Elia dan Elisa di akhir Jaman

“dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.” Lukas 1:17

Tuhan akan membangkitkan roh dan kuasa Elia supaya hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya, dan hati orang-orang durhaka kepada jalan kebenaran.

Jika hati bapa-bapa tidak kembali kepada anak-anaknya maka segala kesuksesan, kekayaan ataupun kehebatan akan menjadi sia-sia semuanya.

Ayat dari Injil Lukas ini sebenarnya pengualangan dari kitab Maleakhi 4:5-6. Ayat-ayat yang diulang di dalam Alkitab menekankan kepada kita kepada ayat-ayat yang penting.

Mengapa ayat ini penting? Sebab ayat ini ditujukan kepada kita di jaman sekarang ini sebenarnya. Di jaman ini kedurhakaan sudah merajarela di mana-mana; tidak ada lagi loyalitas di jaman ini. Jangan salah mengerti antara arti kata “loyal” dan “faithful”. Loyal adalah kesetiaan tanpa pamrih dan juga tanpa batas waktu, sedangkan “faithful” ada jangka waktunya.

Contoh hubungan yang “loyal” adalah hubungan antara orang-tua dan anak.

“”Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan. Juga ke atas hamba-hambamu laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu.” Yoel 2:28-29

Tuhan menghasihi anak-anak muda dan Ia ma mencurahkan pengurapan ganda di akhir jaman sama seperti pengurapan ganda yang diterima oleh Elisa. Roh Elia akan membangkitkan anak-anak muda bagi Tuhan di akhir jaman.

Sebenarnya Elia buka nabi yang terlalu hebat, ia juga pernah gagal dan meminta Tuhan untuk mengambil nyawanya.

“Ketika Ahab memberitahukan kepada Izebel segala yang dilakukan Elia dan perihal Elia membunuh semua nabi itu dengan pedang, 19:2 maka Izebel menyuruh seorang suruhan mengatakan kepada Elia: “Beginilah kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu.” 19:3 Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana. 19:4 Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.”” 1 Raja-Raja 19:1-4

Di tengah perjalan Elia meninggalkan bujangnya di Bersyeba. Perhatikan di sini bagaimana bujangnya tidak memaksakan dirinya untuk terus mengikuti Elia, dan bandingkan kejadian ini dengan Elisa yang juga mau ditinggal oleh Elia.

“Firman TUHAN kepadanya: “Pergilah, kembalilah ke jalanmu, melalui padang gurun ke Damsyik, dan setelah engkau sampai, engkau harus mengurapi Hazael menjadi raja atas Aram. 19:16 Juga Yehu, cucu Nimsi, haruslah kauurapi menjadi raja atas Israel, dan Elisa bin Safat, dari Abel-Mehola, harus kauurapi menjadi nabi menggantikan engkau. 19:19 Setelah Elia pergi dari sana, ia bertemu dengan Elisa bin Safat yang sedang membajak dengan dua belas pasang lembu, sedang ia sendiri mengemudikan yang kedua belas. Ketika Elia lalu dari dekatnya, ia melemparkan jubahnya kepadanya. 19:20 Lalu Elisa meninggalkan lembu itu dan berlari mengikuti Elia, katanya: “Biarkanlah aku mencium ayahku dan ibuku dahulu, lalu aku akan mengikuti engkau.” Jawabnya kepadanya: “Baiklah, pulang dahulu, dan ingatlah apa yang telah kuperbuat kepadamu.” 19:21 Lalu berbaliklah ia dari pada Elia, ia mengambil pasangan lembu itu, menyembelihnya dan memasak dagingnya dengan bajak lembu itu sebagai kayu api; ia memberikan daging itu kepada orang-orangnya, kemudian makanlah mereka. Sesudah itu bersiaplah ia, lalu mengikuti Elia dan menjadi pelayannya.” 1 Raja-Raja 19:15-16, 19-21

Membajak dengan dua ekor lembu saja sudah sulit, Elisa membajak dengan dua belas pasang lembu; ini berarti bahwa Elisa memiliki “spirit of excellence” bahkan sebelum diurapi oleh Elia. Seperti Elisa, kita juga layak memberikan yang terbaik kepada Tuhan dan jangan menunggu urapan Tuhan untuk turun terlebih dahulu.

Perhatikan di sini, ketika Elisa dipanggil untuk melayani Tuhan ia dalam keadaan yang sangat sukses dan bukan pada waktu gagal atau kekurangan. Jangan menunggu Tuhan melakukan sesuatu terlebih dahulu sebelum kita melakukan yang terbaik dalam hidup ini.

Kita membaca di atas bahwa Elia memberikan jubahnya kepada Elisa, artinya apa yang Elia dapat dari Tuhan akan diberikan juga kepada Elisa, dengan kata lain Elisa ditunjuk oleh Tuhan untuk menjadi penerus Elia.

Sebelum Elisa mengikuti Elia, ia terlebih dahulu pamitan dengan orang-tuanya dan mencium mereka. Elisa menghormati orang-tuanya dan tidak menyombongkan diri walau dipanggil oleh Tuhan menjadi penerus Elia.

Elisa rela dari seorang yang sukses, seorang yang memiliki banyak pelayan menjadi seorang yang tidak memiliki apa-apa dalam hal materi dan menjadi pelayan Elia. Dengan Elisa menyembelih semua lembunya ia menunjukkan bahwa ia tidak berencana atau berkeinginan untuk kembali lagi kepada hidupnya yang lama.

Sama seperti bujangnya Elia yang ditinggal di Bersyeba, Elia juga hendak meninggal Elisa, namun Elisa menolaknya dan memaksa untuk terus setia mengikuti Elia.

Baca: 2 Raja-Raja 2:1-15

“But Jehoshaphat asked, “Is there no prophet of the Lord here, that we may inquire of the Lord through him?” An officer of the king of Israel answered, “Elisha son of Shaphat is here. He used to pour water on the hands of Elijah.”” 2 Kings 3:11

Mencuci tangan seseorang mempunya arti atau tanda seoarang hamba dan juga tanda suatu loyalitas. Loyalitas tidak menuntut “rewards”, tetapi tidak ada loyalitas yang tidak di berikan “rewards”.

Tags:
No Comments

Post A Comment