Bosan dengan Yesus

Markus 6:1-6

Kemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia. Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata: “Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.” Ia tidak dapat mengadakan satu mujizatpun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka. Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka. Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar.

Untuk khotbah ini, saya ingin berbicara kusus kepada satu grup orang-orang yang sangat spesifik. Tentu khotbah ini adalah untuk semua orang. Setiap khotbah memiliki sesuatu untuk membangun setiap kita. Tetapi teks ini ditujukan kepada satu grup tertentu. Teks ini ditujukan kepada orang-orang seperti saya, orang-orang yang dibesarkan di dalam keluarga Kristen. Berapa banyak dari anda yang dibesarkan di dalam keluarga Kristen? Jika anda belum menyadarinya, saya ini seorang PK. Apa itu PK? PK adalah singkatan dari Pastor Keren. Oke, itu tidak benar. PK adalah kependekan dari “Pastor’s kid” atau anak pendeta. Jika anda tidak tahu banyak tentang PK, saya akan memberi tahu anda rahasia umum tentang sebagian besar PK. Orang tua mereka mungkin adalah pendeta dan deskripsi pekerjaan orang tua mereka adalah untuk menunjukkan jalan ke surga kepada jemaat. Tetapi tidak dengan PK. Deskripsi pekerjaan PK, jika ada, adalah membantu orang tua mereka dengan menunjukkan kepada jemaat jalan kebalikan dari surga. Jadi jemaat bisa melihat kontras antara kedua jalan tersebut dan membuat pilihan yang tepat. Jika orang tua PK adalah seperti malaikat dalam tubuh manusia, maka PK adalah seperti iblis dalam tubuh manusia. Tetapi itu hanya benar untuk gereja-gereja di luar sana. PK di gereja kita adalah pengecualian. Saya perlu mengatakan ini karena entah mengapa ada banyak PK berjemaat di gereja ini.

Pengalaman saya sedikit berbeda dengan kebanyakan PK. Sewaktu saya berusia lima tahun, saya adalah anak paling nakal di sekolah minggu di Bali. Beberapa tahun yang lalu saya bertemu dengan salah satu guru sekolah minggu saya sewaktu saya masi di Bali dan dia berkata, “Yos, cicik susah percaya kalau kamu jadi seorang pendeta sekarang. Dalam lebih dari 20 tahun cicik jadi guru sekolah Minggu, kamu mungkin adalah anak yang paling bikin cicik pusing di sekolah Minggu.” Pujian yang luar biasa. Tetapi selain itu, saya memiliki resume yang cukup baik sebagai PK. Ketika orang tua saya pindah ke Sydney untuk mendirikan gereja ini, saya belajar bagaimana berperilaku seperti seorang Kristen yang baik. Saya terlibat dalam setiap pelayanan yang ada. Saya adalah pelayan OHP – overhead proyektor. Saya adalah seorang guru sekolah minggu. Saya malu untuk mengakui ini, tetapi saya pernah menjadi seorang penari pantomim. Saya pernah berada di tim choir. Saya bermain banner. Saya bermain gitar akustik karena itulah cara yang paling pasti untuk menjadi populer di kalangan perempuan di masa itu. Kemudian saya juga seorang pemimpin pujian. Dan ketika saya berusia 16 tahun, saya mulai berkhotbah di kebaktian remaja. Semua orang memuji khotbah saya bagus dan mereka berkata, “Like father, like son.” Talenta berkhotbah papi saya turun ke saya. Tetapi sebenarnya, itu adalah khotbah yang sangat buruk. Saya menjiplak khotbah salah satu pendeta populer pada saat itu. Kemudian akhir minggu saya juga diisi dengan kegiatan gereja. Setiap Jumat malam, saya pergi ke pertemuan doa remaja. Setiap Sabtu, saya pergi ke pertemuan doa puasa. Dan setiap hari Minggu, saya berada di gereja dari pagi hingga malam. Untung gereja tidak buka 24/7. Jika iya, maka saya mungkin akan ada di gereja 24/7. Kemudian saya pergi ke Dallas untuk sekolah Alkitab selama lima tahun. Dan hari ini saya adalah seorang pendeta sepenuh waktu. Jadi kehidupan saya selalu berada di sekitar Yesus. Beberapa dari anda memiliki cerita yang mirip seperti saya. Anda berada di sekitar Yesus sepanjang hidup anda. Atau mungkin anda tidak berada di sekitar Yesus sepanjang hidup anda, tetapi anda telah berada di sekitar Yesus untuk jangka waktu yang cukup lama. Dan teks ini ditujukan kepada orang-orang yang sudah lama berada di sekitar Yesus.

