Melangkah dalam hikmat

Amsal 4:10-27

Hai anakku, dengarkanlah dan terimalah perkataanku, supaya tahun hidupmu menjadi banyak. Aku mengajarkan jalan hikmat kepadamu, aku memimpin engkau di jalan yang lurus. Bila engkau berjalan langkahmu tidak akan terhambat, bila engkau berlari engkau tidak akan tersandung. Berpeganglah pada didikan, janganlah melepaskannya, peliharalah dia, karena dialah hidupmu. Janganlah menempuh jalan orang fasik, dan janganlah mengikuti jalan orang jahat. Jauhilah jalan itu, janganlah melaluinya, menyimpanglah dari padanya dan jalanlah terus. Karena mereka tidak dapat tidur, bila tidak berbuat jahat; kantuk mereka lenyap, bila mereka tidak membuat orang tersandung; karena mereka makan roti kefasikan, dan minum anggur kelaliman. Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari. Jalan orang fasik itu seperti kegelapan; mereka tidak tahu apa yang menyebabkan mereka tersandung.

Hai anakku, perhatikanlah perkataanku, arahkanlah telingamu kepada ucapanku; janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di lubuk hatimu. Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka. Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. Buanglah mulut serong dari padamu dan jauhkanlah bibir yang dolak-dalik dari padamu. Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka. Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan.

 

Hari ini kita hidup dalam budaya yang penuh dengan pilihan. Sekitar 50-100 tahun yang lalu, kehidupan sangat berbeda. Jika anda dibesarkan di sebuah peternakan dan orang tua anda adalah petani, kemungkinan besar anda juga akan menjadi petani. Jika anda lahir di Bali, kemungkinan besar anda akan menghabiskan sisa hidup anda di Bali. Tetapi hari ini sangat berbeda. Hari ini anda bisa lahir di Bali, dibesarkan di Sydney, sekolah di Amerika, dan tinggal di Eropa. Kita bebas untuk menjadi apa yang kita inginkan, tinggal di tempat yang kita inginkan, dan melakukan apa yang ingin kita lakukan. Kita memiliki pilihan. Dan setiap pilihan yang kita buat akan membawa kita ke suatu tempat. Setiap pilihan yang kita ambil memiliki konsekuensi. Itu berarti kita tidak pernah lebih membutuhkan hikmat dari yang kita butuhkan sekarang karena hikmat adalah kemampuan untuk mengambil pilihan yang bijaksana. Timothy Keller mendefinisikan hikmat demikian. “Hikmat adalah kemampuan untuk mengetahui apa yang benar untuk dilakukan dalam 80% situasi kehidupan di mana aturan moral tidak berlaku.” Jadi, hikmat bukan hanya mengetahui apa yang benar dan salah, tetapi juga kemampuan untuk membuat pilihan yang tepat dalam situasi di mana benar dan salah tidak berlaku.

Itulah mengapa hikmat sangatlah penting. Sebagian besar situasi yang kita hadapi dalam hidup tidak tercakup dalam aturan moral. Sebagai contoh, apakah anda harus tinggal di Australia atau Indonesia? Keduanya diperbolehkan secara moral. Alkitab tidak menentang kedua pilihan tersebut. Keduanya tidak berdosa. Tetapi jika anda salah memilih, jika anda memilih tanpa hikmat, anda bisa kehilangan banyak kesempatan yang seharusnya anda dapatkan. Hidup anda akan terlihat sangat berbeda. Anda membangun atau menghancurkan hidup anda berdasarkan pilihan. “Apakah ini pekerjaan yang tepat untuk aku? Haruskah aku pindah ke perusahaan lain? Haruskah aku memulai usaha sendiri? Apakah ini gereja yang tepat untuk aku? Haruskah aku pindah ke gereja yang berbeda? Haruskah aku memasukkan anakku ke sekolah Kristen? Atau aku memasukkan mereka ke sekolah publik? Apakah ini orang yang tepat untuk dinikahi?”

