When God Does Something New

Ketika Tuhan membuat sesuatu yang baru pasti selalu mengikuti suatu pola (pattern); pola yang sering kali tidak disadari atau diketahui oleh kita, namun pola itu sudah tercatat di dalam Alkitab.

Untuk Tuhan melakukan sesuatu yang baru atas hidup kita, kita harus melalui proses; proses yang membawa kita dari titik A ke B. Contohnya, untuk bisa lulus sarjana dari universitas, kita perlu melalui proses, tidak bisa kita masuk universitas dan langsung dapat gelar sarjana; ada proses yang harus dilalui, yaitu ujian.

Di dalam perjalanan bersama dengan Tuhan kita harus terus melalui yang namanya proses, dan tidak ada yang instan. Ketika Tuhan ingin membawa kita kepada suatu dimensi yang baru, kita pasti harus terlebih dahulu melalui proses.

Tuhan akan pertama-tama membawa kita kepada kegelapan terlebih dahulu, baru itu kepada terang.

“Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama… Lalu Allah menamai cakrawala itu langit. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kedua… Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari ketiga.” Kejadian 1:5, 8 & 13

Tuhan memulai hari dari petang, yaitu kegelapan, bukan terang. Hari orang Yahudi dimulai dari pada saat matahari terbenam, bukan pada pagi hari. Dengan kita Tuhan juga membawa kita kepada kegelapan terlebih dahulu, itu adalah suatu permulaan yang lebih baik, bukan hanya sesuatu yang baik.

Abraham juga melalui suatu kegelapan ketika Tuhan memintanya untuk mempersembahkan Ishak anaknya sebagai korban. Kita ketahui bagaimana Abraham lulus dari kegelapan, dan Tuhan membawanya kepada suatu dimensi yang baru.

“Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.”” Kejadian 22:12

Kemudian Tuhan membuat perjanjian baru kepada Abraham. Perjanjian yang di mana hingga hari ini kita nikmati.

Apa yang dialami oleh Yusuf di dalam kitab Kejadian 37 juga adalah suatu kegelapan terlebih dahulu sebelum terang. Yusuf dijual sebagai budak dan dipenjara sebelum diangkat menjadi seorang perdana menteri.

Seperti Abraham dan Yusuf, kita juga harus melalui proses, yaitu kegelapan!

Tokoh lain yang tercatat di dalam Alkitab yang juga melalui kegelapan adalah Daud. Walaupun nabi Samuel telah mengurapi Daud untuk menjadi sebagai seorang raja, tetapi Daud tidak langsung menjadi raja, ia harus terlebih dahulu melalui kegelapan.

Untuk kita supaya bisa berada di tempat ini memuji dan menyembah Tuhan, itu juga karena ada suatu harga yang sangat mahal yang harus Yesus bayar. Salib adalah suatu kegelapan yang harus dilalui oleh Tuhan Yesus.

Keselamatan yang kita nikmati hari ini disebabkan tidak lain yaitu karena Tuhan Yesus telah setia melalui kegelapan.

Sebutir jagung memang tidak dapat mengenyangkan perut, tetapi jika sebutir jagung ditanam ke dalam tanah, yaitu ke dalam kegelapan, maka ia akan tumbuh menjadi pohon jagung dan membuahkan banyak jagung yang dapat mengeyangkan banyak orang. Sebagai manusia kita harus mati terlebih dahulu, mati atas kedagingan kita dan lalui kegelapan.

Hidup Naomi yang dapat kita baca dalam kitab Ruth juga mencatat bagaimana ia harus melalui kegelapan. Suami dan kedua anaknya meninggal, dan hanya menantunya, yaitu Ruth yang mau mengikutinya. Dan hal ini membuat Naomi kepahitan dan marah kepada Tuhan. Tetapi kita tahu bahwa pada akhirnya, melalui keturunan Naomi, lahirlah raja Daud, dan akhirnya Tuhan Yesus (Baca Matius 1). Kita diberkati hari ini karena apa yang dilalui oleh Naomi.

Ketika kita berada di dalam kegelapan, apakah yang harus kita lakukan? Pertama kita harus menguatkan iman kita melalui Firman Tuhan. Dan yang kedua kita harus mengangkat tangan kita kepada tangannya Tuhan.

Tags:
No Comments

Post A Comment