Ada peringatan keras yang Markus berikan kepada orang-orang seperti saya. Ini peringatannya. Hati-hati dengan keakraban. Sangat mungkin bagi kita untuk sangat akrab tentang Yesus dan tidak pernah mengenal Yesus. Hal ini terjadi dalam hidup saya sendiri. Saya selalu berada di sekitar Yesus sejak saya lahir tetapi saya baru mengenal Yesus secara pribadi ketika saya berusia 21 tahun. Bahkan, dari apa yang kita lihat di kitab Markus, apakah anda tahu siapa yang paling sulit percaya kepada Yesus? Kita akan berasumsi bahwa orang-orang yang jauh dari Tuhanlah yang mengalami kesulitan untuk percaya kepada Yesus. Tetapi ternyata tidak. Ketika orang-orang berdosa dan para pemungut cukai bertemu dengan Yesus, mereka cenderung menyukai Yesus. Orang-orang yang paling sulit percaya kepada Yesus adalah mereka yang akrab tentang Yesus. Para ahli Taurat, orang-orang Farisi, dan keluarga Yesuslah yang cenderung menolak Yesus. Dan inilah yang kita lihat dalam teks kita hari ini.

Saya akan memberikan anda konteksnya terlebih dahulu. Di Markus pasal 6, Yesus kembali ke kampung halamannya. Dan ini bukanlah pertama kalinya Yesus kembali ke Nazaret setelah ia memulai pelayanannya. Markus tidak mencatatnya, tetapi Lukas pasal 4 memberi tahu kita tentang kunjungan pertama Yesus kembali ke Nazaret. Dan kunjungan itu tidak berjalan dengan baik. Orang-orang Nazaret menolak Yesus dan mencoba mendorong Yesus ke jurang. Tetapi Yesus lolos secara ajaib. Dan jika saya adalah Yesus, saya tidak akan pernah kembali ke Nazaret. Sudah cukup. Mereka sudah mendapatkan kesempatan. Mereka menolak saya dan mencoba membunuh saya. Tetapi puji Tuhan Yesus tidak seperti saya. Yesus menolak untuk menyerah terhadap mereka. Jadi, setelah beberapa waktu, Yesus kembali lagi ke kampung halamannya. Ini adalah usahanya yang kedua untuk menjangkau orang-orang di Nazaret. Jadi, apa yang terjadi? Apakah orang-orang Nazaret akan menanggapi Yesus dengan lebih baik? Mari kita lihat bersama.

Saya akan melakukan sesuatu yang berbeda dengan khotbah saya hari ini. Daripada memisahkan ayat-ayat berdasarkan poin-poin khotbah, saya ingin kita melihat dan mempelajari keseluruhan cerita ini terlebih dahulu. Kemudian saya akan memberikan anda dua pelajaran yang bisa kita pelajari dari cerita ini. Mari kita masuk ke dalam teks.

Markus 6:1-2 – Kemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia. Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata: “Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya?

Izinkan saya memberi tahu anda beberapa hal tentang Nazaret. Yesus lahir di Bethlehem, tetapi dia dibesarkan di Nazaret. Dan Nazaret adalah kota yang sangat kecil di daerah yang terpencil. Nazaret tidak pernah disebutkan dalam Perjanjian Lama dan hanya disebutkan beberapa kali dalam Perjanjian Baru. Para sarjana percaya bahwa kota ini memiliki populasi sekitar 500 orang. Jadi, ini adalah kota yang kecil dengan populasi yang kecil di daerah yang terpencil. Bahkan, ketika salah satu murid Yesus, Natanael, mengetahui bahwa Yesus berasal dari Nazaret, dia berkata, “Dapatkah sesuatu yang baik keluar dari Nazaret?” Bagi kita yang dibesarkan di kota yang besar, kita tidak tahu bagaimana rasanya tinggal di kota yang kecil. Tetapi dulu ada anggota gereja kita yang berasal dari kota yang memiliki tiga kesalahan, Salatiga. Dan dia bercerita bahwa Salatiga dulunya adalah kota yang sangat kecil yang tidak memiliki mal ataupun bioskop. Jadi, jika dia ingin menonton film di bioskop, dia harus mengumpulkan sekelompok orang dan pergi bersama-sama ke kota lain. Dan yang menarik tentang tinggal di kota yang kecil adalah semua orang saling mengenal satu sama lain. Mereka mungkin tidak mengenal satu sama lain secara pribadi tetapi mereka tahu bahwa si itu berasal dari keluarga si ini. Semua orang saling tahu apa yang terjadi dalam kehidupan orang lain.

Jadi, Yesus kembali ke Nazaret bersama dengan murid-muridnya, dan dia mengajar di Sinagoga pada hari Sabat. Dan ketika orang-orang mendengar Yesus mengajar, mereka heran. Mereka takjub. Karena ada sesuatu yang berbeda dengan Yesus. Dan itu bukan namanya. Jika anda dibesarkan di gereja, anda mungkin pernah mendengar lagu, “Jesus, Jesus, Jesus, there’s just something about that name.” Tetapi para sarjana mengatakan bahwa nama Yesus sebenarnya adalah salah satu nama yang paling umum di kalangan orang Yahudi abad pertama. Ini seperti memiliki nama “Josh” di gereja kita. Tidak ada yang spesial dari nama ini. Ini nama yang sangat umum. Tetapi ada sesuatu tentang Yesus yang membuat orang takjub dan heran. Dan ini bukan keheranan yang berdasarkan iman. Ini bukan keheranan, “Wow, luar biasa.” Ini adalah keheranan, “Huh? Oke, kita bisa melihat bahwa orang ini memiliki hikmat. Dia adalah guru yang baik. Dia bisa melakukan mujizat. Tapi bukankah ini Yesus?” Ini adalah keheranan yang timbul dari ketidakpercayaan.

