Lapar dan Haus akan Tuhan

“Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.” Matius 5:6

Bagi orang yang sedang lapar makanan apa saja pasti akan disantapnya. Umumnya orang yang lapar tidak banyak memilih apa yang akan disantapnya. Orang Kristen yang lapar juga tidak banyak memilih, contohnya dalam hal memilih berjemaat di gereja tertentu dan memilih untuk mendengarkan kotbah hanya kalau pengkhotbah yang disukainya berkotbah. Orang yang lapar dan haus tidak memilih makanan yang enak-enak saja. Bagi orang Kristen yang lapar dan haus, dia tidak akan memilih pengajaran yang enak saja.

Dalam soal makan, banyak orang Kristen yang merasa puas hanya makan seminggu sekali, yaitu saat mereka datang ke gereja pada hari minggu. Yang perlu dipertanyakan adalah, mengapa orang tersebut tidak lapar dan haus walau hanya makan seminggu sekali?

Jawabannya adalah karena orang-orang yang seperti itu mengisi kelaparan mereka dengan makanan-makanan yang lain. Makanan yang mereka makan sepanjang minggu adalah kepuasan jasmani mereka, nonton, baca komic, pacaran, gossip, dan lain lain.

Tuhan kita adalah Tuhan yang baik, dan Dia membuat kita untuk menjadi lapar dan haus dengan cara mendesain masalah dalam hidup kita. Tuhan bukan hanya mengijinkan masalah, tetapi Dia sendiri yang mendesain masalah bagi hidup kita. Supaya apa? Supaya kita lapar dan haus akan Tuham, dan lalu akhirnya mengisi kelaparan kita dengan Firman Tuhan.

Adalah tanggung jawab setiap kita orang percaya untuk membuat diri kita tetap lapar dan haus akan Tuhan; yaitu dengan tidak mengisi kelaparan kita dengan hal-hal lain selain dengan Firman Tuhan.

Ada empat hal yang dapat dilakukan oleh orang lapar:

1. Desperate dan nekad Contoh hal ini dapat kita baca dalam suatu kejadian di dalam 2 Raja-Raja 6:24-29. Kejadian ini menceritakan tentang kelaparan yang begitu hebat yang membuat orang-orang desperate dan akhirnya berlaku nekad.

Saya ingin menjelaskan bahwa desperate dan nekad sewaktu kita lapar dan haus akan Tuhan adalah nekad dalam hal positif, bukan yang negatif.

Orang-orang yang desperate berani untuk mengambil resiko (2 Raja-Raja 7:3-8). Dan setiap langkah orang lapar yang sungguh-sungguh mencari Tuhan akan melihat Tuhan bekerja dan melakukan mujizat.

2. Berbahaya bagi orang lain Ketika raja Daud dan para prajuritnya kembali ke kemah mereka di Ziglak dan melihat bahwa Ziklag telah dikalahkan dan dibakar habis, bahkan anak-anak dan istri mereka sudah ditawan oleh orang Amalek, maka rakyat ingin melempari Daud dengan batu.

1 Samuel 30:11-15 – Di tengah perjalan Daud dan para prajuritnya yang sedang mengejar orang Amalek, mereka menolong seorang Mesir yang adalah budak orang Amalek. Setelah ditolong budak ini akhirnya berbalik dan memihak kepada Daud, karena budak ini sudah hampir mati ketika ditemui oleh Daud, sebab memang sudah tiga hari tiga malam ia tidak makan dan minum. Karena dia lapar dan haus budak ini menjadi seorang yang sangat berbahaya bagi orang Amalek, karena dia menunjukkan jalan kepada Daud di mana orang Amalek berada.

3. Orang lapar adalah orang yang berani Ruth 1:1-5 Karena kelaparan hebat, Elimelekh dengan berani meninggal Betlehem, yaitu rumah roti, kepada Moab. Elimelekh berani mempertaruhkan nyawanya karena karena kelaparan.

“Perempuan itu menjawab: “Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati.”” 1 Raja-Raja 17:12

Orang yang lapar juga berani menghadapi segala masalah, bahkan kematian dengan tenang.

4. Orang lapar adalah orang yang menemukan destiny dalam hidupnya Di dalam Ayub 13:15 tertulis: “Lihatlah, Ia hendak membunuh aku, tak ada harapan bagiku, namun aku hendak membela peri lakuku di hadapan-Nya.”

Di dalam Alkitab Bahasa Indonesia ayat di atas telah diterjemahkan dengan salah, sebab Ayub tetap berharap kepada Tuhan walau dalam semua masalah yang sedang dihadapi nya. Di dalam Alkitab Bahasa Inggris, pada ayat yang sama tercatat demikian: “Though he slay me, yet will I hope in him; I will surely defend my ways to his face.” (NIV)

Ayub adalah contoh seorang yang telah menemukan destiny dalam hidupnya. Di tengah-tengah masalah yang hebat, dia tetap menaruh pengharapanya kepada Tuhan.

Tags:
No Comments

Post A Comment