Mengenal Dia Seperti Dia Mengenal Kita

Sampai kita mencapainya, kita tidak boleh puas Filipi 3:13-14

13 Saudara2 aku sendiri tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah dibelakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang dihadapanku. 14 dan berlari2 kepada tujuan untuk memperoleh hadiah yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

Untuk mengejar tujuan atau panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus:
1. Harus sadar bahwa kita belum mencapai atau memperolehnya.
Kita belum sempurna, harus berubah dan bertumbuh. Paulus yang luar biasa pelayanannya, menjelang akhir hidupnya ia berkata: “aku tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya” Ia tidak puas sampai ia memperoleh hadiah yaitu panggilan surgawi dari Allah. Musa jemaatnya 3 juta jiwa disertai tanda-tanda mujizat luar biasa, yang tidak pernah dialami oleh orang lain dalam Perjanjian lama. Allah berkata Musa, orang yang paling lembut hatinya (sangat mudah diajar). Ia tidak menganggap dirinya telah mencapainya tapi diapun terus mengejar untuk memperoleh panggilan surgawi dari Allah. Untuk dapat berubah dan bertumbuh, kita harus mau belajar dan diajar.

2. Melupakan segala sesuatu (kemenangan dan kekalahan) di masa lampau! Yesaya 43:18-19 18 FirmanNya: “Janganlah ingat hal-hal yang dahulu dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! 19 Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.” Banyak orang berkata bahwa kegagalan, penolakan atau dosa di masa lalu bila terus diingat-ingat akan menjadi penghalang untuk bertumbuh dalam Kristus Yesus. Namun demikian kemenangan di masa lampau juga akan menghalangi kita. Bila kita percaya dan yakin akan diri kita sendiri dan mulai bergantung pada keberhasilan di masa lampau untuk mendukung dan menguatkan, kita akan kehilangan apa yang Allah sediakan sekarang ini. Ini yang Allah maksudkan dalam Yesaya 43. Hal-hal terdahulu datang dari Dia. Untuk mencapai tujuan panggilan surgawi, kita harus siap meninggalkan cara-cara yang Allah pakai melalui kita di masa lampau. 1 Korintus 13:11-12. 11 Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. 12 Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.” Seorang anak tidak berbuat kesalahan. Ia hanya belum dewasa. Ketika saya berumur 5 tahun, dunia mainan saya adalah bermain boneka. Saya melihat hidup ini dengan kacamata gelap. Saya belum dapat melihat sesuatu dengan jelas karena saya belum dewasa benar untuk menanganinya. Ketika saya berumur 18 tahun, mainan boneka2an adalah perkara2 di masa lalu. Sekarang setelah melewati proses pendewasaan selama bertahun2, saya melihat kehidupan dengan kacamata yang tidak begitu gelap, meskipun belum jelas benar. Tingkat pengertian saya telah bertumbuh. Bila seseorang berumur 18 tahun bertingkah laku seperti anak berusia 5 tahun, itu tidak normal. Sementara kita bertumbuh, kita meninggalkan hal-hal di masa lampau, cara-cara dan pengertian yang ke kanak-kanakan. Sama seperti kita bertumbuh dalam pengenalan akan Allah, sementara kita berjalan melewati kehidupan, kita harus meninggalkan hal-hal di masa lampau yang belum dewasa. Paulus berkata sekarang kita melihat kemuliaan Allah secara samar, namun bila kita mengejar panggilan surgawi, mengenal Dia seperti Dia mengenal kita!

Filipi 3:10 “Yang kukehendaki adalah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dalam penderitaanNya, dimana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematianNya, “Tujuan panggilan surgawi adalah menjadi serupa dengan anakNya, Yesus Kristus, kita tidak boleh puas dan harus terus mencari hatinya Allah.

3. Berlari2 Terus Kepada Tujuan. Akan ada halangan, tekanan, perlawanan untuk mengenal Dia. Ancaman terbesar setan adalah bila seseorang menjadi serupa dengan Yesus Kristus. Kuasa gelap akan menyerang lebih dahsyat. Bila seseorang diubahkan menjadi serupa dengan Kristus, ia tidak lagi hidup bagi dirinya sendiri, namun untuk satu Pribadi yang hidup didalam dia. Kemudian Ia masuk ke dalam tingkat kehidupan yang mulia yaitu mengenal jalan-jalan Allah. Itulah sebabnya Paulus mengatakan bahwa supaya dapat mengenal Dia, kita harus bersekutu dalam penderitaanNya. Penderitaan daging akan membawa kematian pada diri sendiri yang akan menghasilkan kebangkitan hidup.

1 Petrus 4:1-2 1 “Jadi karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamupun harus juga mempersenjatai dengan pikiran yang demikian karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa. 2 Supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia tetapi menurut kehendak Allah.”
Mereka yang telah menderita penderitaan badani telah berhenti berbuat dosa. Mereka adalah orang2 yang memiliki karakter Kristus. Penderitaan karena Kristus bukanlah mati karena sakit, kekurangan uang untuk bayar rekening, tidak bisa makan sehingga Allah digerakkan oleh pengorbanan anda. Penderitaan karena ketaatan, mengikuti cara2 Allah pada saat pikiran, emosi atau panca indera mendorong untuk menuju ke jalan yang mudah dan menyenangkan.

Waktu Petrus tidak sependapat dengan Yesus mengenai kematian dan penguburanNya. Matius 16:21-23 “Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-muridNya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaann dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus kesamping dan menegur Dia, katanya “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau. Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “Enyahlah iblis, engkau suatu batu sandungan bagiKu sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.