Untuk semua situasi ini, anda tidak dapat membuka Alkitab dan menemukan ayat-ayat Alkitab yang memberikan jawaban spesifik untuk situasi anda. Jika anda seorang wanita single, anda berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, tolong beritahu aku nama pria yang akan menjadi suamiku. Aku akan membuka Alkitab dan nama pertama yang aku lihat dalam Alkitab akan menjadi nama suamiku.” Anda membuka Alkitab anda dan nama pertama yang anda lihat adalah Nebukadnesar. Selamat mencari. Jadi, bagaimana kita dapat mengambil pilihan yang tepat? Bagaimana kita dapat melangkah dalam hikmat? Inilah inti khotbah saya dalam satu kalimat. Alkitab tidak memberikan kita panduan khusus untuk banyak situasi yang kita hadapi dalam hidup, tetapi Alkitab membantu kita untuk menjadi orang yang mengambil pilihan-pilihan yang bijaksana. Apakah anda mengikuti saya? Jadi pertanyaannya adalah, bagaimana kita dapat menjadi orang yang dapat mengambil pilihan-pilihan yang bijaksana? Itulah yang akan kita bicarakan hari ini.

Saya memiliki tiga poin untuk khotbah saya: karakter; hati; firman.

 

 

Karakter

Amsal 4:10-13 – Hai anakku, dengarkanlah dan terimalah perkataanku, supaya tahun hidupmu menjadi banyak. Aku mengajarkan jalan hikmat kepadamu, aku memimpin engkau di jalan yang lurus. Bila engkau berjalan langkahmu tidak akan terhambat, bila engkau berlari engkau tidak akan tersandung. Berpeganglah pada didikan, janganlah melepaskannya, peliharalah dia, karena dialah hidupmu.

Alkitab sering berbicara tentang kehidupan sebagai sebuah jalan. Menjalani hidup diibaratkan seperti melangkah di sebuah jalan. Melangkah di jalan berarti melakukan sesuatu yang sangat sederhana dan biasa. Itu adalah sesuatu yang anda lakukan berulang-ulang. Bagaimana anda membuat kemajuan di jalan dimana anda berada? Kadang-kadang dalam keadaan darurat, anda bisa berlari. Anda juga bisa melompat dan menari. Tetapi cara utama anda membuat kemajuan adalah dengan melangkah. Anda meletakkan satu kaki di depan kaki yang lain dan anda mengulanginya lagi dan lagi. Kaki kanan, kaki kiri, kaki kanan, kaki kiri, dan seterusnya. Itu membosankan. Itu monoton. Itu mudah dilakukan. Itu adalah aktivitas sederhana yang diulang setiap hari, namun aktivitas tersebut membawa anda ke suatu tempat. Langkah-langkah anda membawa anda ke tempat dimana anda tidak berada sebelumnya. Dan kitab Amsal menawarkan dua jalan yang berbeda: jalan hikmat dan jalan orang fasik. Itu saja. Tidak ada jalan ketiga. Ini berarti hanya ada dua kemungkinan di akhir perjalanan kita: kita menjadi orang yang bijaksana, atau kita menjadi orang yang fasik. Dan setiap saat dalam hidup kita membawa kita lebih dekat ke tujuan. Begitulah cara karakter dibangun. Karakter tidak ditentukan oleh peristiwa-peristiwa besar yang dramatis dalam hidup, tetapi oleh pilihan-pilihan yang kita ambil setiap hari. Pilihan-pilihan kecil yang kita ambillah yang menentukan karakter kita.

Hal ini mungkin berbeda dengan apa yang kita pikirkan. Kita berpikir bahwa yang mendefinisikan kehebatan adalah satu pencapaian besar atau satu momen keputusan yang memukau dunia. Sebagai contoh, Daniel dan gua singa. Kita kagum dengan keberanian Daniel untuk mengambil keputusan melawan perintah Raja Darius. Dia dimasukkan ke dalam gua singa dan Tuhan mengutus malaikat-Nya untuk menutup mulut singa-singa yang lapar. Kita ingin memiliki hikmat dan keberanian seperti Daniel. Tetapi kita lupa bahwa keberanian Daniel adalah hasil dari dia berlutut dan berdoa kepada Tuhan tiga kali sehari selama puluhan tahun. Pilihan-pilihan kecil yang dibuat Daniel selama puluhan tahun itulah yang memampukannya untuk menghadapi masalah besar di depannya dan membuat pilihan yang bijaksana. Jadi hikmat adalah sebuah jalan. Izinkan saya mengatakannya dengan cara lain. Hikmat bukanlah sebuah pintu. Anda tahu apa yang saya maksudkan? Jika hikmat adalah sebuah pintu, yang harus kita lakukan adalah membuka pintu, masuk ke dalam pintu, dan voila, kita menjadi bijaksana. Satu detik kita tidak berhikmat, detik berikutnya kita menjadi bijaksana. Tetapi bukan seperti itu cara kerja hikmat. Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa apa yang kita perlukan untuk melangkah dengan hikmat adalah sebuah pengetahuan rahasia, sebuah pengalaman tertentu, dan jika kita memilikinya, maka kita menjadi bijaksana. Tidak. Hikmat bukanlah sebuah pintu; hikmat adalah sebuah jalan. Dan dalam ayat 10 sampai 13, Salomo mendorong kita untuk berjalan di jalan hikmat. Dia ingin kita berpegang pada hikmat karena hikmat adalah kehidupan.

