Opposite Spirits (Roh yang berlawanan)

1. Kenapa perluasaan Kerajaan Allah sampai hari ini belum mendesak kearah teritori musuh dengan signifikan? Apa yg salah? Apakah strategi gereja salah dalam pengembangan perluasaan Kerajaan Allah sehingga kurang kekuatan signifikan mendesak musuh ke pojokan?

2. Kenapa juga pergerakan penginjilan di seluruh di dunia dimobilisasi seperti apapun tetapi ternyata hanya sekedar gerakan yang belum mengubah wajah dunia. Bagaimana dengan penginjilan? Kemungkinan besar juga belum mencakup kingdom strategy.

3. Kenapa anda konflik dalam hidupmu pribadi, rumah tanggamu dan seluruh lingkunganmu dan tidak selesai-selesai juga?

Ketiga pertanyaan diatas akan dijawab dengan pembahasan berikut.

Lukas 9:51-56 menceritakan tentang sikap Yesus terhadap orang Samaria. Dalam sejarah, orang Yahudi dan Samaria berkonflik. Orang Yahudi menghindari orang Samaria, bangsa yang dianggap kafir. Ketika Yesus ingin turun dari utara ke selatan menuju Yerusalem, Yesus mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka masuk ke desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi Yesus. Tetapi orang2 Samaria tidak mau menerima Dia. Yakobus dan Yohanes berkata, “Tuhan, apakah Engkau mau supaya kami menyuruh api dari langit turun untuk membinasakan mereka?” Orang Samaria menolak mereka dan mereka balas menolak orang Samaria. Marah dibalas marah. Roh yang sama dikenakan di konflik ini. Respon Yesus atas pembelaan murid-muridNya adalah menegur mereka dengan keras. Dari terjemahan bahasa aslinya ada satu lagi kalimat tambahan pada akhir ayat 55 yang terjemahan bebasnya kira-kira seperti ini, “Dari roh macam apa kamu berasal?”

Di Lukas 10:1-3 diceritakan kemudiaan Yesus mengutus 70 orang muridnya berdua-dua mendahuluiNYA ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungiNYA. Yesus berpesan, “Tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit, karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian supaya mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” “Pergilah, sesungguhnya aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah2 serigala.” Ini sepertinya gerakan bunuh diri. Buat Yesus, kalkulasi kemenangan bukan kalkulasi fisik. “Seperti anak domba” di sini berbicara tentang karakter, watak dan kepribadiaan anak domba ke tengah2 kepribadian serigala. Kalau Alkitab berbicara tentang anak domba selalu artinya adalah lemah lembut. Definisi lemah lembut adalah kemampuan untuk tidak membalas dan mudah berubah hatinya terhadap kebenaran. Sedangkan serigala melambangkan penyerangan. Inilah strategi Kerajaan. Apa yg sepertinya lemah justru disanalah letak kekuatannya.

Gambaran domba itu sangat bergantung kepada gembala karena domba sangat lemah. Jadi kemenangan domba terhadap serigala ditentukan ketergantungan domba pada gembala. Mari kita kaji gambaran domba lebih dalam lagi.

– Domba tidak punya senjata. Domba sangat pasrah terhadap serangan musuh
– Domba mempunyai pandangan yang terbatas, sekian meter di depan sudah tidak kelihatan. Kalau Tuhan sudah berkata kita domba itu artinya kita tidak bisa apa-apa kecuali bergantung kepada gembala yang memegang tongkat gembala. Karena pandangannya rabun, domba sering sesat. Jadi arah saja sangat tergantung kepada gembala.
– Domba tidak bisa minum di air yg bergerak. Domba adalah perenang yang jelek karena itu takut air. Salah satu tugas gembala adalah menyediakan tempat yg bisa berair tenang. Mazmur Daud berkata “pimpin ke air yang tenang”.
– Domba tidak tahan stress lama-lama. Di padang Inggris, kalau domba terpeleset jatuh dia susah bangun sendiri. Kalau tidak cepat dibangunkan, dalam 4 jam bisa mati karena stress. Betapa lemahnya domba. Kalau Tuhan berbicara kita adalah domba yang diutus ke tengah serigala, memang peperangan itu milik Tuhan, sang gembala!

