Memuji dan Menyembah Dengan Tangan

“Tetapi bila mereka dari kaum-kaum di bumi tidak datang ke Yerusalem untuk sujud menyembah kepada Raja, Tuhan semesta alam, maka kepada mereka tidak akan turun hujan.” Zakharia 14: 17

Apakah penyembahan itu? Bagaimanakan kita menyembah Allah dengan benar? Marilah kita bersama-sama belajar tentang penyembahan dari tokoh-tokoh yang ada di dalam Alkitab.

“Tetapi kata Abram kepada raja negeri Sodom itu: “Aku bersumpah demi Tuhan, Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi..”” (Kejadian 14:22). (Kata €˜bersumpah€™ di sini sebenarnya adalah mengangkat tangan. Baca terjemahan dalam bahasa Inggris). Di saat kita bersumpah, kita mengangkat tangan. Di saat kita memuji dan menyembah Tuhan dengan mengangkat tangan, kita bersumpah kepada-Nya akan apa yang keluar dari mulut kita. Jadi, sewaktu kita menyanyikan “Kudus, Kuduslah Tuhan…” dengan sambil mengangkat tangan, itu mempunyai arti: “Saya bersumpah bahwa Engkau adalah Allah yang Kudus”.
Mengangkat tangan menunjukkan bahwa kita serius dan bersungguh-sungguh.

“Dan katakanlah kepadanya: Beginilah firman Tuhan Allah: Pada hari Aku memilih Israel, Aku bersumpah kepada keturunan kaum Yakub dan menyatakan diri kepada mereka di tanah Mesir; Aku bersumpah kepada mereka: Akulah Tuhan Allahmu!” (Yehezkiel 20:5). (Sekali lagi, kata €˜bersumpah€™ di sini sebenarnya adalah mengangkat tangan). Dengan mengangkat tangan-Nya, Tuhan membuat suatu perjanjian kepada umat-Nya. Begitu juga halnya, jikalau kita menyembah Dia dengan mengangkat tangan, kita membuat suatu perjanjian dengan Tuhan.

Di dalam Mazmur 134:1-3, raja Daud mengajak semua hamba Tuhan yang datang melayani Tuhan pada waktu malam untuk mengangkat tangan ke tempat kudus Tuhan dan memuji Dia. Raja Daud mengerti bahwa melayani Tuhan pada waktu malam hari adalah suatu hal yang melelahkan, namun dia tetap mengajak para hamba Tuhan untuk mengangkat tangan mereka dan memuji Tuhan. Kita diajarkan bahwa penyembahan kepada Tuhan memerlukan suatu pengorbanan. Jangan kita datang kepada Tuhan hanya mengharapkan sesuatu dari-Nya, tetapi datanglah dengan juga memberikan sesuatu kepada-Nya.

Ketauhilah bahwa tangan kita juga adalah suatu alat untuk berperang! “Terpujilah Tuhan, gunung batuku, yang mengajar tanganku untuk bertempur, dan jari-jariku untuk berperang” (Mazmur 144:1). Berperang melawan siapa? Melawan iblis, roh-roh di udara, dan juga segala masalah kita.

Apa yang kita lakukan di dunia, di alam nyata, akan juga mempengaruhi alam Roh. “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga” (Matius 18:18). Apa sebenarnya yang dimaksud oleh ayat ini?

“Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek” (Keluaran 17:11). Musa dapat mengalahkan bangsa Amalek dengan mengangkat tangannya, walaupun ia sendiri, secara pribadi tidak terlibat di dalam peperangan tersebut. (Baca juga 2 Raja-raja 13: 14-19).

“Ia menarik ke atas titik-titik air, dan memekatkan kabut menjadi hujan, yang dicurahkan oleh mendung, dan disiramkan ke atas banyak manusia. Siapa mengerti berkembangnya awan, dan bunyi gemuruh di tempat kediaman-Nya?” (Ayub 36:27-29). Di waktu kita menyembah Tuhan, kita sebenarnya “menguapkan” masalah di dalam hidup kita menjadi awan, yang nantinya akan turun dalam bentuk hujan berkat. Semakin banyak kita memuji dan menyembah Dia, semakin tebal dan gelap awan kita, dan semakin deras juga hujan yang akan turun. Namun perhatikan juga bahwa sebelum turun hujan, akan terjadi mendung dahulu, tidak ada sinar matahari.

Marilah kita semua memuji dan menyembah Tuhan Allah dengan sungguh-sungguh. Bukan hanya dengan mulut kita, tetapi juga dengan tangan kita; dengan bertepuk tangan, serta mengangkatkan tangan kita di saat menyembah-Nya.

Tags:
No Comments

Post A Comment