Lihat pertanyaan yang mereka ajukan. Markus 6:2b-3 – “Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Apakah anda melihat apa yang terjadi? Mereka tidak merayakan Yesus. Mereka sangat skeptis terhadap Yesus. Mereka berkata, “Oke, jelas orang ini menonjol di atas semua guru lainnya. Tapi dari mana dia mendapatkan hikmat ini? Dia tidak pernah belajar teologi. Dia tidak pernah sekolah Alkitab. Dia bukan seorang rabi dan dia tidak pernah dilatih untuk menjadi seorang rabi. Dia adalah seorang tukang kayu. Bukankah beberapa tahun yang lalu dia datang ke rumah kita untuk membuat beberapa perabotan rumah? Dia memperbaiki meja makan kita yang rusak. Kita tahu siapa dia.” Dapatkah anda melihat permasalahannya? Permasalahannya bukanlah mereka tidak tahu siapa Yesus, tetapi mereka sangat tahu siapa Yesus. Mereka menyaksikan Yesus tumbuh besar di antara mereka. Mereka telah berada di sekitar Yesus untuk jangka waktu yang sangat lama. Dan di mata mereka, Yesus hanyalah sesama mereka, orang yang biasa saja. Mereka melihat kredensial Yesus dan mereka tidak menemukan sesuatu yang luar biasa. Dan ini sangat berbeda dengan kebanyakan pendeta saat ini. Jika anda melihat akun pendeta di Instagram, beberapa dari mereka memiliki gelar yang lebih panjang dari nama mereka. S.Th.; M.Th.; D.Th.; A.Th. (Asal ada Th). Tetapi Yesus berbeda. Mereka membuka akun Instagram Yesus dan kredensialnya sangat singkat: Yesus, tukang kayu. Dengan kata lain, Yesus adalah sosok yang sangat biasa.

Dan bukan hanya itu, tetapi mereka menyebut Yesus sebagai anak Maria.” Di telinga kita, mungkin hal ini terdengar biasa saja. Tetapi ini tidak normal pada zaman Yesus. Biasanya orang disebut berdasarkan nama ayah mereka. Jadi, bagi Yesus, seharusnya yang benar adalah, “anak Yusuf.” Lalu mengapa mereka menyebut Yesus sebagai “anak Maria”? Banyak sarjana Alkitab mengatakan bahwa ini merupakan penghinaan terhadap identitas Yesus. Dan menurut saya mereka benar. Coba pikirkan. Nazaret adalah kota kecil di mana semua orang saling mengenal satu sama lain dan saling berbicara. Tidak ada yang namanya rahasia. Saya beri contoh. Katakanlah ada sebuah gereja berbahasa Indonesia di Sydney yang jemaatnya sekitar 200 orang. Dan katakanlah salah satu pastor dari gereja tersebut membeli mobil Tesla yang baru. Apakah anda tahu apa yang akan terjadi? Setiap orang di gereja, termasuk mereka yang beribadah secara online, akan mengetahuinya dalam hitungan minggu. “Eh, udah tau belom? Si Pastor Y baru beli Tesla. Itu liat mobilnya ada di garasi.” Dan saudara, ini hanyalah situasi hipotetis. Saya tidak berencana membeli Tesla. Rencananya Ferrari. Tetapi dapatkah anda melihat apa yang terjadi? Jika anda tinggal di kota kecil dan anda menikah di bulan Maret dan melahirkan di bulan September, orang-orang tahu. Mereka tidak bodoh. Mereka menghitung bulan. Jadi mereka tahu bahwa ada yang tidak beres dengan kelahiran Yesus. Dan tebakan mereka adalah bahwa Yesus adalah anak haram. Mereka mempertanyakan identitas ayah Yesus. Dan itulah mengapa mereka memanggil Yesus anak Maria.

Dan mereka juga mengenal semua saudara laki-laki Yesus. Beberapa saudara Yesus akan menjadi pemimpin gereja di masa depan. Tetapi selama Yesus masih hidup di bumi, mereka belum menjadi orang percaya. Mereka berpikir bahwa Yesus gila. Dan saudara-saudara perempuan Yesus menikah dengan pria-pria di Nazaret. Inilah alasan mengapa mereka heran. Bukan karena mereka percaya kepada Yesus, tetapi karena mereka tidak dapat menggabungkan apa yang mereka saksikan di depan mata mereka dengan apa yang mereka ketahui tentang Yesus. Apakah anda melihat apa yang terjadi? Mereka hidup bersama Yesus. Mereka makan bersama Yesus. Mereka menghadiri sinagoga bersama Yesus. Dan sekarang mereka mendengarkan khotbah dan hikmat Yesus yang luar biasa. Mereka melihat otoritas Yesus untuk menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan. Mereka menyaksikan kuasa Tuhan bekerja melalui Yesus. Namun terlepas dari begitu banyaknya tanda, mereka tidak dapat percaya kepada Yesus. Mereka terlalu akrab tentang Yesus untuk percaya kepada Yesus. Sebaliknya, mereka justru kecewa dan menolak Yesus. Dan kata kecewa berasal dari kata Yunani, skandalon, dari mana kita mendapatkan kata, skandal. Secara harfiah kata ini berarti batu sandungan. Jadi, ini bukan hanya berbicara perbedaan tetapi permusuhan. Kita mungkin sering berpikir bahwa melihat dan memiliki Yesus di depan mata kita akan memudahkan kita untuk percaya kepada Yesus. Namun kenyataannya, mereka yang paling lama mengenal Yesus justru kecewa dan menolak Yesus.

