Relationship, not just Obedience

Kejadian 22:6-13

Pertama-tama saya mau kita perhatikan di sini bahwa Ishak bukanlah seorang bocah kecil, sebab keterlaluan sekali jika Abraham memaksa anaknya yang masih kecil untuk membawa kayu naik ke gunung. Ishak adalah seoarang yang sudah dewasa.

Pada tanggal 6 Januari 1990, satu kejadian nyata terjadi di suatu kota kecil di bagian California di Amerika. Ada seorang yang bernama Christos Valenti yang membawa anak bungsunya yang sangat dia kasihi ke park dan membunuh anaknya, dan ketika diinterogasi sang ayah mengaku bahwa ia menyerahkan anak-Nya kepada Tuhan sebab Tuhan berbicara kepadanya dan memintanya untuk mengorbankan anaknya.

Apa yang membuat Christos Valenti seorang pembunuh dan Abraham seorang pahlawan iman? Mungkin saudara menjawab bahwa karena Abraham mendengar suara Tuhan dan Christos Valenti mendengar suara setan. Jawabannya tidak semudah itu. Sejelas-jelasnya kita mendengar suara Tuhan tetap saja kita selalu struggle, dan tidak bisa mengerti apa yang Tuhan inginkan. Kadang yang Tuhan inginkan dari kita memang aneh dan tidak bisa kita mengerti. Tetapi janganlah kita telan begitu saja, saya ingin kita menjadi dewasa dan berani untuk mempertanyakan kepada Tuhan apakah itu benar-benar apa yang Tuhan kehendaki.

Mengapa saya mengajak kita melihat kejadian Abraham mempersembahkan anaknya Ishak walaupun pada akhirnya Ishak tidak jadi dipersembahkan?

Kejadian 22:1a “Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham.”

Sebab apa yang Tuhan lakukan terhadap Abraham juga Ia lakukan atas hidup kita. Tahukah saudara bahwa pencobaan Tuhan itu bukanlah suatu hal yang aneh? Di dalam perjalanan kita dengan Tuhan kita akan dihadapi dengan test demi test yang kita harus lulus atasnya.

Abraham mempersembahkan Ishak di atas gunung Moriah yang diakui oleh 3 agama besar di dunia, Yahudi, Islam dan Kristen bahwa disitulah pusat dari pada bumi ini. Jika kita lihat dari sudut rohani, apa sih sebenarnya yang dilakukan oleh Abraham terhadap Ishak?

Jawaban tradisional dari pertanyaan ini adalah bahwa Tuhan ingin mencoba Abraham, dan di dalam kejadian ini Abraham membuktikan iman-nya kepada Tuhan. Memang hal ini benar tetapi ada level yang lain yang saya ingin bagikan hari ini atas hal ini.

Sebenarnya ada beberapa hal yang harus kita pertanyakan. Yang pertama, mengapa Abraham tidak menawar kepada Tuhan ketika Ishak diminta-Nya untuk dipersembahkan, padahal sebelumnya Abraham menawar kepada Tuhan soal kota Sodom dan Gomorah. Abraham tawar menawar dengan Tuhan untuk orang-orang berdosa yang tidak dia kenal.

Pertanyaan yang kedua adalah mengapa Abraham menyembunyikan hal yang Tuhan perintahkan dari orang-orang yang terdekat kepadanya? Pertanyaan yang ketiga adalah mengapa Abraham tidak naik ke gunung Moriah sendiri?

Drama ini tidak akan pernah nyata dalam hidup kita jika kita tidak pernah menempatkan diri kita di posisi Ishak yang tidak dikorbankan. Bagaimana Ishak bisa “deal” dengan keganasan papanya yang tiba-tiba mengeluarkan pisau dari balik bajunya? Ketika Ishak dibaringkan dan diikat, ia hanya diam saja. Apakah yang di dalam pikiran Ishak ketika menatap mata papanya yang hendak mengorbankan dirinya adalah “wow, hebat papaku, orang yang beriman”? Saya kira tidak demikian. Saya bisa buktikan dalam Firman Tuhan bahwa Ishak sebenarnya kepahitan terhadap Abraham.

Kejadian 22:19 “Kemudian kembalilah Abraham kepada kedua bujangnya, dan mereka bersama-sama berangkat ke Bersyeba; dan Abraham tinggal di Bersyeba.”

