The True Meaning and Spirit of Christmas

ROCK Admin
24/12/2006

Hari Natal di masa modern ini identik dengan pesta pora, liburan panjang dan shopping. Arti Natal dari tahun ke tahun telah bergeser dari arti sesungguhnya.

Natal merupakan masa yang sangat ditunggu oleh para usahawan di setiap negara. Masyarakat Australia tahun ini diharapkan menghabiskan Aus $30 Milyar pada musim Natal hanya untuk shopping dan ini akan berkelanjutan dengan naiknya jumlah hutang pada kartu kredit.

Hiasan pohon natal, Santa Claus, Rain Deer juga menjadi bagian dari hari natal di setiap Negara. Jikalau kita mempelajari peristiwa Natal di dalam Alkitab maka kita tidak akan menemukan pohon natal, Santa Claus, Rain Deer terlebih lagi ajaran shop `til you drop.

Beberapa kebenaran Natal yang dapat kita pelajari dari Alkitab ditinjau dari nilai sejarah dan nilai rohani adalah:

Tuhan Yesus tidak pernah memerintahkan kita untuk merayakan hari kelahirannya.

Alkitab tidak secara spesifik mencatat tanggal kelahiran Jesus ini disebabkan bahwa arti kelahiran Jesus bukan ditentukan dari tanggal tetapi mengandung makna rohani – Tuhan yang turun ke dunia dan menjelma menjadi manusia.

25 Desember yang ditetapkan menjadi hari Natal sebenarnya merupakan hari dimana bangsa Romawi pada tahun 274 M menyembah dewa Matahari. Pada jaman Kaisar Constantine di mana agama Kristen dijadijkan sebagai agama negara, masyarakat Romawi tetap terikat dengan budaya tersebut sehingga pada tahun 336 M para pemimpin gereja dan kaisar Konstantine sepakat menjadikan hari 25 Desember sebagai hari kelahiran Tuhan Yesus.

Tuhan Yesus menjelma menjadi manusia sebagai penebus dosa kita.

Kej 3:14-15: menjelaskan bahwa karya penebusan merupakan tindakan aktif Allah untuk menyelamatkan manusia pada saat Adam dan Hawa jatuh dalam dosa.

Banyak orang yang menyangkal keberadaan Jesus sebagai Allah. Mereka mengakui Dia sebagai guru, nabi, rasul tetapi bukan Tuhan. Filipi 2:5-11 menjelaskan secara terperinci keberadaan Jesus sebagai Tuhan dan turun ke dunia menjadi manusia. Ayat ini bagi para theolog dikenal dengan “Kenosis”.

Ayat lain yang mendukung pernyataan ini adalah Yoh 1:1 dan Yoh 1:14.

Tuhan Yesus tidak hanya datang sebagai Tuhan dan Juruselamat tetapi sebagai Raja.

Tuhan Yesus tidak mendapatkan kedudukan sebagai raja berdasarkan garis keturunan ataupun dipilih oleh golongan atau kelompok tertentu, namun karena keberadaanNya sebagai Creator (pencipta) dan Owner (pemilik) dari dunia dan segala isinya (Yes 9:5-6, Yoh 1:1-3,14).

Mat 2:1-2 – menceritakan bagaimana orang Majus dari Timur yg bukan orang Jahudi namun karena keahlian dalam ilmu perbintangan (astronomi) tahu bahwa seorang Raja bagi bangsa Jahudi telah lahir. Hadiah pemberian untuk Jesus yaitu Emas, Mur dan Kemenyan mempunyai arti prophetic pada saat itu.

- Emas berbicara tentang kemuliaan yang tertinggi bagi dunia. – Mur berbicara tentang kematian Tuhan Yesus di kayu salib. – Kemenyan berbicara bahwa Tuhan Yesus adalah Imam besar bagi umat manusia.

Ayat pendukung lain adalah Lukas 1:28-33; Yoh 18:33.

Kesimpulan: Pada saat kita menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita maka secara sadar atau tidak kita juga menerima Dia sebagai Raja kita. Konsekuensi dari hal ini adalah:

1. Kita tidak lagi mempunyai hak pribadi.

2. Kita harus taat, patuh dan menyembah. 3. Kebutuhan kita sehari-hari dijamin oleh Dia. 4. Kemakmuran kita akan menjadi ukuran kebesaran dan kemakmuran Dia.

Mat 6:33 menjelaskan bahwa pada saat kita mencari Kerajaan Allah dan KebenaranNya maka semua kebutuhan pokok kita akan ditambahkan kepada kita. Ini jelas sekali berbicara dalam konteks hubungan antara Raja dan umatNya. Ayat pendukung lain adalah Lukas 18:33; Wahyu 19:11 dan Wahyu 11:15.

Dengan mengetahui kebenaran sejati tentang makna hari Natal marilah kita semua tidak hanya menjadikan Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat namun juga Raja yang menguasai seluruh kehidupan kita. Yesus adalah Raja yang bersukacita akan kemakmuran dan keberhasilan umat pilihanNya. (Psalm 37:27).

Let Him be A King of All or Not at All