The Art of Successful Marriage

“To live is to choose. But to choose well, you must know who you are and what you stand for, where you want to go and why you want to get there.” – Kofi Annan

Keputusan kita dapat membuat rumah tangga menjadi surga di bumi atau neraka. Statistik perceraian di US dalam 2 tahun terakhir menurun. Setelah diselidiki ternyata banyak orang yang tidak mau menikah. Sedangkan 5 – 10 tahun yang lalu, statistic perceraian di US meningkat.

Ada sesuatu yang unik tentang pernikahan. Statistik mencatat pernikahan pertama mempunyai 50% kemungkinan untuk berakhir dengan perceraian, pernikahan kedua 64% dan pernikahan ketiga 74%. Dibandingkan jaman dahulu, pernikahan sekarang lebih rapuh. Tidak mudah membangun pernikahan yang kokoh di masa ini.

Di bawah tekanan, pernikahan bisa meledak keluar atau meledak ke dalam. Meledak keluar dapat berwujud kemarahan, kekerasan, atau kejahatan. Meledak ke dalam bisa berupa perubahan sikap yang sangat drastis dalam diri pasangan, biasanya dengan menolak untuk berbicara sama sekali dan €˜makan dalam€™. Kasih dicari semua orang. Tetapi apakah kasih? Di manakah kasih? Kita harus tahu apa yang kita kejar di dalam kasih karena kalau tidak, kita dalam bahaya untuk mendapatkan segala sesuatu yang BUKAN kasih.

Nikmati dan rayakanlah masa lajangmu. Inilah waktunya untuk mengerti dirimu sendiri dan mengetahui kekuatan dan kelemahanmu. Ingat, tidak ada seorangpun yang sepertimu. Pakailah waktu ini untuk benar-benar menjelajahi jati dirimu.

Carilah, idealnya, pasangan hidup yang dapat memperbesar kapasitasmu bukan yang melengkapi, seseorang seperti teman baikmu. Kita sudah lengkap sejak dari lahir. Kita tidak perlu seseorang untuk membuat kita merasa utuh. Bukalah mata lebar-lebar sebelum menikah. Pilih dengan bijaksana.

2 Korintus 6:14 berkata janganlah kamu menjadi pasangan yang tidak seimbang dengan orang yang tidak percaya. Bahasa Indonesia mempunyai ungkapan €˜bahtera rumah tangga€™ untuk pernikahan. Ini terjemahannya €˜fellow in ship€™ yang dapat diartikan sebagai fellowship untuk mencapai tujuan yang sama yaitu kebahagian. Firman Tuhan berkata sewaktu kita menikah kita meninggalkan (€˜leave€™) dan memotong (€˜cleave€™) diri dari keluarga kita.

“Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.” (1 Petrus 3:7) Perintah untuk para suami untuk hidup bijaksana dengan istrimu dapat dicapai dengan mengenal pasangan kita dengan baik. Ada 3 cara melakukan hal ini:

1. The art of knowing your partner (Seni mengenal pasanganmu)

Perlakukanlah pasangan kita dengan hormat. Efesus 5:28 mencatat, “Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.” Untuk mengenal pasangan kita membutuhkan waktu. Janganlah kita kehilangan kesabaran. Dedikasikanlah dirimu seperti seorang murid untuk mempelajari pasanganmu. Kesabaran kepada orang lain adalah kasih. Kesabaran kepada diri sendiri adalah pengharapan. Kesabaran kepada Tuhan adalah iman. Rumah tanggamu niscaya akan kokoh karena dibangun di atas Firman Tuhan.

Ketika kita kehilangan kesabaran di dalam pernikahan, iblis akan dengan mudah menggojlok pernikahanmu habis-habisan. Ingat, tidak ada persoalan yang dapat menghancurkan cinta kasih di dalam sebuah pernikahan kecuali kita biarkan itu terjadi.

2. The art of communication (Seni berkomunikasi)

Apa yang wanita inginkan adalah seorang lelaki yang mempunyai telinga yang mendengar. Komunikasi yang baik didasari dengan mendengar, bukan berbicara. Ketika kita mendengar pasangan kita, kita bisa meningkatkan kasih kita terhadap pasangan kita. “The cure of love is marriage, and the cure of marriage is love again.” – Unknown

3. The art of forgiveness (Seni mengampuni) Ini adalah sebuah keharusan! Tanpa pengampunan, tidak ada rumah tangga yang bisa tegak berdiri. Ketika pacaran, perasaan menopang komitmen. Setelah menikah, komitmen menopang perasaan. Tuhan berkata, “Aku benci perceraian” (Maleakhi 2:16). Ini merupakan sebuah misteri. Mungkinkah ini disebabkan oleh begitu banyaknya dampak negatif perceraian, baik di lingkungan maupun pribadi?

Mengampuni adalah sesuatu yang sangat berat. Pengampunan yang sebenarnya bukan hanya €˜melupakan€™ tetapi juga €˜tetap terbuka€™ terhadap kemungkinan bahwa masih ada sesuatu yang baik pada diri orang yang kita ampuni. Mengampuni seperti membuka kunci pintu untuk membebaskan seseorang dan menyadari kitalah yang selama ini ditawan di dalamnya.

Terapkanlah Firman Tuhan di dalam hidup pernikahanmu dan pernikahanmu akan teguh.

Tags:
No Comments

Post A Comment