Yesus memberitahu murid-muridNya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem, menderita, mati dan bangkit pada hari ketiga. Petrus tidak mendengar tentang “Kebangkitan” yang Yesus katakan, bila ia mendengar tentu tidak gelisah. Yesus terpaksa mengatakan bahwa jalan pikiran Petrus sama dengan pikiran orang dunia. untuk mencari kepentingan sendiri. Kerajaan Surga berbeda. Jadi untuk melakukan kehendak Allah, kita harus melawan arus manusia meskipun berarti kita berlawanan dengan seorang “saudara dalam Tuhan” yang pikirannya belum diperbarui. Petrus bukan orang jahat namun cara berpikirnya saat itu mengikuti cara berpikir dunia, bukan Kristus.
Musa menyuruh 12 pemimpin yang mewakili tiap suku Israel, diantaranya Yosua dan Kaleb. Ketika kembali dari pengintaian, mereka memberikan laporan yang bertentangan mengenai apa yang mereka lihat. 10 orang berkata: “…bangsa yang diam di negeri itu kuat, kotanya berkubu, keturunan orang Enak kami lihat disana, kita tidak dapat maju menyerang karena mereka lebih kuat dari kita.” mereka menyampaikan kabar buruk tentang negeri yang diintai. (Bilangan 13:28-32). Kaleb dan Yosua menyampaikan laporan yang berbeda “…kemudian Kaleb mencoba menentramkan hati bangsa itu dihadapan Musa, katanya”Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu sebab kita pasti akan mengalahkannya, jika Tuhan berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah susu dan madunya. Hanya janganlah memberontak kepada Tuhan dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka sedang Tuhan menyertai kita, janganlah takut kepada mereka.”(Bilangan 13:30; 14:8-9). Ke
dua belas pengintai itu pergi bersama2 dan melihat hal yang sama. Semua melihat tanah, kota dan orang yang sama. Mengapa hasilnya berbeda? Yosua dan Kaleb memiliki roh yang berbeda dan mereka mengikuti Dia dengan sepenuh hati (Bilangan 14:24). Dengan kata lain, mereka tidak mengikuti keinginan manusia, melainkan keinginan Allah. Inilah yang membedakannya. Hidup mereka dikuasai oleh apa yang mempengaruhi mereka bukan oleh Kerajaan Allah. Hal yang sama ada pada bangsa Israel lainnya “…ah sekiranya kami mati di tanah Mesir atau dipadang gurun ini! Mengapa Tuhan membawa kami ke negeri ini supaya kami tewas oleh pedang, istri serta anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir.” (Bilangan 14:2-3). Mereka lebih mementingkan apa yang lebih baik bagi mereka daripada apa yang diinginkan Allah. Akibatnya mereka tidak pernah melihat Kanaan. Mereka tidak pernah menggenapi panggilan Allah dalam hidup mereka. Yosua & Kaleb TERUS MENDESAK MAJU. Lalu segenap umat mengancam hendak melontari kedua orang itu dengan batu (Bilangan 14:10). Penderitaan datang dari saudara-saudara mereka yang pikirannya belum diperbarui dan berpikir seperti dunia. Paulus mengatakan bahwa harus melupakan apa yang dibelakang dan TERUS MAJU.mencapai sasaran, yaitu panggilan surgawi dari Allah. Bangsa Israel mengingat kembali masa ketika mereka dahulu di Mesir, mereka dipenuhi makanan, ada keamanan, meskipun menjadi budak, yang mereka hadapi sekarang lebih sulit daripada perbudakan yang dulu mereka alami.

Ini kenyataan menyedihkan yang terjadi masa ini. Ada banyak orang lebih senang berada dalam perbudakan daripada BERLARI-LARI MAJU MENGEJAR dan masuk rencana Allah. Mereka lebih takut akan adanya perubahan daripada suasana yang menekan yang mereka alami sekarang ini. Yang lain puas dengan apa yang Allah lakukan di masa lalu dan tidak mau menghadapi tantangan baru. Kehendak Allah akan membawa kehidupan dan kebebasan. Ini adalah satu-satunya jalan menuju kepuasan. Namun mencapai panggilan surgawi itu terlihat mustahil menurut pandangan jasmani. Allah berkata bahwa Ia akan melakukan sesuatu yang baru, namun itu akan muncul di padang belantara. Dengan kata lain sementara kita mentaati apa yang diinginkan Roh Allah, kita akan dipimpin masuk ke padang belantara yang kelihatannya mustahil. Namun apa yang mustahil bagi manusia, tidak mustahil bagi Allah. Jangan berhenti mencari Allah bila halangan datang. Ia tidak akan memimpin melewati tempat yang mudah sebab semakin besar peperangan yang terjadi, makin besar kemenangan yang diperoleh. Bila kita mencintai hidup, kita akan menyerah ketika berada di tempat yang sukar, kita akan berhenti mencari dan tinggal dalam hidup yang tidak berbuah. Satu2nya cara untuk bertahan menghadapi apa yang akan datang adalah dengan kehilangan hidup kita.
Wahyu 12: 11 Dan mereka mengalahkan dia (iblis) dengan darah Anak Domba dan perkataan kesaksian mereka karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai kedalam alam maut.” Matius 16:25 Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya. Tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.”

Mereka yang lebih mengasihi diri sendiri daripada kehendak Allah, akan kehilangan hidup mereka.

Tags:
No Comments

Post A Comment