From Dream to Dominion

Jika kita berjalan dalam tuntunan visi maka kita akan mengalami satu fase yang namanya “dead phase” di mana seolah-olah visi kita mati.

“Dan Salomo menunjukkan kasihnya kepada TUHAN dengan hidup menurut ketetapan-ketetapan Daud, ayahnya; hanya, ia masih mempersembahkan korban sembelihan dan ukupan di bukit-bukit pengorbanan. Pada suatu hari raja pergi ke Gibeon untuk mempersembahkan korban, sebab di situlah bukit pengorbanan yang paling besar; seribu korban bakaran dipersembahkan Salomo di atas mezbah itu. Di Gibeon itu TUHAN menampakkan diri kepada Salomo dalam mimpi pada waktu malam. Berfirmanlah Allah: “Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu.”” 1 Raja-Raja 3:3-5

Ayat yang baru saja kita baca menunjukkan raja Salomo yang pada waktu itu masih berjalan dalam perintah atau kebenaran ayahnya, Daud. Salomo belum mempunyai hubungan pribadi dengan Tuhan. Berjalan dalam berkat ayah itu tidak salah, tetapi jangan biarkan hal ini berjalan terlalu lama dan menghambat hubungan pribadi dengan Tuhan secara langsung.

“Lalu Salomo berkata: “Engkaulah yang telah menunjukkan kasih setia-Mu yang besar kepada hamba-Mu Daud, ayahku, sebab ia hidup di hadapan-Mu dengan setia, benar dan jujur terhadap Engkau; dan Engkau telah menjamin kepadanya kasih setia yang besar itu dengan memberikan kepadanya seorang anak yang duduk di takhtanya seperti pada hari ini. Maka sekarang, ya TUHAN, Allahku, Engkaulah yang mengangkat hamba-Mu ini menjadi raja menggantikan Daud, ayahku, sekalipun aku masih sangat muda dan belum berpengalaman.” 1 Raja-Raja 3:6-7

Di hadapan Tuhan Salomo seperti seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa, dia tidak puas dengan apa yang dimilikinya sekarang.

“Demikianlah hamba-Mu ini berada di tengah-tengah umat-Mu yang Kaupilih, suatu umat yang besar, yang tidak terhitung dan tidak terkira banyaknya. Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?” Lalu adalah baik di mata Tuhan bahwa Salomo meminta hal yang demikian.” 1 Raja-Raja 3:8-10

Ketika Tuhan bertanya kepada Salomo: “mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu”, Salomo meminta hikmat dan kebijaksanaan untuk memimpin bangsa Israel yang besar. Sebenarnya pada waktu bangsa Israel belum lah besar. Yang dilakukan Salomo di sini, ketika melihat bangsa Israel, adalah melihat bangsa ini dari pandangan Tuhan. Tuhan sendiri yang berkata bahwa Ia akan menjadikan bangsa Israel bangsa yang besar.

Kisah yang kita baru saja baca ini menceritakan bagaimana Tuhan bertemu dengan Salomo secara pribadi. Pertanyaannya untuk setiap kita adalah apakah kita sudah mengalami hal yang sama, di mana Tuhan mendatangi kita secara pribadi?

Apa sebenarnya kunci dari keberhasilan Salomo yang membuat hal ini dapat terjadi?

Kunci pertama terdapat pada ayat ke-3 yang kita sudah baca: “Dan Salomo menunjukkan kasihnya kepada Tuhan”.
Kunci kedua adalah Salomo “mempersembahkan korbah sembelihan dan ukupan” dan bukan hanya sembarang persembahan, Firman Tuhan mencatat “seribu korban bakaran dipersembahkan Salomo”. Bukan hanya memberi, tapi berkorban itulah yang dilakukan oleh Salomo. Jika kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan maka kita tidak akan meminta apa-apa melainkan berkorban bagi Tuhan.

If you love God you will sacrifice everything for Him.

Ada suatu cerita tentang seorang hamba Tuhan yang bernama Loren Cunningham, dia adalah pendiri dari satu organisasi yang bernama Youth With A Mission (YWAM). Loren diberikan visi dari Tuhan untuk membeli suatu kapal yang akan dipakai untuk misi. Loren berusaha keras untuk mengumpulkan dana supaya visi ini tercapai. Namun suatu hari Tuhan memberikan Loren mimpi di mana di dalam mimpi tersebut ia melihat kapal ini berlayar semakin dekat kepadanya, namun Tuhan Yesus semakin menjauh darinya. Lebih dekat kapal itu mendekat kepada Loren, semakin jauh Tuhan pergi darinya. Lalu di dalam mimpi ini Tuhan berkata kepadanya: “Apakah kau lebih ingin visimu ini menjadi kenyataan atau kau lebih menginkan Aku?”.

Jangan kita terlalu fokus kepada visi atau mimpi yang ada sampai kita lupa fokus kita kepada Tuhan. Kita adalah orang-orang yang egois jika kita lebih mementingkan untuk mencapai visi lebih dari pada Tuhan.

Di dalam pelayanan kita, janganlah kita melayani karena kewajiban, melainkan karena kita sunguh-sunguh mengasihi Tuhan.

Tags:
No Comments

Post A Comment