Hidup Berkenan Kepada Allah

“Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia mengaruniakan hikmat, pengetahuan dan kesukaan, tetapi orang berdosa ditugaskan-Nya untuk menghimpun dan menimbun sesuatu yang kemudian harus diberikannya kepada orang yang dikenan Allah. Inipun kesia-siaan dan usaha menjaring angin.” Pengkhotbah 2: 26

Hari ini marilah kita belajar bersama-sama tentang bagaimana hidup seorang yang berkenan kepada Allah. Orang yang hidup berkenan kepada Allah itu bukan hanya menyenangkan Allah, tetapi juga menyenangkan manusia di sekitar orang itu. Berikut ini adalah beberapa hal dari hidup orang yang berkenan kepada Tuhan:

1. Suka memberi kepada orang miskin dan lemah “Di Kaisarea ada seorang yang bernama Kornelius, seorang perwira pasukan yang disebut pasukan Italia. Ia saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah. Dalam suatu penglihatan, kira-kira jam tiga petang, jelas tampak kepadanya seorang malaikat Allah masuk ke rumahnya dan berkata kepadanya: “Kornelius!” Ia menatap malaikat itu dan dengan takut ia berkata: “Ada apa, Tuhan?” Jawab malaikat itu: “Semua doamu dan sedekahmu telah naik ke hadirat Allah dan Allah mengingat engkau.” (Kisah Para Rasul 10: 1-4)

Kornelius bukanlah orang Yahudi, tetapi dia memberkati orang Yahudi. Karena kemurahan hatinya, segala yang Kornelius lakukan dilihat dan berkenan di mata Tuhan (ayat ke-4). Apakah ada rasa belas kasihan di dalam hidup kita seperti yang ada pada Kornelius?

“Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.” (Amsal 19: 17)

2. Bekerja sungguh-sungguh untuk Tuhan “Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.” (Kolose 3: 22-24)

Apapun juga yang kita lakukan, biarlah kita lakukan dengan sungguh-sungguh seperti untuk Tuhan. Jika kita masih bersekolah, sekolahlah dengan sungguh-sungguh. Jikalau kita bekerja, bekerjalah dengan sungguh-sungguh. Janganlah kita bekerja hanya melihat upahnya. Marilah kita mempunyai sikap hati yang benar di dalam segala sesuatu yang kita lakukan, dan Tuhan sendiri yang akan membalasnya. (Efesus 6: 5-8)

3. Mengembalikan Perpuluhan “Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?” Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus! Kamu telah kena kutuk, tetapi kamu masih menipu Aku, ya kamu seluruh bangsa! Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.” (Maleakhi 3: 8-10)

Orang yang hidupnya berkenan kepada Tuhan adalah orang yang mengembalikan perpuluhan kepada-Nya, yaitu sepersepuluh dari hasil dan berkat yang orang itu terima. Segala yang kita miliki adalah miliknya Tuhan, dan janganlah kita sekali-kali hitung-hitungan dengan Tuhan.

4. Menjaga perkataan yang keluar dari mulut “Beginilah berbicara satu sama lain orang-orang yang takut akan TUHAN: “TUHAN memperhatikan dan mendengarnya; sebuah kitab peringatan ditulis di hadapan-Nya bagi orang-orang yang takut akan TUHAN dan bagi orang-orang yang menghormati nama-Nya.”” (Maleakhi 3: 16)

Segala perkataan yang keluar dari mulut kita dicatat oleh Tuhan. Marilah kita menjaga perkataan kita, supaya tidak ada perkataan sia-sia yang keluar dari mulut kita.

5. Hormati dan hargai orang yang Tuhan urapi “Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?”” (Kisah Para Rasul 9: 3, 4)

Saulus menganiaya orang-orang Kristen. Dan bagi Tuhan itu sama dengan menganiaya diri-Nya. Kita perlu menghormati orang-orang yang Tuhan urapi.

Tags:
No Comments

Post A Comment