Namun, lihatlah kontras dalam Amsal 4:14-15 – Janganlah menempuh jalan orang fasik, dan janganlah mengikuti jalan orang jahat. Jauhilah jalan itu, janganlah melaluinya, menyimpanglah dari padanya dan jalanlah terus. Salomo membandingkan jalan hikmat dengan jalan orang fasik. Perhatikan apa yang terjadi. Ini menarik. Di awal jalan, kita memiliki pilihan. Kita dapat memilih jalan mana yang akan kita tempuh. Salomo berkata, “Anakku, janganlah kamu memasuki jalan orang fasik. Jauhi jalan itu. Berbeloklah ke jalan yang lain.” Ini berarti kita masih memegang kendali. Kita dapat memutuskan apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Dengan kata lain, Salomo mengatakan, “Jika kamu tahu kamu berada di jalan yang salah, ubahlah jalan itu sesegera mungkin. Jangan menunggu terlalu lama. Kamu masih memegang kendali. Buatlah pilihan yang tepat.” Mengapa? Lihat apa yang terjadi kemudian pada orang-orang yang berada di jalan yang salah. Amsal 4:16-17 – Karena mereka tidak dapat tidur, bila tidak berbuat jahat; kantuk mereka lenyap, bila mereka tidak membuat orang tersandung; karena mereka makan roti kefasikan, dan minum anggur kelaliman. Mereka tidak dapat tidur bila tidak berbuat jahat, dan kantuk mereka lenyap bila mereka tidak membuat orang tersandung. Apakah anda tahu apa itu? Itu adalah bahasa kecanduan. Itu adalah bahasa obsesi. Mereka ingin tidur, tetapi mereka tidak bisa tidur. Kenapa? Karena mereka tidak memiliki apa yang mereka inginkan. Ada orang lain yang memiliki apa yang mereka inginkan. Dan mereka harus menjatuhkan orang tersebut sebelum mereka dapat tidur. Apakah anda melihat apa yang terjadi? Kelihatannya pilihan kita tidak berbahaya pada awalnya. Itu hanya pilihan-pilihan kecil. Sepertinya mereka tidak memiliki konsekuensi yang besar. Tetapi pilihan-pilihan kecil itu membawa kita ke jalan kehancuran. Mereka membentuk karakter kita.

Dan lihatlah kontras antara tujuan orang bijak dan orang fasik. Amsal 4:18-19 – Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari. Jalan orang fasik itu seperti kegelapan; mereka tidak tahu apa yang menyebabkan mereka tersandung. Jalan orang bijak menuju ke tempat yang sangat terang, dan jalan orang fasik menuju ke tempat yang sangat gelap di mana mereka tidak tahu apa yang membuat mereka tersandung. Pernahkah anda terbangun di tengah malam di kamar yang gelap, dan mencoba untuk pergi ke toilet dan menabrak bingkai tempat tidur ketika anda berjalan? Mari saya beritahu, saya biasanya tidak omong kotor. Cukup sampai disitu. Apa yang terjadi? Kegelapan membuat anda tidak bisa melihat situasi dengan baik. Hikmat adalah tentang melihat situasi dengan mata yang jernih. Tetapi orang yang berjalan dalam kegelapan tidak dapat melihat situasi dengan jernih. Banyak hal yang tidak beres dalam hidup mereka, tetapi mereka tidak tahu mengapa. Akibatnya, mereka membuat pilihan-pilihan yang bodoh dan mengacaukan hidup mereka.

