Day By Day Revelation

Pada jam 5 pagi, Roh Kudus membangunkan saya dan menuntun untuk merubah kotbah yang sudah saya siapkan untuk hari ini. Saya bertanya kepada Tuhan apa yang harus saya sampaikan kepada jemaat, Tuhan menunjukkan bahwa Firman Tuhan di Alkitab menceritakan kisah-kisah tentang, anak-anak Tuhan, hamba-hamba Tuhan, pelayan-pelayan Tuhan dan murid-murid Tuhan, bukan tentang orang dunia. Pesan Tuhan ini khusus untuk para jemaat yang sedang banyak mengalami masalah-masalah akhir-akhir ini.

Markus 4: 35-41 menceritakan tentang Yesus meredakan angin ribut ketika Ia sedang berada di atas perahu bersama dengan murid-muridNya.

“Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: “Marilah kita bertolak ke seberang.” (Markus 4:35) Ini adalah pernyataan Tuhan untuk satu fase tertentu dalam kehidupan kita. Bagian pertama dari ayat 35 berkata, “Pada hari itu, waktu hari sudah petang…” Petang berarti setengah terang, setengah gelap pada waktu sore/senja. Ini berbicara tentang masa in-between, ketika pewahyuaan lama mulai pudar dan yang baru belum keluar. Waktu persiapan untuk masa yang baru. Pengertian ini adalah untuk orang-orang yang hidup benar, yang sedang berjalan dengan Tuhan, sama seperti murid-murid Yesus yang berada di atas perahu bersama-sama dengan Dia.

 “Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia.” (Markus 4:36) Di sini terjadi pengurangan. Di terjemahan bahasa Inggrisnya, dari €˜multitude€™ menjadi €˜little boats€™. The most high and precious calling adalah dipanggil menjadi kecil, menjadi satu perahu dengan Tuhan. Markus 3:13 berkata, “Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan merekapun datang kepada-Nya.” Tidak semua orang dikehendaki dan dipanggil. Kita dipanggil bukan untuk cuma menyatakan kuasaNya, tapi untuk bersendirian dengan Dia.  The most precious and personal calling is to come personally to Him. Banyak orang yang tidak tahan dengan panggilan untuk berdua saja dengan Tuhan. Berdua dengan Tuhan itu jauh lebih berat daripada beribadah beramai-ramai bersama. Panggilan tertinggi dalam hidup adalah untuk intim dengan Raja kita. That€™s our highest ministry. Apa yang Tuhan taruh dalam hati kita setelah itu kita jalani sebagai pelayanan kita. Seperti panggilan tertinggi seorang istri adalah untuk intim dan mengerti suaminya, bukan masak, jahit baju, mencuci, dll. Seperti juga the highest form of communication yang tidak memerlukan kata-kata. God will communicate with us according to our spiritual maturity, whether by using baby language or adult language.

 “Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air.” (Markus 4:37) Murid-murid Yesus bertolak ke seberang karena perintah Yesus. Mereka berjalan dengan Yesus, intim dengan Dia dan menuruti perintahNya. Tapi badai tetap datang. Ini bukan karena Yesus tertidur. Tuhan tidak pernah tertidur. Pertanyaannya, kenapa Yesus sampai tertidur? Walaupun Yesus di perahu tetapi murid-muridNya tidak berkomunikasi denganNya. Mereka menempatkan Yesus di posisi penumpang. Mungkin karena mereka tidak mau menganggu Yesus. Ini walaupun kelihatannya rohani tetepai sebenarnya adalah religious spirit. Mentalitas €˜kalau aku butuh Tuhan aku akan cari Tuhan, kalau tidak butuhTuhan tidur saja di sana.€™ Yesus dibiarkan tertidur.  Pada waktu kita membiarkan Tuhan tidak terlibat dan kita berjalan dalam visi general/corporate yang sudah diberikan, kita tidak akan kuat ketika badai dan gelombang datang. Kita perlu visi dan tuntunan Tuhan hari lepas hari! Kita perlu tuntunan yang spesifik, bukan hanya general.

Ketika air masuk ke kapal sampai mulai penuh, baru murid-murid Yesus menuduh, “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” (ayat 38). Di ayat 40, Yesus berkata kepada mereka, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Terjemahan bahasa Inggrisnya, “Why are you so fearful?” Fear is different from fearful. Takut bukan dosa, tapi dikuasai takut itu dosa. Takut adalah perasaan yang wajar ketika sedang berjalan dalam tuntunan Tuhan dan mengalami badai. “Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal” (Filipus 4:7) bukan berarti tidak pernah takut. Takut ada tapi tidak mengalahkan kita. The boldness from God gives us peace. Yosua 1:9 berkata, “…Kuatkan dan teguhkanlah hatimu…” Pesan ini diberikan karena ada problem di depan kita. Banyak orang yang disertai Tuhan tapi Tuhannya €˜tidur€™ because we are in command, we don€™t let God to be in command. Apakah Tuhan memerintah dalam dirimu atau Tuhan hanya kau bawa kemana-mana? Kalau Tuhan hanya kita bawa, maka kita akan mengalami Markus 4:35-41, sama seperti murid-murid Yesus. Kita akan takut, kuatir dan berpikir Tuhan tidak perduli.

Bawa Tuhan dalam setiap aspek kehidupanmu. Kalau Tuhan yang menjadi nakhoda, walau badai dan ombak menerjang Tuhan akan memimpin kita melewatinya. Pada waktu kita tidak tahu apa yang terjadi, dalam lembah kekelaman, melewati badai kehidupan, TRUST HIM. Trust God bukan berdasarkan tuntunan/pernyataan Tuhan yang lama, tapi cari wajahNya untuk mendapatkan tuntunan baru setiap hari. Dalam setiap masalah Tuhan menyiapkan kekuatan-kekuatan baru sebab kalau tidak demikian, tidak ada orang yang bisa bertahan.

 Saya menerima pesan Tuhan melalui Mazmur 71:19-24 ketika sedang berada di Amerika dan sudah saya bagikan di Kingdom Gathering. Akan ada “great and severe troubles” but God will “…revive us…from the depths of the earth.” (verse 20). Ketika badai datang ke dalam kehidupan kita, iman kita bisa tiba-tiba lenyap. Tetapi Firman Tuhan yang diperkatakan setiap hari, akan menjadi sumber kekuatan yang membawa kita melalui badai.

 Badai gelombang tidak akan menghancurkan hidup kita. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Penyertaan Tuhan tetap ada, seperti Markus 4: 39, “Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.”

Penyertaan Tuhan yang lama tidak lagi kita bisa pakai. Dalam setiap masalah Tuhan mempunyai solusi yang baru. Jangan pernah engkau pakai iman lama/standard untuk menghadapi masalah baru yang timbul tanpa dasar rhema yang jelas. Let God guide you through day-by-day revelation.

Tags:
No Comments

Post A Comment