Hidup Bijaksana Dalam Pencobaan

Tujuannya: untuk mengerti bagaimana hidup berintegritas, ketika dalam pencobaan, ujian, masalah atau tekanan. Setiap kita pasti menghadapinya dan kunci untuk hidup bijaksana adalah mengerti bahwa ada hasil significant dari menghadapi pencobaan dengan pertolongan Tuhan.

Yakobus 1:2 “Saudara-saudaraku anggaplah sebagai suatu kebahagiaan apabila kamu jatuh kedalam berbagai-bagai pencobaan.”  

Bukan berarti bahwa Yakobus menyangkali sakitnya pencobaan tetapi dia menjelaskan bahwa pencobaan-pencobaan itu membantu kita untuk menjadi sebagaimana kita seharusnya. Ini bagian dari perjalanan menuju Integritas.

Ujian terhadap iman kita menghasilkan:

  1. Ketekunan
  2. Kedewasaan
  3. Hikmat
  4. Cara pandang yang berbeda

Ad 1 Ketekunan – ayat 3 “sebab kamu tahu bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.”  

Oleh kemurahan Tuhan pencobaan menghasilkan kekuatan untuk bertahan, ketetapan untuk tidak menyerah; membangun otot-otot rohani dan menghasilkan manusia Illahi yang dewasa. Cara bijak menghadapi pencobaan adalah melihat bahwa bagaimanapun juga kesakitan-kesakitan tsb menghasilkan.

Yohanes 15:1-8 dipotong, dibersihkan – sakit tetapi menghasilkan buah yang lebat.

Roma 5:3-4

3 Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita karena kita tahu bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,  

4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji (karakter) dan tahan uji (karakter) menimbulkan pengharapan.

Ad 2 Kedewasaan – ayat 4 “Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.”

Dalam alkitab TNIV, sempurna dikatakan mature (dewasa) belum 100% sempurna.

Jadi ketika bertekun dalam pencobaan, itu membuat kita dewasa rohani. Respon yang bijaksana terhadap pencobaan, cara untuk bertahan adalah melihat Tuhan dalam proses tsb, bahkan di tengah-tengah ketidakmengertian terhadap pencobaan dan masalah yang terjadi, kita bisa bertahan sehingga karakter Yesus muncul dalam hidup kita!   

Ad 3 Hikmat – ayat 5 “Tetapi apabila diantara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, –yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit maka hal itu akan diberikan kepadanya.”  

Pencobaan memaksa kita berdoa, mencari wajahNya, bergantung sama Tuhan, despret pertolonganNya dan membutuhkan hikmatNya. Tidak hanya tau tentang Firman, sampai kita melakukannya dan mengubah cara hidup kita. Hikmat adalah meresponi pencobaan dengan tindakan yang benar, ketaatan yang benar.

Amsal 3:6 Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.  

Ad 4 Cara pandang yang berbeda – ayat 9-12.

9 Baiklah saudara yang berada dalam keadaan yang rendah bermegah karena kedudukannya yang tinggi,  

10 dan orang kaya karena kedudukannya yang rendah sebab ia akan lenyap seperti bunga rumput.  

11 Karena matahari terbit dengan panasnya yang terik dan melayukan rumput itu sehingga gugurlah bunganya dan hilanglah semaraknya. Demikian jugalah halnya dengan orang kaya; di tengah-tengah segala usahanya ia akan lenyap.  

12 Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.

Jangan menerima penilaian, pandangan dunia untuk apapun juga yang terjadi, hiduplah dengan standard Kerajaan. Ketika semuanya terjadi…arahkan hatimu kepada kekekalan.

Ayub 19:25-26

25 Tetapi aku tahu: Penebusku hidup dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu.  

26 Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingkupun aku akan melihat Allah.  

Pengharapan adalah elemen vital dari hidup bijaksana dalam pencobaan bahkan Rasul Paulus berkata kita dapat bersukacita dalam penderitaan karena akan menghasilkan ketekunan, tahan uji (karakter) dan pengharapan > Roma 5:3-4.

2 Korintus 4:17-18

17 Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.  

18 Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan karena yang kelihatan adalah sementara sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.  

Belajar dari kehidupan Ayub..dia orang yang saleh, jujur, takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Ketika Ayub bertahan dalam pencobaan-pencobaan berat yang terjadi dalam hidupnya, dia menerima hasil yang significant (Ayub 42:10; 12-17).

Tags:
No Comments

Post A Comment