 

Markus 6:4 – Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.” Saya bukan Yesus, tetapi saya memiliki sedikit gambaran tentang apa yang Yesus maksudkan. Anda tahu bahwa saya sering pergi pelayanan ke Indonesia, khususnya ke Surabaya. Dan setiap kali saya melayani di Surabaya, vibe yang saya dapatkan adalah, Siapa yang khotbah minggu ini? YOSI YANG KHOTBAH.” Tetapi saat saya di Sydney, vibenya adalah, Siapa yang khotbah minggu ini? Oh, Yosi yang khotbah.” Ini hanyalah hari Minggu yang biasa bersama dengan Yosi. Dan tidak ada yang salah dengan ini. Ini normal. Kehadiran saya bersama saudara bukanlah hal yang istimewa. Saudara mengenal saya lebih dari orang-orang di Surabaya. Dan semakin anda dekat dengan saya, semakin anda melihat kelemahan dan ketidakkonsistenan saya secara langsung. Inilah mengapa saya bisa menjadi superstar di Surabaya, tetapi hanya orang biasa di Sydney.

Terutama di keluarga Yusuf. Saya mungkin mengkhotbahkan Injil kepada ribuan orang dan banyak orang diberkati melalui pelayanan saya. Tetapi jika jam 10 malam saya belum pulang rumah, papi mami saya akan whatsapp saya dan berkata, Yos, di mana kamu? Kenapa kamu belum pulang? Kamu pergi sama siapa?Dan perlu dicatat umur saya 36 tahun. Karena bagi mereka, saya adalah anak mereka. Mereka tidak terkesan dengan saya. Papi mami saya telah melihat terlalu banyak kelemahan dan ketidakkonsistenan saya untuk terkesan dengan saya. Namun tidak demikian dengan Yesus. Tidak ada inkonsistensi dalam Yesus. Perkataan dan perbuatan Yesus selalu selaras setiap saat. Dia adalah siapa yang dia katakan di setiap saat dan di semua tempat. Namun keluarga dan kampung halaman Yesus tetap menolak Yesus. Ini memberi tahu kita pelajaran yang penting. Keakraban tentang Yesus tidak menjamin apapun. Pengetahuan tentang Yesus dan berada di sekitar Yesus tidak menjamin iman kepada Yesus. Di sepanjang kitab Markus, kita melihat orang-orang yang kita harapkan untuk percaya kepada Yesus ternyata tidak percaya. Dan mereka yang tidak kita harapkan untuk percaya justru malah percaya kepada Yesus.

Dan perhatikan apa yang dikatakan Markus selanjutnya. Ini membingungkan. Markus 6:5-6 – Ia tidak dapat mengadakan satu mujizatpun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka. Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka. Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar. Tunggu dulu. Ini aneh. Yesus tidak dapat melakukan mujizat? Apa maksudnya? Yesus adalah Tuhan yang penuh kuasa dan otoritas. Dia tidak dibatasi oleh apa pun atau siapa pun. Apa yang dimaksud dengan Yesus tidak dapat melakukan mujizat? Dan Markus mengatakan bahwa Yesus merasa heran atas ketidakpercayaan mereka. Apa artinya? Ini tidak bisa berarti bahwa Yesus tidak mampu melakukan mujizat. Beberapa orang mencoba menjelaskan ayat ini dengan mengatakan bahwa kuasa dan otoritas Yesus bergantung pada iman seseorang. Semakin banyak iman yang dimiliki seseorang, semakin banyak yang Yesus dapat lakukan. Semakin sedikit iman yang dimiliki seseorang, semakin sedikit pula yang dapat Yesus lakukan. Menurut saya hal ini ada unsur kebenarannya. Ada hubungan langsung antara iman kita dan kuasa karya Yesus. Saya percaya salah satu alasan mengapa banyak dari kita tidak menyaksikan kuasa karya Yesus adalah karena ketidakpercayaan kita. Ketidakpercayaan kita telah merampas kuasa Yesus dari kita. Namun bukan berarti Yesus tidak mampu menunjukkan kuasanya tanpa iman. Yesus sanggup melakukan mujizat tanpa iman orang-orang di sekitarnya.

