Kasih, Dasar Kuat Sebuah Hubungan – Oct 12

By Deborah Sherlly Yusuf

 

Saya teringat ketika saya baru saja menikah. Hari pertama setelah pesta pernikahan kami, saya merasa seperti berjalan di atas awan. Hati berbunga-bunga, dan saya tidak bisa berhenti tersenyum. Lagu Michael Buble “I Just Haven’t Met You Yet” yang diparodikan oleh teman-teman terdekat saya menjadi “Akhirnya Kawin Juga” tiada hentinya berputar di otak. Kehadiran keluarga yang saya rindukan, kasih dan perhatian mereka, semuanya benar-benar membuat saya merasa sangat special. Tentunya semua ini tidak ada artinya dibanding dengan kehadiran seorang suami yang tidak hanya sangat amat mengasihi saya, tapi juga sangat amat mengasihi Tuhan. Rasanya sungguh seperti standing on top of the world!

 

Jika kasih dari manusia bisa membuat kita merasa seperti yang saya ceritakan diatas, bukankah kasih Tuhan terlebih lagi?

Ada luapan sukacita yang tidak bisa dibendung ketika kita sungguh-sungguh merasakan kasih Tuhan, dan mempunyai hubungan yang intim dengan Dia. Semua ini akan terpancar keluar. Ketika kita memuji Tuhan di gereja, sikap hati kita terpancar dari bahasa tubuh. Ada urapan yang mengalir ketika kita menaikkan pujian dan penyembahan kepada Tuhan dengan penuh kasih. Air mata tidak bisa dibendung,

senyuman terlukis di wajah, dan mata pun bersinar-sinar. Kapan terakhir kali kita merasakan yang seperti ini dan bergairah dalam beribadah?

 

“Ketika kita sungguh mengasihi Tuhan, maka mentaati firmanNya adalah hal yang mudah“

 

Kasih tanpa tindakan bukanlah kasih

Yesus berkata dalam Yohanes 14:31(ESV) “but I do as the Father has commanded me, so that the world may know that I love the Father…” Yesus membuktikan kasihNya kepada Bapa dengan melakukan apa yang menjadi perintah Bapa. Apakah kita sudah melakukan apa yang diperintahkanNya bagi kita? Belajarlah dari hal-hal yang kita bisa lakukan setiap hari, seperti suami mengasihi istri; istri tunduk kepada suami; anak taat kepada orang tua; tidak berpacaran dengan yang bukan seiman; pegawai menghormati majikan; menghargai dan menghormati para pemimpin rohani. Mari mulailah taat dengan

perintah yang kelihatannya sederhana ini. Ketika kita sungguh mengasihi Tuhan, mentaati firmanNya adalah hal yang mudah.

 

Kasih menutupi banyak pelanggaran

Berbicara kasih tidak lepas dari mengampuni. Selama kita masih bernafas, mengalami kekecewaan dengan sesama itu biasa. Satu waktu anda pasti akan dikecewakan. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana reaksi kita saat kecewa? Apakah kita menumpahkan semua kekecewaan di Facebook Twitter agar semua orang, khususnya orang yang menyakiti kita, tahu bahwa kita sakit hati? Apakah kita memaki-maki orang tersebut? Atau kita menyimpan erat dalam hati seperti layaknya bom waktu berjalan yang suatu hari akan meledak, melukai diri kita sendiri dan orang-orang sekitar? Mengampuni adalah kunci untuk mendapatkan pemulihan. Kita semua bisa mengampuni, karena Kristus terlebih dahulu mengampuni kita. (Mazmur 103:10-12)

Tags:
,
No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.