Cara-cara menghadapi masa sulit dalam hidup

Yakobus 4:13-17 “Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah. Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.”

Tuhan akan membiarkan ilalang tumbuh bersama-sama dengan benih. Yang jahat akan semakin bertambah jahat, yang baik bertambah baik.

Kita harus mendasari rencana hidup kita atas Tuhan. Apapun yang terjadi tahun ini tidak akan mempengaruhi apa yang akan terjadi di tahun depan. Prediksi tahun depan seharusnya tidak berdasarkan kegagalan atau keberhasilan kita tahun ini.

Markus 8:31, 32 “Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia.”

Tuhan Yesus memberitahukan apa yang akan terjadi atas hidup-Nya, dan semuanya adalah prediksi yang tidak baik. Tahun depan akan semakin sulit dari tahun ini. Banyak orang menganggap anak-anak Tuhan tidak seharusnya mengalami kesusahan. Tetapi ingatlah, seperti Ayub, maupun Tuhan Yesus, kesusahan bisa saja rencana dan proses dari Tuhan.

Berikut adalah beberapa proses kejiwaan menghadapi krisis: 1. Denying 2. Anger 3. Compromise 4. Defense 5. Total Defeat

Cara-cara mengatasi masa-masa sulit di tahun depan: i) Acceptance Dengan menerima keadaan yang sulit kita akan bertumbuh, hubungan Tuhan akan lebih indah melalui krisis dan masalah. Tuhan merubah kita bagaimana menghadapi situasi dan masalah. Kita akan mengalami perubahan sudut pandang yang akan menghasilkan identitas baru, yang akhirnya membuat kita lebih intim dengan Tuhan.

Acceptance – New Identity – New Relationship – New Scenario (About God)

ii) Suffering produces eternal weight of glory 2 Korintus 4:17 “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.”

Dalam level tertentu, stress itu berguna. Kita tidak akan pernah bisa mencapai target yang bagus tanpa stress. Tetapi janganlah biarkan stress menjadi depresi.

Ayub 3:24-26 “Karena ganti rotiku adalah keluh kesahku, dan keluhanku tercurah seperti air. Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku. Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul.””

Ayub mengalami stress juga, tetapi ia tidak membiarkannya menjadi suatu depresi.

Ingatlah bahwa semua keadaan yang kita hadapi tidak permanen. Jangan pernah mengharapkan orang lain yang berubah, tetapi kitalah yang harus berubah.

Janganlah kita punya mental kalah. Kita bisa saja gagal dalam satu hal tetapi bukan berarti kita gagal dalam hidup kita. Seorang murid bisa saja gagal dalam satu mata pelajaran, tetapi bukan berarti dia gagal sebagai seorang murid.

Dalam menghadapi masalah, janganlah kita membuat hal itu menjadi hal pribadi (personal). Jangan terintimidasi dengan hal-hal yang kurang baik bagi kita. Jangan biarkan hal-hal seperti itu menyerang kita.

Filipi 3:8 “Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus”

Di dalam menghadapi masalah, biarlah kita hanya terfokus kepada Kristus. Segalanya yang lain adalah sia-sia dibanding dengan Kristus. Jangan mencari hal-hal yang sementara tetapi carilah yang kekal.

Mazmur 66:8-12 “Pujilah Allah kami, hai bangsa-bangsa, dan perdengarkanlah puji-pujian kepada-Nya! Ia mempertahankan jiwa kami di dalam hidup dan tidak membiarkan kaki kami goyah. Sebab Engkau telah menguji kami, ya Allah, telah memurnikan kami, seperti orang memurnikan perak. Engkau telah membawa kami ke dalam jaring, mengenakan beban pada pinggang kami; Engkau telah membiarkan orang-orang melintasi kepala kami, kami telah menempuh api dan air; tetapi Engkau telah mengeluarkan kami sehingga bebas.”

Tags:
No Comments

Post A Comment