Yang terjadi di sini bukanlah Yesus tidak mampu, tetapi Yesus sengaja menahan kuasanya. Mengapa? Karena mujizat bukanlah inti pelayanan Yesus. Yesus tidak pernah melakukan mujizat hanya demi mujizat. Tujuan mujizat adalah untuk mengarahkan orang kepada identitas Yesus. Prioritas utama Yesus adalah selalu memberitakan Injil dan memanggil orang untuk bertobat. Dan mujizat berfungsi untuk mengesahkan pesan Injil. Timothy Keller mengatakannya dengan baik. “Mujizat Yesus bukanlah ‘trik sulap’ yang dirancang untuk membuktikan betapa kuatnya dia, tetapi ‘tanda-tanda kerajaan’ untuk menunjukkan bagaimana kuasa penebusannya bekerja. Mujizat-mujizatnya selalu menyembuhkan dan memulihkan serta membebaskan orang-orang dengan cara yang mengungkapkan bagaimana kita bisa bertemu dia dengan iman dan membuat hidup kita diubahkan oleh dia. Dia ‘tidak bisa’ melakukan perbuatan tanpa unsur penebusan.” Dengan kata lain, tujuan mujizat adalah iman dan pertobatan. Jika orang-orang menolak untuk bertobat dari dosa-dosa mereka, maka tidak ada alasan bagi Yesus untuk melakukan mujizat. Yesus tidak tertarik mengadakan pertunjukan untuk orang-orang yang tidak percaya. Orang-orang Nazaret terlalu akrab tentang Yesus. Yesus terlalu biasa untuk mereka bisa percaya kepada dia. Dan dari cerita ini, kita dapat melihat bahwa penghalang terbesar untuk memiliki iman kepada Yesus adalah keengganan hati manusia untuk menerima Allah yang datang kepada kita dalam rupa kita. Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari teks ini? Ada dua peringatan yang harus kita perhatikan dari cerita ini.

Bahaya keakraban

Pertama, berhati-hatilah terhadap bahaya keakraban. Ada satu lagu rohani yang sering kita nyanyikan dulu. Beberapa dari saudara mungkin tahu lagunya. Saya akan sedikit mengubah liriknya agar saya tidak terkena masalah ketika khotbah ini dimasukkan di YouTube. Liriknya berbunyi, “Jesus you are my best buddy, you will always be, nothing will ever change that.” Bukankah kita menyukai hal ini? Yesus adalah sahabatku, Yesus adalah belahan jiwaku, Yesus adalah teman terbaikku dll. Dan ini semua benar dan baik. Tetapi jika kita tidak hati-hati, keakraban dapat membutakan kita terhadap kebesaran dan kemuliaan Yesus. Sangat mungkin untuk menjadi sangat akrab tentang Yesus dan kehilangan siapa Yesus yang sebenarnya.

Orang tua, apakah anda tahu apa artinya? Artinya, anda dapat membawa anak-anak anda ke gereja setiap hari Minggu dan itu tidak menguntungkan mereka sama sekali. Saya yakin setiap orang tua di gereja ini ingin anak-anaknya tumbuh menjadi pria dan wanita yang mengenal Yesus secara pribadi. Anda membawa mereka ke gereja setiap hari Minggu. Anda memperkenalkan mereka kepada Kekristenan sejak usia mereka yang sangat muda. Hal itu baik namun tidak cukup. Bagi banyak dari anda, anda memiliki prioritas yang salah. Sejak anak anda masih sangat kecil, anda sudah mempersiapkan masa depan anak anda. Beberapa dari anda bahkan sudah meminta surat rekomendasi gereja untuk sekolah dan anak anda bahkan belum berusia satu tahun. Saya tepuk tangan buat anda untuk hal itu. Tetapi ini kekhawatiran saya. Anda bisa begitu sibuk mempersiapkan anak-anak anda untuk masa depan mereka. Anda memasukkan mereka ke les olahraga, les berenang, les piano, les matematika, les menggambar, les menari, dan semuanya itu baik. Anda memberikan mereka begitu banyak hal yang baik tetapi anda kehilangan hal yang paling penting. Anda tidak pernah meluangkan waktu untuk membantu anak-anak anda mengenal Yesus secara pribadi.

Dan anda berkata, “Itu sebabnya aku membawa mereka ke gereja setiap hari Minggu. Supaya guru ROCK Kids dan ET bisa melakukan tugas mereka.” Dengan segala hormat, bukanlah tanggung jawab guru ROCK Kids dan ET untuk memastikan bahwa anak-anak anda mengenal Yesus. Para orang tua, mendidik anak-anak anda untuk mengenal Yesus adalah tanggung jawab yang Tuhan berikan kepada anda. Saya tidak mengatakan bahwa gereja tidak memiliki peran dalam hal ini. Tetapi saya mengatakan bahwa sering kali anda berharap terlalu banyak dari gereja dan terlalu sedikit dari diri anda sendiri. Para papa, ada yang salah jika anda lebih nyaman mengajari anak-anak anda cara berolahraga daripada mengajari mereka memahami Alkitab. Para mama, ada yang salah jika anda lebih nyaman mengajari anak-anak anda cara merias wajah daripada mengajarkan mereka cara merias hati. Jika anda tidak pernah meluangkan waktu untuk memperkenalkan Yesus secara pribadi kepada anak-anak anda, anda tidak bisa menyalahkan siapa pun selain diri anda sendiri jika anak-anak anda menjauh dari Yesus. Jika yang anda berikan kepada mereka hanyalah pengetahuan tentang Yesus tanpa memuridkan mereka untuk mengenal Yesus, ini sangat berbahaya. Yang akhirnya terjadi adalah anak-anak anda menjadi sangat akrab tentang Yesus tanpa mengenal Yesus.

