Penguasaan diri – Jul 11

 

By: Ps. Lydia Yusuf 

 

“… orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota” Amsal 16:32b.

 

Penguasaan diri juga merupakan buah Roh - Galatia 5: 22 – 23.

 

“Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya”. Galatia 5:24.

 

Buah Roh penguasaan diri adalah bukti kemurahan hati Allah bagi anak- anakNya; pemberian Allah ini ditujukan kepada orang-orang yang dilanda perasaan bersalah dan kecewa karena tidak mampu melakukan kehendak Bapa. Allah tidak mungkin menuntut kita, anak-anakNya, untuk melakukan sesuatu yang mustahil. Ia juga tidak mengharapkan kita mengalahkan kedagingan kita dengan kekuatan fisik kita; sebaliknya Allah telah menyediakan benih-benih kekuatan dan penguasaan diri yang bersifat adikodrati. Yang perlu kita lakukan adalah menerima Kuasa Roh Kudus, menumbuhkan dan mempraktekkannya dalam kehidupan.

 

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu dan kamu akan menjadi saksiKu di Yeru- salem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Kisah Rasul 1:8.

 

25“Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.” 27“Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” 1 Korintus 9:25, 27.

 

Banyak orang memulai perlombaan sebagai yang terdepan tetapi berakhir sebagai nomor kesekian. Tidak peduli bagaimana anda memulai atau seberapa sengitnya sebuah pertandingan tetapi mahkota atau medali ditentukan oleh bagaimana hasil akhir sebuah pertandingan. Tujuan kita adalah mengakhiri pertandingan iman dengan baik. Untuk itu ada hal-hal yang perlu kita perhatikan saat memulai dan menjalani pertandingan hidup ini.

 

John Stephen Akhwari, pelari maraton asal Tanzania terkenal Penguasaan diri adalah kualitas yang diberikan Roh, yang memampukan kita untuk “menguasai diri dalam segala hal”. Bukan karena memenangkan pertandingan tetapi karena tercatat sebagai pelari paling akhir yang memasuki stadion Mexico City, 20 Oktober 1968. Para penonton yang masih tinggal memberikan tepuk tangan dan sorak sorak kepada John yang terjatuh sejak kilometer awal sehingga mengalami luka cukup parah pada lututnya. Setelah dirawat lukanya, John dengan terpincang-pincang meneruskan pertandingan lari maraton yang masih tersisa lebih dari 40 km.

 

Secara teknis bisa saja John berhenti tetapi ia tetap berdiri dan menyelesaikan sampai garis akhir. Seorang wartawan bergegas menjumpai John setelah usai pertandingan dan bertanya: ‘John mengapa engkau terus berlari? Bukankah engkau sudah tertinggal jauh dan tidak mungkin menjadi juara?’ John menjawab, ‘negaraku mengirim aku bukan hanya untuk mengawali pertandingan tetapi untuk menyelesaikannya!!!’

 

Perjalanan hidup kita mengikut Tuhan adalah perjalanan hidup yang panjang dan penuh perjuangan. Hal ini diumpamakan seperti kita mengikuti pertan- dingan maraton; tanpa penguasaan diri, keteguhan dan semangat, kita akan cenderung berhenti dan gagal, sebelum mencapai garis akhir.

 

“Aku telah mengakhiri pertan- dingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman”. 2 Timotius 4:7

 

Beberapa contoh orang-orang yang dipilih dan diurapi Tuhan secara luar biasa tetapi karena tidak bisa menguasai dirinya, hidupnya berakhir dengan sia-sia. Saul, awalnya dipilih dan diurapi sebagai raja pertama bangsa Israel. Ia memulai sebagai raja yang bijaksana dan taat akan Allah tetapi dalam perjalanannya karena tidak melatih penguasaan diri, maka dia banyak melakukan ketidaktaatan sehingga hidupnya berakhir dengan tragis, mati tertancap pedangnya sendiri.

 

Kedudukan dan keberhasilan seringkali membuat seseorang lupa diri. Seseorang yang pada awalnya rendah hati dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, bisa berubah setelah mendapatkan kedudukan. Dia berubah menjadi orang yang mengandalkan dirinya sendiri atau mengandalkan talenta yang Tuhan berikan kepadanya.

 

Motivasi melayani Tuhan yang awalnya murni, bisa berubah tanpa disadari menjadi mencari keuntungan bagi diri sendiri. Hanya dengan kemauan untuk menguasai diri sehingga bisa menyalibkan keinginan daging (berkorban) dan menjaga kemurnian hati untuk tidak mementingkan diri sendiri, yang membuat kita sanggup menjalani dan mengakhiri pertandingan ‘maraton’ dengan baik.

 

Simson, sejak dalam kandungan sudah mendapat nubuatan besar; bertumbuh menjadi pemuda yang perkasa. Singa dicabik-cabik seperti merobek kertas. Tetapi dalam perjalanannya, dia tidak melatih penguasaan diri, sehingga selalu mengikuti keinginan daging nafsu mudanya. Akhir hidupnya pun sia-sia: kepalanya digunduli, matanya dicungkil dan di- jadikan pelawak di depan raja- raja bangsa Filistin.

 

Sikap berlebihan dalam hal menikmati makanan, istirahat, bekerja, rekreasi, pelayanan dan hal-hal baik lainnya, dapat kita ubah hanya dengan penguasaan diri.

 

Penguasaan diri menuntut latihan, kedisiplinan dan kesabaran dengan mata yang tertuju kepada Tuhan Yesus, teladan yang sempurna bagi kita.

 

“Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!” 2 Timotius 4:5.