Kemana Ishak? Jika kita membaca dari Kejadian 22 sampai Kejadian 26, hanya satu tercatat bahwa Ishak ada di Lahai-Roi, di Tanah Negeb (Kejadian 24:62).

Saat Abraham turun gunung, Ishak berpisah dengan papanya. Bagaimana mungkin ini suatu hal yang baik bahwa Abraham dan Ishak tidak lagi berjalan bersama-sama setelah Abraham lulus dari test yang sangat besar?

Saya ingin bertanya mungkinkah Abraham lebih mengasihi Ismael dari pada Ishak? Bagaimana kita dapat membuktikan?

Kejadian 17:15-18 “Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham: “Tentang isterimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya. Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya.” Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: “Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?” Dan Abraham berkata kepada Allah: “Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!””

Jangan kita alergi dengan orang-orang muslim hanya karena banya teroris sekarang ini, sebab mereka adalah saudara sepupu kita lewat Abraham. Abraham cinta sekali dengan Ismael sehingga ia berkata kepada Tuhan: “sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu”. Bagaimanapun juga Ismael adalah anaknya yang pertama.

Kejadian 17:20-21 “Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar. Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga.””

Perhatikan di sini bagaimana Abraham mempertahankan Ismael sedangkan Tuhan juga bersikeras mempertahankan Ishak.

Apa sih yang sebenarnya yang terjadi di dalam kehidupan kita? Mungkin kita sudah familiar dengan salib, banyak kita sudah mendengar bahwa salib itu adalah hubungan, yang satu vertical dan yang satu horizontal. Hubungan kita vertical dengan Tuhan baik, maka kita juga harus mengasihi sesama.

The truth is found in relationship! Saat kita memiliki hubungan vertical yang benar kepada Tuhan maka barulah kita terima kebenaran itu. The truth is found in relationship.
Ada dua test yang Tuhan berikan kepada Abraham; yang pertama adalah obedient test dan ini adalah test yang Abraham lulus gemilang dengan nilai A++. Namun ada test kedua yang ia gagal total, yaitu test relationship.

Test yang Tuhan berikan kepada Abraham yang tercatat di Kejadian 22:1 berasal dari kata “Nisayon”, dan test “nisayon” ini bukan untuk membuktikan tetapi untuk memberi pengalaman supaya Abraham berjalan bersama dengan Tuhan. Bukankah Tuhan juga memberikan masalah demi masalah kepada kita supaya kita mempunyai pengalaman berjalan bersama dengan Tuhan?

Pengalaman demi pengalaman akan membuat kita semakian strong. Tuhan menginginkan relationship bukan hanya ketaatan, jika tidak demikian maka Tuhan hanya perlu menciptakan robot. Jangan takut untuk bertanya kepada Tuhan “why”, dan setelah kita mendapatkan jawaban baru lakukan. Ketaatan kita harusnya keluar karena relationship dan bukan dari kemarahan. Ada perbedaan kita taat melakukan kehendak Tuhan hanya karena obedience atau karena relationship.

Sewaktu Abraham diam ketika Tuhan meminta Ishak untuk dipersembahkan adalah suatu sinyal bahwa Abraham gagal dalam relationship kepada Tuhan. Seharusnya Abraham bargain kepada Tuhan dan berkata “ambil saja diriku, jangan ambil Ishak”.

Kita harus bisa “discern the voice of God”. Tuhan menghendaki relationship, tahukan saudara bahwa biblical faith is not about living a moral life or a good life. Sebab tanpa relationship maka semuanya itu hanya religion. Biblical faith is about living in God-life relationship, not good life. Intimacy dengan Tuhan adalah kunci untuk kita mengalami open doors.

Iman dan obedience itu memang penting, tetapi kita harus balance. Yang terpenting dari hidup kita adalah kasih. Perhatikan sungguh-sungguh akan relationship kita. Selama hubungan kita tidak baik, jangan mimpi kita bisa menikmati berkat Tuhan.

Apa yang paling penting dalam kehidup saudara? Apakah asset saudara? Jangan sia-siakan anak-anakmu, istri atau suamimu, papa dan mamamu; bukankah mereka sudah Tuhan taruh dalam hidupmu untuk memperkaya hidupmu? Di tengah-tengah kesibukkan kita di dalam pelayanan, dunia marketpl
ace, ingatlah bahwa Tuhan datang untuk memberikan relationship bagi kita semua. Biarlah kita ingat apa aset kita yang sebenarnya, bahwa kasih tidak pernah gagal.

Tags:
No Comments

Post A Comment