Ini juga adalah peringatan bagi setiap umat Kristus. Kita bisa begitu akrab tentang Yesus sehingga kita tidak lagi terpesona dengan Yesus. Yesus telah menjadi kebiasaan seminggu sekali bagi kita. Sewaktu saya berada di Surabaya di awal tahun ini, saya bertemu dengan sekelompok orang Kristen yang baru mulai mengerti Injil. Kelompok ini datang dari Jakarta. Mereka menyewa minivan dan melakukan perjalanan bersama dari Jakarta ke Surabaya hanya agar mereka dapat belajar lebih banyak tentang Injil dari gereja Gibeon. Jadi, mereka mengatur pertemuan dengan Ps Michael Chrisdion dan saya ada disitu. Dan saya melihat betapa bersemangatnya mereka untuk belajar lebih banyak tentang Injil. Saya dapat melihat dari ekspresi wajah mereka betapa terpesonanya mereka terhadap keindahan Yesus melalui Injil. Mereka seperti, “Ini adalah berita terbaik yang pernah kami dengar. Bagaimana mungkin kami sudah menjadi orang Kristen bertahun-tahun dan tidak pernah mengetahui hal ini? Tolong beri tahu kami lebih banyak tentang Injil. Kami ingin melihat keindahan Yesus lebih dan lebih lagi.” Kami akhirnya bertemu dan berbicara dengan mereka selama 7 jam. Tetapi bagi banyak dari kita hari ini, ketika kita mendengar tentang Injil, kita seperti, “Oh, si Yosi yang khotbah. Paling dia khotbah Injil lagi *menguap*.” Kita sering mendengar Injil, kita dikelilingi oleh Injil, dan kita tidak melihat betapa istimewanya Injil.

Perhatikan. Tidaklah salah bagi anda untuk bosan dengan khotbah saya. Meskipun jangan terlalu sering. Saya memberikan anda izin untuk bosan dengan khotbah saya sesekali. Tidaklah salah jika anda menguap ketika saya berkhotbah. Bahkan beberapa dari anda sering tidur siang sewaktu saya khotbah. Saya sudah terbiasa dengan itu. Tetapi adalah sangat berbahaya untuk bosan dengan Yesus dan Injil Yesus. Beberapa dari kita telah berada di sekitar Yesus dan Injil begitu lama sehingga kita tidak lagi terkagum olehnya. Dan ini adalah tempat yang sangat berbahaya. Dan bagi beberapa dari anda, di sinilah dimana anda berada sekarang. Anda masih dekat dengan gereja. Anda masih menyebut diri anda seorang Kristen. Tetapi anda tidak lagi kagum dengan Yesus. Anda tidak memiliki masalah apa pun dengan beribadah secara online. Anda justru menyukainya karena anda bisa mengikuti ibadah sambal anda masak, cuci baju, setrika, bersih-bersih rumah, menyelesaikan pekerjaan, sarapan, dan menikmati akhir minggu. Anda cukup tahu tentang Yesus untuk menyebut diri anda seorang Kristen, tetapi sejujurnya, anda bosan dengan Yesus. Dan ini adalah tempat yang sangat berbahaya. Jemaat Tuhan, kita tidak boleh bosan dengan Yesus dan Injil Yesus. Jadi, pertanyaannya adalah, apakah Yesus dan Injil Yesus masih berharga bagi kita? Apakah kita masih memberitakan Injil kepada diri kita sendiri secara terus-menerus? Atau apakah kita sudah terjebak dalam bahaya keakraban? Karena disinilah bahayanya jika kita tidak hati-hati. Generasi pertama menerima Injil, generasi kedua mengasumsi Injil, dan generasi ketiga melupakan Injil. Kita harus waspada terhadap bahaya keakraban. Ini pelajaran pertama yang dapat kita pelajari dari perikop ini.

Bahaya kesederhanaan

Kedua, berhati-hatilah terhadap bahaya kesederhanaan. Alasan mengapa banyak orang di Nazaret menolak Yesus adalah karena Yesus terlalu biasa atau sederhana bagi mereka. Yesus berasal dari keluarga yang sederhana di kota yang sederhana. Dalam pemahaman mereka, Mesias pastinya bukan orang yang biasa saja. Mesias pasti seseorang yang luar biasa dari kelas khusus di Yerusalem. Kesederhanaan Yesus menyinggung pemahaman manusia tentang bagaimana keselamatan seharusnya bekerja. Setiap agama lain mengatakan keselamatan harus mengesankan. Keselamatan membutuhkan usaha yang keras dari manusia untuk mencapai tahap yang lebih tinggi. Tetapi Kekristenan mengatakan keselamatan datang melalui cara yang sangat sederhana. Keselamatan membutuhkan Tuhan untuk datang kepada manusia dan menjalani kehidupan yang sederhana. Tuhan menjadi salah satu dari kita. Dan ini hal yang sangat menyinggung.