Tetapi bagaimana anda bisa masuk ke dalam kegelapan yang dalam ini? Bagaimana anda masuk ke dalam obsesi ini? Anda tidak sampai ke tempat ini dalam semalam. Ini adalah sebuah jalan. Ini adalah hasil pilihan-pilihan kecil yang anda buat setiap hari. Anda sampai di sana selangkah demi selangkah. Saya berikan contoh. Ada sebuah artikel di majalah Time tentang wawancara dengan seorang pria di penjara. Ketika ia masih kecil, ayahnya memiliki sebuah jam tangan emas. Suatu hari anak itu menyelinap ke kamar ayahnya dan melihat jam tangan ayahnya lalu memakainya. Namun karena jamnya terlalu besar, jam tangan itu terjatuh dan kacanya retak. Ketika ayahnya mendapati jam tangannya retak, dia mengumpulkan semua orang di rumah untuk menanyakan siapa yang memecahkan jam tangannya. Anak kecil ini tidak pernah mengaku dan bahkan menutupi kesalahannya. Dalam wawancara, dia mengatakan bahwa selama bertahun-tahun dia selalu memiliki kebiasaan yang sama yaitu berbohong dan menutupi kesalahannya serta tidak mau bertanggung jawab. Bertahun-tahun kemudian, dia mengendarai mobilnya di malam hari dan menabrak seorang anak kecil dan anak itu meninggal. Dan bukannya bertanggung jawab, dia malah meninggalkan tempat kejadian dan melarikan diri. Dia akhirnya tertangkap dan dijatuhi hukuman penjara hampir sepanjang hidupnya. Dalam wawancara tersebut, ia mengatakan bahwa yang menentukan nasibnya bukanlah tabrak lari tersebut, melainkan pilihan-pilihan kecil yang ia buat selama bertahun-tahun. Kebiasaan dan keputusan yang dia buat untuk menutupi kesalahan dan menghindari tanggung jawablah yang membentuk karakternya dan pada akhirnya menentukan jalan hidupnya.

Apakah anda bisa lihat? Bukan peristiwa-peristiwa besar yang terjadi, melainkan pilihan-pilihan kecil yang kita ambil setiap hari yang akan membentuk karakter kita dan menentukan tujuan hidup kita. Dan pilihan-pilihan itu tidak terjadi dengan sendirinya. Pilihan-pilihan itu adalah sebuah perjuangan. Hikmat mengharuskan kita untuk terus-menerus mengambil pilihan-pilihan kecil yang tepat selama bertahun-tahun. Hikmat adalah karakter yang dibangun melalui pilihan-pilihan kecil yang kita ambil dalam jangka waktu yang panjang. Hikmat adalah sesuatu yang bertahap. Tidak ada jalan pintas menuju hikmat. Dan jalan hikmat memberitahukan hal ini kepada kita: Tuhan lebih tertarik untuk menjadikan kita orang yang dapat membuat pilihan yang bijaksana daripada memberi tahu kita pilihan bijaksana yang harus kita ambil. Anda mengikuti saya? Saya tahu apa yang ada di pikiran anda saat ini. “Oke, kalau begitu, jika aku ingin menjadi orang yang bijaksana, aku hanya perlu terus menerus mengambil pilihan yang tepat. Begitulah cara aku membangun karakterku.” Ya, dan tidak. Ya, kita harus terus membuat pilihan yang tepat untuk membangun karakter, tetapi tidak, tidak semudah itu. Karena kita tidak bisa membangun karakter hanya karena kita memiliki kemauan. Ini membawa saya ke poin kedua.

 

 

Hati

Amsal 4:23 – Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.

