Bertumbuh Dengan Menyingkirkan Batu-Batu

“Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.” Matius 13:5, 6

Benih yang dimaksudkan di atas adalah firman Tuhan. Dan tanah yang berbatu-batu itu adalah hidup dari sebagian kita. Saat benih itu ditabur, ia segera tumbuh, tetapi saat matahari terbit ia akan segera layu karena tidak berakar, karena tanah di mana benih itu jatuh adalah tanah yang berbatu-batu. Hari ini kita mau belajar bersama-sama bagaiman supaya kita dapat bertumbuh dan tidak layu saat matahari menyinari.

Firman yang ditabur atas hidup kita akan segera memproses hidup kita; dan pada saat itu, jika firman ditabur di atas tanah yang subur, maka akan ada akar yang terus bertumbuh tambah dalam dan semakin dalam lagi. Ketahuilah bahwa yang membuat akar itu tumbuh kuat dapat terjadi melalui proses yang diijinkan terjadi lewat teman kita, mungkin pacar, atau suami, istri, pemimpin kita, dll.

“Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad.” (Matius 13:20, 21)

Janganlah kita terlalu cepat bertumbuh dan waktu diproses kita langsung mundur ataupun jatuh.

Salah satu alasan kenapa akar itu tidak dapat bertumbuh kuat ke dalam adalah karena tanah yang berbatu-batu. Untuk itu, supaya benih yang ditabur dapat bertumbuh, kita perlu membuang batu-batu yang menghalangi pertumbuhan akar tersebut. Biarkan akar itu tumbuh ke dalam sampai kuat, dan jangan cepat bertumbuh ke atas terlebih dahulu.

Hal kedua yang perlu kita ketahui supaya dapat bertumbuh adalah memiliki fokus hidup yang benar. Marilah kita melihat kehidupan salah satu karakter di dalam Alkitab:

“Yoas berumur tujuh tahun pada waktu ia menjadi raja, dan empat puluh tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Zibya, dari Bersyeba. Yoas melakukan apa yang benar di mata TUHAN selama hidup imam Yoyada.” (2 Tawarikh 24:1, 2; 2 Raja-raja 12:2)

Dikatakan di dalam firman di atas bahwa Yoas hidup benar di mata Tuhan selama hidup imam Yoyada. Memang luar biasa sekali, apalagi Yoas sudah menjadi raja sejak ia berumur tujuh tahun. Yoas hidup di dalam bimbingan imam Yoyada.

Tetapi jika kita membaca lebih jauh, kita akan melihat bagaimana Yoas jatuh ke dalam dosa.

“Sesudah Yoyada mati, pemimpin-pemimpin Yehuda datang menyembah kepada raja. Sejak itu raja mendengarkan mereka. Mereka meninggalkan rumah TUHAN, Allah nenek moyang mereka, lalu beribadah kepada tiang-tiang berhala dan patung-patung berhala. Oleh karena kesalahan itu Yehuda dan Yerusalem tertimpa murka.” (2 Tawarikh 17, 18)

Apa yang terjadi setelah Yoyada meninggal dunia? Yoas lalu mendengarkan manusia, dan bukan kepada Tuhan. Karena itu Yoas meninggalkan rumah Tuhan dan beribadah kepada berhala.

Kenapa hal ini bisa sampai terjadi? Pertama-tama perlu kita ketahui bahwa iman Yoas ikut mati bersama-sama dengan kematian Yoyada. Yoas telah memfokuskan hidupnya selama ini kepada Yoyada, dan bukan kepada Tuhan. Inilah kesalahan pertama dari Yoas.

Lalu kesalahan kedua dapat kita temukan dari firman Tuhan di ayat berikut ini: “Yoas melakukan apa yang benar di mata TUHAN seumur hidupnya, selama imam Yoyada mengajar dia. Namun demikian, bukit-bukit pengorbanan tidaklah dijauhkan. Bangsa itu masih mempersembahkan dan membakar korban di bukit-bukit itu.” (2 Raja-raja 12:2, 3)

Selama hidupnya, Yoas masih berkompromi dengan dunia. Ia tidak menghancurkan semua berhala yang ada, sehingga orang Yehuda masih terus dapat mempersembahkan korban kepada berhala.

Hari ini, marilah kita belajar dari pelajaran ini. Janganlah kita hidup dalam kompromi dengan dunia (Kolose 3:5-10).

“Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.” Kolose 2:7

Tags:
No Comments

Post A Comment