chose suffering as God€™s people rather than to enjoy the pleasure of sin (ayat ke-25) Setiap kita tahu bahwa dosa itu nikmat; jika tidak nikmat maka dosa itu bukanlah suatu pencobaan.

Dunia mengajarkan untuk menikmati semuanya sekarang, termasuk dosa, dan tanggung akibatnya nanti.

Namun Musa tahu bahwa harga yang harus bayar karena dosa itu terlalu besar. Untuk itu dia memilih penderitaan bersama dengan Tuhan.

Dosa dapat didefinisikan sebagai berikut, yaitu sewaktu kita memilih kesenangan kita sendiri dari pada kesenangan Tuhan.

“Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamupun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, –karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa–, supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah.” 1 Petrus 4:1-2

3. He chose to esteem the reproach of Christ than the treasures in Egypt (ayat ke-26) Bagi Musa, menjadi miskin karena Kristus itu lebih baik dari pada kaya dalam dunia.

Banyak orang yang mau memilih Tuhan tetapi enggan meinggalkan dunia. Kita tidak dapat mengabdi kepada Tuhan dan dunia; kita harus memilih salah satu.

Apakah sebenarnya yang menuntun Musa sehingga ia dapat memilih pilihan yang begitu sulit?

Iman kepada Tuhan yang tidak kelihatan. “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Ibrani 11:1

Ketahuilah bahwa yang diharapkan dan tidak kelihatan dalam ayat di atas tidak berbicara soal materi atau harta benda dunia, sebab Musa sebagai Pangeran Mesir sudah memiliki semuanya itu. Musa tidak perlu lagi mengimani itu, dia sudah punya semuanya.

Mata Musa hanya tertuju kepada hal-hal yang kekal yang tidak kelihatan dari pada yang kelihatan namun bersifat sementara (ayat ke-27).

“Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” 2 Korintus 4:18

“Moses chose the imperishable, saw the invisible, and did the impossible.” Vince Havner

Tahukah saudara bahwa sewaktu Musa masih kecil Tuhan memilih dia, namun setelah Musa dewasa ia memilih Tuhan. Hari ini Tuhan sudah memilih saudara, apakah saudara sudah memilih Tuhan?

Tags:
No Comments

Post A Comment