Inilah alasan mengapa kemauan saja tidak cukup untuk mengubah hidup kita. Alkitab mengatakan bahwa apa pun yang kita lakukan, terpancar dari hati kita. Bahasa Inggrisnya berkata bahwa hati adalah the spring of life; mata air kehidupan. Apakah yang dimaksud dengan mata air? Mata air bukanlah sebuah kolam. Mata air adalah aliran air yang mengalir. Jadi jika hati adalah mata air, itu berarti apapun yang kita lakukan keluar dari hati. Dan ini sangat berbeda dengan cara kita berpikir. Sebagai contoh, jika kita melihat seorang anak yang suka mencuri, kita berpikir bahwa anak tersebut harus dididik karena kita berpikir bahwa dengan pendidikan, anak yang suka mencuri akan menjadi orang yang baik. Namun seringkali setelah dia memiliki gelar master, jika dulu dia hanya mencuri beberapa dolar, sekarang dia mencuri jutaan dolar dari perusahaannya. Mengapa? Karena masalahnya bukan di kepalanya tetapi di hatinya. Itulah sebabnya Salomo mengatakan kepada kita untuk menjaga hati dengan segala kewaspadaan. Jadi, apakah hati itu? Ketika kita berpikir tentang hati, kita sering berpikir tentang perasaan dan emosi. Namun, Alkitab tidak mendefinisikan hati seperti itu. Salomo tidak mengatakan bahwa hati adalah mata air perasaan; hati adalah mata air kehidupan. Dengan kata lain, perhatikan. Alkitab mengatakan bahwa apa yang ada di dalam hati kita tidak hanya menentukan perasaan kita, tetapi juga tindakan kita, pikiran kita, dan cara kita memandang segala sesuatu. Segala sesuatu dalam hidup kita berasal dari apa yang terjadi di dalam hati. Hati adalah pusat dari segala sesuatu yang kita lakukan, perkatakan, pikirkan, dan rasakan. Hati adalah ruang kendali yang menentukan siapa kita. Perhatikan ayat-ayat berikutnya.

Amsal 4:24-27 – Buanglah mulut serong dari padamu dan jauhkanlah bibir yang dolak-dalik dari padamu. Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka. Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan. Ketika hati kita benar, maka itu akan mengubah segala sesuatu tentang kita. Ketika hati kita benar, kita menjaga perkataan kita (ayat 24). Ketika hati kita benar, kita memandang segala sesuatu dengan benar (ayat 25). Ketika hati kita benar, kita berperilaku dengan benar (ayat 26-27). Apakah anda mengerti? Semuanya mengalir dari hati. Mengapa? Karena hati kita adalah apa yang kita yakini kita harus miliki untuk memiliki kehidupan. Hati kita adalah tempat kasih kita yang terbesar. Ada hal-hal yang kita katakan, “Jika aku memiliki ini, jika aku memiliki itu, maka aku akan bahagia. Maka aku akan memiliki kehidupan. Maka aku tahu bahwa aku adalah sesuatu. Maka aku tahu bahwa aku berharga.” Kita semua memiliki hal-hal yang kita percaya kita harus miliki untuk memiliki kehidupan yang baik. Dan apa pun yang dicintai oleh hati kita akan mempengaruhi segala sesuatu yang lain. Timothy Keller mengatakannya dengan sangat indah. “Apa yang dicintai hati, pikiran akan menerima dan menganggapnya masuk akal, emosi akan menginginkan dan menganggapnya indah, kehendak akan melakukan dan menganggapnya praktis.” Jadi, ini yang harus kita mengerti. Apa pun yang paling dicintai oleh hati kita akan menentukan cara kita mengambil keputusan. Apapun yang paling dicintai hati kita akan mempengaruhi cara kita membuat pilihan.

Saya akan memberikan anda beberapa contoh. Jika memiliki uang bukan hanya hal yang baik tetapi juga merupakan hal yang paling penting bagi anda, itu adalah hal utama yang membuat anda merasa aman, yang membuat anda merasa berarti, itu akan memengaruhi cara anda membuat keputusan. Anda akan memilih pekerjaan yang tidak sesuai dengan anda. Anda akan memilih pekerjaan berdasarkan seberapa banyak gaji yang anda terima. Akibatnya, anda akan lebih cepat kelelahan dan merasa kosong daripada orang lain. Atau anda akan membuat keputusan gaya hidup yang tidak bijaksana. Anda ingin memiliki gaya hidup mewah dan untuk mewujudkannya, anda mengeksploitasi orang lain. Anda bahkan mungkin melakukan hal-hal yang tidak jujur untuk mempertahankannya. Anda melakukan investasi saham dengan berlebihan. Namun yang anda tidak sadari adalah semua pilihan tersebut merusak status ekonomi anda. Semua itu adalah cara yang paling mungkin membawa kehancuran finansial. Dengan kata lain, jika uang adalah hal yang paling penting dalam hidup anda, anda akan membuat pilihan-pilihan yang justru membuat anda kehilangan hal yang paling anda inginkan. Semua keputusan anda akan melemahkan anda untuk memiliki keamanan finansial dalam hidup.