Kualitas dari roh, karakter, kepribadian anak domba dapat kita lihat lebih jauh di Matius 5:38-40 yang juga merefleksikan kultur kerajaan, membalas kejahatan dengan kebaikan. Banyak anak Tuhan yang lebih jago membalas daripada pasrah. Akhirnya peperangan kita tidak signifikan karena kingdom strategy nya tidak jalan, kultur kerajaannya tidak dijalankan dimana ada nilai-nilai kemenangan Tuhan.

Ayat 41 berkata, “Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.” Background sejarah menceritakan bahwa ada kesepakatan antara orang2 Yahudi dengan Romawi yang mana orang2 Yahudi harus membantu orang2 Romawi sepanjang satu mil dengan beban2 mereka. Banyak orang2 Romawi yang disentuh ketika orang2 Yahudi pengikut2 Kristus menjalankan perintah dua mil ini. Nilai2 radikal semacam inilah yang menentukaan seberapa besar pengaruh kekristenan kita di lingkungan kita. Kita harus menjadi sangat berbeda untuk menjadi sangat berpengaruh. Alkitab mencatat perumpamaan-perumpamaan dengan keperbedaan yang ekstrim €˜kambing-domba€™, €˜gelap-terang€™, €˜gandum-ilalang€™. Jadilah sangat terang di tempat yang sangat gelap. Tingkat keperbedaan kita dengan dunia merupakan kekuataan karena semakin berbeda dengan dunia semakin kita punya peluang untuk memenangkan dunia. Ini perbandingan lurus/linear. Ini kingdom strategy.

Di Sabah Malaysia, perkembangan pekerjaan misi lambat karena diikat oleh roh kedekut (pelit). Ketika komunitas pelit ini dilawan oleh komunitas memberi, revival terjadi dan pekerjaan misi di bulan2 berikutnya mengalami kemajuaan. Untuk menguduskan kota kita, kita harus punya roh yang berlawanan, tidak bisa hanya dengan menengking saja. Kita tidak akan membuat musuh takut dan dunia tertarik kalau kita sama dengan mereka.

Ayat 42-44 kembali mengulang pentingnya hal ini, “Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu. Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”

Konflik dalam hidup kita tidak pernah selesai karena saling balas, lebih menyerupai serigala daripada anak domba. Roma 12:14 “Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!” Ayat 17 juga berbicara tentang roh yang berlawanan, “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!” Ayat 19 selanjutnya berkata, “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.” Kalau kita dijahati kita membalas, maka kita mengambil haknya Tuhan dan pembalasan kita itu tidak efektif dan efisien karena pembalasan akan terus menerus berlanjut. Kalau Tuhan yang membalas ujungnya pasti pertobatan. Benci itu lawannya kasih. Kalau anda tidak mengenakan roh yang berlawanan, anda akan tetap jalan di tempat.

“Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.” (Roma 12:20) Kepala merupakan lambang pemikiran. Ketika kita dijahati musuh malah membalas baik, itu seperti kita menumpukkan bara api yang menghanguskan pemikiran. Ayat 21 menyerukan, “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!

Ada sebuah traktat dari Amerika yang sangat berkesan bagi saya yang bergambar seekor anak domba berjalan di ujung puncak bukit . Anak domba ini tertimpa sinar di badan sebelah kiri. Bayangan domba ini terpantul di gunung di sebelahnya dan bayangan anak domba yang kelu, lembut dan lemah ini adalah seekor singa perkasa yang berdiri! Traktat ini memberikan penguatan kepada saya tentang kebenaran ini. Ternyata karakter anak domba itu rahasia kuasa singa. Kita tidak punya pengurapan singa kalau kita tidak berjalan dalam hidup ini dengan karakter seperti anak domba. Kalau kita ingin pengurapan, kekuatan, kuasa, dan kejayaan ? kalau mau jadi singa harus lewat domba. Yesus mendapatkan julukan singa dari yehuda setelah dia dikorbankan sebagai domba. Kehidupan Kristus dengan seluruh karakternya adalah kunci untuk menarik kuasaNYA.

Tags:
No Comments

Post A Comment