The Story of Three Chairs

“Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN. Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”” Yoshua 24: 14, 15

Bagaimanakah perjalanan Rohani saudara hari-hari ini? Saya sering mendengarkan orang Kristen yang menjawab bahwa mereka tidak bertumbuh, atau €˜stuck€™. Apakah saudara €˜stuck€™ pada hari ini?

Perjalanan Rohani kita dapat digambarkan dengan tiga macam kursi.

Kursi yang pertama adalah kursi komitment. Ini adalah di mana seseorang telah memilih dan berkomitmen untuk mengasihi serta melayani Tuhan dengan sepenuhnya.

Kursi yang kedua adalah kursi kompromi. Ini adalah di mana seseorang telah memilih untuk mencoba agar mendapatkan yang terbaik bagi diri mereka sendiri dari apa yang Tuhan dan dunia ini dapat berikan.

Kursi yang ketiga adalah kursi konflik. Ini adalah di mana seseorang telah memilih untuk tidak meresponi Tuhan dari segala segi. (This person has chosen not to respond to God in any meaningful way, remaining odds with eternal spiritual realities.)

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh” Mazmur 14:1

Di dalam perjalanan Rohani, kita harus pindah dari kursi yang ketiga, yaitu kursi konflik, kepada kursi yang kedua, dan lalu kepada kursi yang pertama, yaitu kursi komitmen.

Banyak sekali orang Kristen yang berhenti hanya di kursi yang kedua, dan stuck di sana.

Ini juga yang terjadi dengan bangsa Israel saat mereka keluar dari Mesir, mereka stuck di padang pasir! Bangsa Israel mengeluh dan menyalahkan Tuhan. Padang pasir yang harusnya bisa dilewati selama 40 hari harus mereka lalui selama 40 tahun. Bahkan setelah 40 tahun mereka tetap tidak dapat mencapai dan menikmati Tanah Perjanjian.

Bangsa Israel mengeluh dan ingin kembali ke Mesir di mana mereka dijadikan budak. Mengapakah mereka lebih ingin menjadi budak? Alasannya adalah karena mereka belum pernah mengalami Tanah Perjanjian.

Kursi yang pertama menggambarkan hubungan (relationship) dengan Tuhan dan bukan semata-mata hanya suatu tanggung jawab (responsibility). Setiap kita dapat saja melakukan €˜responsibility€™ tanpa kasih.

Orang-orang yang berada di kursi ketiga hanya memikirkan tentang kepentingan dirinya sendiri. Tidak ada Tuhan sama sekali di dalam hidupnya.

Mereka yang berada di kursi yang kedua mempunyai motivasi €˜responsibility€™. Semua yang dilakukannya adalah karena rasa tanggung jawab. Di dalam struktur hidupnya, dirinya sendiri menjadi yang utama, dan Tuhan berada di posisi yang kedua.

Orang yang berada di kursi yang pertama mempunyai motivasi €˜relationship€™. Orang ini menjadikan Tuhan yang utama di dalam hidupnya.

Bangsa Israel stuck di padang pasir sewaktu mereka tidak percaya kepada Tuhan. Tahun ini, saya ingin mengajak kita agar supaya lebih lagi berani percaya kepada Tuhan. Belajarlah dari Abraham! Dia tidak mempunyai alasan dan dasar untuk berharap, tetapi dia berharap dan percaya kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan itu sebagai kebenaran.

Janji Tuhan itu ya dan amin. Untuk itu marilah kita berani percaya kepada Tuhan. Di tahun ini, marilah kita yang berada di kursi yang kedua boleh pindah kepada kursi yang pertama. Marilah kita beranjak dari hidup yang berkompromi kepada hidup yang berkomitmen.

“Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka). Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya. Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.” Kolose 3:5-8

Marilah kita mematikan hal-hal duniawi dalam hidup kita, dan biarlah kita hidup di dalam kekudusan.

“Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!”” Yesaya 6:3

Tags:
No Comments

Post A Comment