Katakanlah apa yang paling diinginkan oleh hati anda adalah pernikahan yang harmonis. Anda merasa, “Jika pasanganku tidak mengasihi aku lebih dari segalanya, hidupku tidak memiliki arti. Aku tidak akan pernah bahagia dalam hidup.” Jika itu adalah hal yang paling penting bagi hati anda, ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Pertama, anda akan sangat menuntut dari pasangan anda. Pasangan anda haruslah orang yang sempurna, dan segala sesuatu haruslah indah karena pasangan anda harus membuat hidup anda menjadi lengkap. Atau yang kedua, anda akan sangat pasif dalam pernikahan anda karena anda takut mengecewakan pasangan anda dan kehilangan kasih pasangan anda. Anda akan menjadi sangat tergantung dan terkendali secara emosional dengan pasangan anda. Dengan kata lain, jika pernikahan adalah hal yang paling penting bagi anda, semua pilihan dan keputusan anda akan membuat anda tidak bahagia dalam pernikahan.

Beberapa contoh lagi. Bagaimana jika anda membangun hidup anda di kehidupan anak-anak anda? Kebahagiaan anak-anak anda, kesuksesan mereka, masa depan mereka, adalah hal yang paling utama dalam hidup anda. Apakah anda menyadari apa yang akan terjadi? Anda akan mendisiplinkan mereka secara berlebihan, anda akan mengontrol hidup mereka karena semuanya harus baik sesuai dengan keinginan anda, dan anda akan menghancurkan hubungan anda dengan mereka di kemudian hari. Atau anda akan tidak pernah mengoreksi mereka karena anda tidak tahan jika mereka marah pada anda. Anda akan memanjakan mereka dan memberikan apa pun yang mereka inginkan. Anda takut untuk berkata tidak kepada mereka dan itu akan menghancurkan kehidupan anak-anak anda. Dengan kata lain, jika anak-anak adalah hal yang paling penting dalam hidup anda, cara anda membuat pilihan dan keputusan akan merusak hal yang paling anda inginkan. Bukannya memiliki anak-anak anda, anda justru akan kehilangan mereka.

Bagaimana jika pekerjaan adalah yang paling penting? “Karierku adalah hal yang terutama bagiku. Aku akan melakukan apa pun untuk memajukan karierku.” Tahukah anda apa yang akan anda lakukan? Anda akan bekerja terlalu keras, yang berarti anda akan memilih pekerjaan daripada kesehatan mental, kesehatan emosional, dan kesehatan fisik. Anda akan memilih pekerjaan daripada hubungan. Anda akan memilih pekerjaan daripada keluarga. Anda akan memilih pekerjaan daripada komunitas. Anda akan membuat semua pilihan yang akan merusak kemampuan anda untuk bekerja dengan baik dalam jangka panjang.

Bagaimana jika penampilan, jika status social… Saya bisa terus memberikan contoh, namun inilah maksud saya. Apa yang dicintai oleh hati kita akan mendorong semua yang kita lakukan. Dan jika hati kita mencintai sesuatu yang lebih dari Tuhan, kita akan kehilangan segalanya. Kita adalah orang yang bodoh. Anda bisa lihat? Hanya ketika hati kita mengasihi Tuhan di atas segalanya, barulah kita dapat mengambil keputusan yang bijaksana. Jika Tuhan tidak menjadi pusat dari apa hati kita cintai, jika Tuhan bukanlah satu-satunya yang kita tidak dapat hidup tanpanya, kita tidak bijaksana. Kita bodoh. Kita akan terus mengambil keputusan yang mengarah pada kekosongan dan kehancuran.

