Mau dibawa kemana… – Apr 12

By: Marta Steviana Untariady

 

Sebuah keluarga terbentuk didasari kasih Kristus dan dijalankan dengan usaha yang terus menerus dari kedua belah pihak untuk mengalirkan kasih Kristus yang tanpa batas. Sekilas cerita “Love finds a way” dalam keluarga Eric dan Ana Tjhen.

 

Apakah sejak awal, pernikahan sudah dan harus menjadi tujuan utama dari hubungan Eric dan Ana?

 

Kami diperkenalkan oleh seorang teman di satu pelayanan misi ROCK Sydney. Awalnya Eric suka Ana karena cantik tapi ternyata semakin dikenal, Ana tidak hanya cantik luarnya tapi juga cantik hatinya. Cantik di hati menjadi prioritas bagi Eric untuk memilih pasangan hidup. Akhirnya setelah beberapa kali bertemu, Eric mulai yakin kalo she is the one for Him.

 

Menurut prinsip kami, pacaran bukan untuk coba-coba atau iseng karena akan membuang-buang waktu. Tujuan pacaran ialah untuk mengetahui apakah pasangan kita merupakan yang terbaik untuk menghabiskan hidup bersama dalam menjalani visi Tuhan. Sebelum kami memulai pacaran, kami meminta ijin dulu dengan orang tua kami dan meminta Ps.Lydia(sebagai orang tua rohani kami) berdoa untuk hubungan kami.

 

Setelah 2 tahun pacaran kami menikah dan saat ini hanya karena kasih karunia Tuhan, usia pernikahan kami memasuki tahun ke enam tanggal 5 Maret. Kami sudah dikaruniai 2 orang anak.  

 

Dengan adanya 2 orang anak, terbukti Eric masih ‘romantis’. Apa kuncinya?

 

Tidak mudah untuk mempertahankannya dengan kehadiran 2 anak, namun kami berdua berusaha untuk menjaga keromantisan yang ada agar api cinta itu tidak padam. Selain komitmen, api cinta adalah salah satu hal penting yang perlu dijaga oleh masing-masing pihak. Kehangatannya haruslah tetap terasa meski waktu berputar.

Beberapa hal yang kami lakukan ialah mengirim sms/email dengan kata-kata cinta yang manis, tidak pelit untuk memuji, memberi kejutan di hari spesial (tidak perlu mahal, asal dengan sepenuh hati). Kuncinya ialah mencoba untuk menjadi kreatif dan terus improve dalam mengekspresikan kasih.

 

Selain itu, setelah anak-anak tidur, kami pun tetap menjaga quality time dengan mengobrol diselingi canda tawa, menonton film romantis komedi, membangun fondasi terpenting yaitu mezbah keluarga (berdoa dan memuji Tuhan bersama) dan berkomitmen untuk menyelesaikan masalah (saling minta maaf) sebelum tidur di malam hari. No more me, my self and I. It is becoming “Us”.

 

Bagaimana ‘Love finds a way’ diaplikasikan dalam keluarga?

 

Cinta bukan hanya sekedar perasaan yang menyenangkan , tetapi komitment – janji untuk setia. Tanpa komitmen, perasaan cinta dapat pudar sebab perasaan dapat naik atau turun menurut situasi hidup. Cinta adalah rahasia kekuatan hidup, karena cinta dapat membuat kita mampu untuk melakukan hal-hal yang kita anggap kita tidak mampu. Dan sumber cinta ini ialah kasih dari Bapa di Sorga (1 Yohanes 4:8 “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih”).

 

Sebenarnya kasih, yang adalah Bapa sendiri, yang akan menyatakan pribadi-Nya (finds a way) melalui sikap hidup di dalam rumah tangga melalui perbuatan memberi, menerima dan kompromi. Menikah tidak untuk menjadi sama tetapi menjadi satu, menerima dan melihat perbedaan sebagai suatu keindahan, untuk berubah mejadi lebih baik. Hanya kasih Bapa yang memampukan untuk saling mengasihi di tengah perbedaan yang ada. Dan yang terakhir, kami mau tetap menjadikan Tuhan sebagai kepala dalam rumah tangga, sehingga kebenaranNya yang akan membimbing kami senantiasa. Mau dibawa kemana keluarga kami oleh Bapa… kami menurut.

Tags:
,
No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.