Saya berikan sebuah contoh dari Perjanjian Lama. Ketika Naaman, seorang jenderal Siria, mencari kesembuhan untuk penyakit kustanya, dia pergi menghadap raja Israel dengan kekayaannya. Dia ingin membeli kesembuhannya dengan kekayaannya. Tetapi raja Israel tidak dapat menyembuhkannya dan kemudian Naaman pergi menemui nabi Elisa. Dan sekali lagi, Naaman menawarkan kekayaan kepada Elisa untuk menyembuhkan penyakit kustanya. Tetapi Elisa menolak kekayaan Naaman. Sebaliknya, Elisa berkata kepada Naaman bahwa jika dia ingin sembuh dari penyakit kusta, dia harus mencelupkan dirinya ke dalam Sungai Yordan sebanyak tujuh kali. Dan Naaman sangat marah. Naaman tersinggung. Naaman marah bukan karena hal itu terlalu sukar untuk dilakukan. Naaman marah karena hal itu terlalu mudah untuk dilakukan. Naaman marah karena apa yang Elisa katakan tidak sesuai dengan pengertian Naaman. Dia mengharapkan Elisa untuk memberitahu dia untuk membunuh sang naga dan menyelamatkan sang putri. Atau mungkin untuk mendaki ke puncak gunung Himalaya untuk mendapatkan ramuan khusus. Tetapi untuk mencelupkan diri tujuh kali di Sungai Yordan tidak membutuhkan kemampuan atau pencapaian sama sekali. Siapapun bisa melakukan itu. Bahkan seorang idiot atau anak kecil pun bisa melakukan hal itu. Hal itu terlalu mudah. Itu terlalu biasa. Itu terlalu sederhana.

Dapatkah anda melihat masalahnya? Sebelum Naaman mengetahui bahwa Allah dalam Alkitab adalah Allah kasih karunia yang berkatnya tidak dapat diperoleh dengan usaha manusia, dia tidak akan menerima kesembuhannya. Selama Naaman mempertahankan kesuksesan dan kepentingan duniawinya, dia tidak akan mengalami kasih karunia Allah yang berasal dari iman yang tercermin dalam kepercayaan dan ketaatan. Mencelupkan diri tujuh kali adalah perintah yang sangat sulit karena ini adalah perintah yang sangat mudah. Untuk melakukannya, Naaman harus mengakui bahwa dia tidak berdaya dan lemah, dan dia hanya dapat menerima kesembuhannya melalui iman. Naaman harus mengesampingkan pengetahuan dan pola pikir serta pencapaiannya, dan hanya memandang kepada Tuhan. Jadi, daripada datang kepada Tuhan berkata, “Lihat semua yang telah aku lakukan untuk mendapatkan kesembuhanku,Tuhan ingin Naaman memandang kepada Tuhan. Yang Tuhan inginkan dari Naaman adalah kerendahan hati dan iman. Tuhan tidak peduli jika Naaman adalah orang yang hebat dengan pencapaian yang besar. Setiap orang datang kepada Tuhan dengan cara yang sama: kerendahan hati dan iman. Dan ini sangat sulit. Salah satu hal yang tersulit untuk dilakukan adalah mengakui bahwa tidak ada yang dapat kita lakukan dengan usaha kita, dan yang dapat kita lakukan hanyalah menerima secara gratis. Hal ini membuat kita merasa lemah. Ini membuat kita merasa seperti pengemis.

Inti ceritanya adalah bahwa hanya kasih karunia Tuhan yang dapat menyelamatkan kita. Tetapi untuk kita dapat menerima kasih karunia, Tuhan harus terlebih dahulu menghancurkan kemandirian kita. Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk mendapatkan kasih karunia. Anda tidak bisa menaruh harga pada kasih karunia Tuhan. Kasih karunia datang kepada kita sebagai pemberian cuma-cuma dari Tuhan. Dengarkan saya. Tahukah anda mengapa begitu sulit bagi kita untuk menerima kasih karunia? Kasih karunia terlalu sulit karena terlalu mudah. Kasih karunia menuntut kita untuk mengakui ketidakmampuan diri kita sendiri dan hanya berpegang teguh pada Tuhan. Itu menuntut kita untuk mengakui bahwa kita adalah orang yang berdosa sama seperti orang lain. Bahwa kita tidak berbeda dari pelacur dan pembunuh. Yang bisa kita lakukan hanyalah menerima. Dan yang harus kita lakukan hanyalah menerima. Itu saja. Itu sangat biasa. Itu sangat sederhana. Injil adalah kabar baik, tetapi Injil menyinggung harga diri kita karena caranya sangat sederhana. Satu-satunya yang dapat kita bawa kepada Tuhan adalah dosa-dosa kita. Dan satu-satunya yang dapat kita lakukan adalah menerima keselamatan sebagai pemberian cuma-cuma dari Tuhan. Hal ini sangat biasa dan sederhana. Berhati-hatilah terhadap bahaya kesederhanaan.