Jadi sekarang, kita memiliki masalah. Untuk menjadi bijaksana, kita harus terus membuat pilihan yang tepat. Pilihan-pilihan kecil itulah yang akan menentukan siapa kita di kemudian hari. Tetapi kita tidak dapat mengubah pilihan kita dengan kemauan kita sendiri. Pilihan kita didorong oleh apa yang paling dicintai oleh hati kita. Dapatkah anda melihat masalahnya? Itulah mengapa jika yang kita lakukan hanyalah modifikasi perilaku, hanyalah masalah waktu sebelum kita gagal. Karena hati kita menginginkan apa yang diinginkannya. Kemauan yang kuat mungkin membantu kita membuat pilihan yang tepat untuk sementara waktu. Namun, hanyalah masalah waktu sebelum semuanya hancur. Karena masalah utama kita dalam hidup adalah hati kita mencintai hal yang salah. Tidak ada yang salah dengan uang, anak-anak, pernikahan, atau karier. Tetapi jika hal itu menjadi yang paling penting dalam hidup kita, maka kasih kita tidak teratur. Dan kita akan menghancurkan hidup kita dengan keputusan-keputusan kita. Jadi, pertanyaan utama yang harus kita tanyakan bukanlah, “Bagaimana aku dapat membuat keputusan yang bijaksana?” tetapi “Bagaimana aku dapat mengubah apa yang hatiku paling cintai? Bagaimana aku bisa mengubah apa yang paling aku inginkan?” Itulah kuncinya. Kunci untuk melangkah dalam hikmat bukanlah pada tindakan kemauan, tetapi pada apa yang hati cintai. Karena segala sesuatu yang kita lakukan mengalir dari hati kita. Jadi, bagaimana kita melakukannya?

 

 

Firman

Amsal 4:20-22 – Hai anakku, perhatikanlah perkataanku, arahkanlah telingamu kepada ucapanku; janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di lubuk hatimu. Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka.

Dalam ayat-ayat ini, Salomo memberi tahu kita bagaimana cara melangkah dalam hikmat. Pertama, simpanlah firman Tuhan di dalam hati kita. Salomo berkata, “Kunci untuk menjaga hatimu, kunci untuk hidup dalam hikmat, adalah dengan mengambil firman Tuhan, menyimpannya di dalam hati, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena firman Tuhan adalah kehidupan.” Ketika kita menaruh firman Tuhan di dalam hati kita, firman Tuhan akan menolong kita untuk melangkah dalam hikmat. Bagaimana caranya? Mari saya tunjukkan. Saya akan memberikan anda dua dari ayat-ayat favorit saya di dalam Alkitab. Amsal 16:1 – Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal dari pada TUHAN. Amsal 16:9 – Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya. Jadi anda membaca firman, anda mempercayainya, anda merenungkannya, dan anda menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang akan terjadi? Saya akan memberi tahu anda apa yang akan terjadi. Anda akan menggunakan otak anda. Anda akan berpikir dengan baik sebelum mengambil keputusan. Anda akan membuat rencana. Mengapa? Karena Tuhan ingin anda membuat rencana. Anda bertanggung jawab untuk membuat rencana terbaik yang anda bisa. Anda bertanggung jawab atas keputusan anda. Amsal mengatakan hati manusia memikirkan jalannya. Jadi anda harus menggunakan segala sesuatu yang anda ketahui dari firman Tuhan untuk membuat keputusan yang terbaik. Ini termasuk semua yang telah dibahas di khotbah hikmat sebelumnya. Anda harus takut akan Tuhan, anda harus mengenal hati Tuhan, percaya kepada Tuhan dengan segenap hati, tunduk pada firman Tuhan, dan hidup dalam sebuah komunitas. Anda harus melakukan bagian anda. Dan setelah anda melakukan semua itu, apa pun yang terjadi, apa pun yang anda putuskan, apa pun yang keluar dari mulut anda, adalah persis seperti yang Tuhan telah rencanakan. Bahkan hal-hal terkecil pun telah ditetapkan oleh rencana Tuhan.

Ini adalah salah satu misteri Alkitab. Kita tidak tahu bagaimana cara menyatukan dua kebenaran ini. Kita percaya bahwa pilihan kita penting, dan masa depan kita terbuka dan tidak ditentukan, atau kita percaya bahwa segala sesuatu sudah ditetapkan, dan oleh karena itu, pilihan kita tidak penting. Kita suka memilih salah satu dari dua kebenaran ini. Tetapi Alkitab tidak mengajarkan salah satu; Alkitab mengatakan keduanya benar. Kita benar-benar bebas dan segala sesuatu sudah ditentukan pada saat bersamaan. Dan ini sangat penting untuk melangkah dalam hikmat. Ini berarti rencana anda adalah milik anda. Pilihan anda adalah milik anda. Anda bertanggung jawab atas semua itu. Tidak ada yang memaksa anda untuk membuat keputusan itu. Tetapi apa yang terjadi sebagai hasil dari pilihan anda telah ditentukan oleh Tuhan. Tidak ada yang terjadi di luar rencana Tuhan. Dan ini bukan 50/50, 50% bebas dan 50% ditentukan. Ini 100% bebas dan 100% ditentukan di bawah kedaulatan Tuhan.

