Receiving Favour of God

Di dalam injil Yohanes pasal ke-4, dituliskan tentang perbincangan Tuhan Yesus dengan seorang perempuan Samaria.

“Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: “Berilah Aku minum.”” Yohanes 4:7

Permintaan Yesus menarik perhatian perempuan Samaria ini. Namun, marilah kita melihat bagaimana respon perempuan Samaria ini yang membuat perbedaan. Setiap orang dapat diberikan persoalan yang sama tetapi memberikan respon yang berbeda-beda.

Ada suatu cerita di mana ada 2 orang manager pabrik sepatu yang dikirim ke suatu pulau untuk memantau orang-orang di dalam pulau tersebut. Ketika manager yang pertama sampai di pulau tersebut, dia langsung menelepon bos nya dan menganjurkan supaya rencana pengiriman kontener sepatu dibatalkan. Dia berkata kepada bos-nya bahwa tidak ada seorang pun di pulau itu yang memakai sepatu ataupun sendal. Lalu datanglah manager yang kedua. Manager ini juga melihat pasar yang sama, yaitu tidak ada seorang pun yang memakai sepatu atau sendal di sana. Namun, respon manager yang kedua ini sangat berbeda dengan manager yang pertama. Ia dengan penuh semangkan langsung menelepon bos-nya untuk segera mengirim kontener sepatu yang banyak, katanya kepada bos: “Lekas kirim sepatu yang banyak sebab di sini belum ada yang punya sepatu!”

Bagaimana kita dapat memperoleh favour of God itu?

1. Respon kita itu penting Respon yang benar dapat menarik perhatian untuk betah tinggal di dalam hidup kita.

2. Haruslah ada kebutuhan atau passion / kerinduan “Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.”” Yohanes 4:15

Apa yang Yesus tawarkan lebih dari sekedar kebutuhan jasmani saja. Apakah di dalam hidup kita ada kerinduan untuk mendapatkan jawaban dari Tuhan? Dan apakah ada keyakinan bahwa Tuhan dan hanya Dial ah yang sanggup menjawab segalanya yang kita perlukan?

Kita perlu memiliki suatu kebutuan dan kerinduan. Wahyu 3:14-17 menggambarkan suatu gereja yang sudah merasa nyaman dan tidak ada kebutuhan apa-apa lagi yang diperlukan. Gereja yang seperti ini, yang suam-suam kukuh adanya akan Tuhan muntahkan.

3. Perlunya pertobatan “Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini.” Kata perempuan itu: “Aku tidak mempunyai suami.” Kata Yesus kepadanya: “Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar.” Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi.” Yohanes 4:16-19

Pertobatan haruslah menjadi suatu life-style kita. Milikilah hati yang mudah bertobat. Ketika raja Daud ditegur oleh nabi Natan, dia langsung bertobat. Milikilah hati yang mau dibentuk oleh Tuhan.

Orang yang mudah bertobat itu orang yang mudah dilawat oleh Tuhan. Cepatlah bertobat, jangan main-main dengan dosa, dan jangan kompromi dengan dunia.

4. Jangan tinggal diam, bersaksilah bagi Tuhan “Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ: “Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?”” Yohanes 4:28-29

Perempuan Samaria ini meninggalkan tempayannya, yaitu suatu hal/benda yang cukup penting baginya guna bersaksi bagi Yesus.

Orang yang bertobat tidak perlu lagi disuruh-suruh, tetapi secara otomatis akan bersaksi demi nama Tuhan.

Janganlah kita tinggal diam, namun lakukanlah sesuatu. Kehidupan baru yang diperoleh dari suatu pertobatan itu akan mengalir dan tidak dapat dibendung atau dibungkam.

“Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.”” Yohanes 7:37-38

Tags:
No Comments

Post A Comment