Tetapi ini sisi lain dari koin. Kasih karunia terlalu sulit karena terlalu mudah. Tetapi kasih karunia terlalu mudah karena terlalu sulit. Perhatikan baik-baik. Kasih karunia tidak terlalu mudah karena murah tetapi karena terlalu sulit. Standar Tuhan sangat tinggi. Tuhan menuntut kesempurnaan atau tidak sama sekali. Dan tidak mungkin bagi kita untuk memenuhi standar Tuhan. Kasih karunia mudah bagi kita karena ada orang lain yang membayar harga yang sulit. Injil adalah kabar baik bagi kita karena Injil adalah kabar buruk bagi satu sosok lain. Tahukah anda mengapa kita menerima kasih karunia Tuhan secara cuma-cuma? Karena Yesus disebut “anak Maria.” Apakah anda tahu apa yang dikatakan orang-orang Nazaret? Mereka berkata, “Yesus, apakah menurutmu kamu hebat? Apakah kamu berpikir kamu adalah seseorang karena kamu dapat mengajar dengan baik dan dapat menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan? Kami akan mengingatkan kamu bahwa kamu bukan siapa-siapa. Kami tahu siapa kamu. Kami tahu sejarahmu. Kami tahu kamu adalah anak Maria. Tapi kami tidak tahu siapa ayahmu. Bisa saja Yusuf, bisa juga orang lain. Ini berarti kamu adalah orang tanpa identitas. Kamu adalah pria tanpa ayah. Kamu bukanlah siapa-siapa. Kamu hanyalah seorang bajingan.” Itulah yang mereka katakan kepada Yesus.

Dan kita mungkin berpikir bahwa tidak adil bagi mereka untuk memperlakukan Yesus seperti itu. Tetapi untuk itulah Yesus datang. Yesus adalah Anak Allah. Namun di kayu salib, Yesus benar-benar menjadi pria tanpa ayah. Apakah anda ingat apa yang dia katakan di kayu salib? “Eloi, Eloi, lama sabachtani. Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkanku?” Di kayu salib, Yesus kehilangan kehadiran Allah Bapa. Mengapa? Bukan karena dia yatim piatu tetapi karena dia menerima penolakan yang pantas kita terima. Secara lahiriah, kita adalah musuh Tuhan. Kita adalah anak-anak Setan. Dan kita sama seperti orang-orang Nazaret. Kita menolak Yesus dan kita tidak dapat percaya kepada Yesus. Tidak peduli berapa banyak tanda yang kita lihat dengan mata kita, kita buta terhadap kemuliaan dan kebesaran Yesus karena dosa-dosa kita. Dan kita pantas menerima hukuman kekal karena dosa-dosa kita. Tetapi Yesus dengan sukarela mengambil apa yang pantas kita terima karena kasih. Yesus mengambil penolakan terbesar dari Tuhan sehingga ketika kita menaruh iman kita kepada Yesus, kita mendapatkan penerimaan terbesar dari Tuhan. Penolakan Yesus adalah penerimaan kita. Kita menerima penerimaan kita secara cuma-cuma karena Yesus telah ditolak di kayu salib. Dan sekarang, karena Yesus, kita menjadi anak-anak Allah. Kita memiliki Allah semesta alam sebagai Bapa kita. Dan tidak ada yang dapat mengeluarkan kita dari keluarga Allah. Ketika kita menaruh iman kita kepada Yesus, nama kita bukanlah “anak Maria.” Nama kita selamanya adalah “anak Allah Yang Mahatinggi.”

Pertanyaanya, apakah anda melihat itu? Apakah anda melihat Yesus mendapatkan penolakan terbesar yang pantas anda terima sehingga anda dapat dibawa masuk ke dalam keluarga Allah? Apakah kebenaran ini melelehkan hati anda? Apakah Injil membuat anda takjub? Atau apakah anda sudah jatuh ke dalam perangkap keakraban dan kesederhanaan? Kapan terakhir kali anda kagum dengan Yesus dan Injil Yesus? Doa saya adalah agar anda tidak pernah bosan dengan Yesus dan Injil Yesus. Mari kita berdoa.

Discussion questions:

  1. Have you ever gotten bored with Jesus? What happened?
  2. Look at the questions the crowd throw at Jesus in verses 2 and 3. What are their problems with Jesus? Can you see the same problem in you?
  3. Why Jesus could do no mighty work in Nazareth? Explain the relationship between miracles and the proclamation of the gospel.
  4. There are two main dangers that we must avoid: Familiarity and ordinary. Which one resonance the most with you? Why?
  5. How does the gospel enable us to avoid the two dangers?
  6. List out some specific practical steps that you can do in your daily life to avoid these dangers. 
No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.