Jadi, jika anda memilih untuk mengambil pilihan yang salah, itu tanggung jawab anda. Jika anda tahu bahwa Alkitab mengatakan bahwa anda tidak boleh berzinah, namun anda tertarik dengan seseorang yang bukan pasangan anda dan anda bermain api dan anda berzinah, maka itu adalah kesalahan anda. Anda tidak menaati firman Tuhan. Tuhan tidak memaksa anda untuk melakukannya. Itu keputusan anda. Jika anda mengetahui hal ini, sekarang anda memiliki insentif untuk berpikir dengan jernih, membuat pilihan yang bijaksana, dan melakukan apa yang benar. Anda bertanggung jawab atas pilihan anda. Namun, katakanlah anda telah melakukan yang terbaik untuk menaati firman Tuhan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, dan sesuatu yang buruk terjadi pada anda. Keputusan anda tidak berjalan seperti yang diharapkan. Anda setia kepada pasangan anda, anda membesarkan anak-anak anda dalam takut akan Tuhan, anda membuat pilihan karier yang baik, dan tiba-tiba seseorang menipu anda dan anda bangkrut. Apa yang anda lakukan? Anda tidak panik. Mengapa? Anda tahu bahwa segala sesuatu berada di bawah kendali Tuhan dan Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan anda. Anda bertanggung jawab atas pilihan-pilihan anda, tetapi anda tidak memegang kendali atas hasil dari pilihan anda; Tuhanlah yang memegang kendali. Apakah anda mengikuti saya?

Jadi, ketika ada orang datang kepada saya dan berkata, “Yos, aku harus mengambil keputusan yang sangat penting, dan aku butuh bantuan. Aku ingin tahu apa kehendak Tuhan untuk hidupku”, saya biasanya berkata, “Kasihi Tuhan, taati firman-Nya, gunakan otakmu, dan buat keputusan.” Mereka berkata, “Apa maksudmu? Tidak mungkin semudah itu. Bagaimana aku bisa tahu dengan pasti bahwa inilah yang Tuhan ingin aku lakukan? Bagaimana aku bisa tahu dengan pasti jadi aku tidak salah melangkah? Apakah ketika aku merasa damai tentang keputusan ini? Jika aku tidak merasa damai, apakah itu bukan dari Tuhan?” Tidak. Itu adalah membuat keputusan berdasarkan perasaan, bukan hikmat. Saya tidak mengatakan bahwa perasaan tidak penting, tetapi perasaan tidak bisa menjadi alasan utama anda mengambil keputusan. Bayangkan jika Yesus mengambil keputusan berdasarkan perasaan. “Hmmm. Haruskah aku pergi ke kayu salib? Aku tidak merasa damai tentang hal itu.” Tentu saja Yesus tidak merasa damai tentang salib. Jika Yesus mengambil keputusan berdasarkan perasaan damai, kita tidak akan berada di sini hari ini. Tetapi berjalan dalam hikmat berarti menyimpan firman Tuhan di dalam hati anda, menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, dan mengambil keputusan.

Beberapa dari anda mungkin berkata, “Tapi itu terlalu menakutkan. Itu terlalu beresiko. Masih terlalu banyak ketidakpastian. Bagaimana jika keputusanku tidak membawa hasil yang aku harapkan?” Jadi sebetulnya yang anda inginkan adalah anda ingin membuat keputusan yang menjamin bahwa segala sesuatu akan berjalan dengan baik dan indah. Tidak ada hambatan ataupun tantangan, dan segalanya berjalan dengan lancar. Tetapi hikmat tidak bekerja seperti itu. Bagaimana jika anda mengambil keputusan dan keputusan itu justru menimbulkan banyak tantangan? Tidak masalah. Karena sejauh sepengetahuan anda, anda membuat keputusan itu berdasarkan firman Tuhan. Hasil keputusan bukan di tangan anda, melainkan di tangan Tuhan. Itulah namanya berjalan dengan iman dan bukan dengan penglihatan. Jika anda berpikir bahwa melangkah dengan hikmat berarti anda akan memiliki kehidupan yang lebih baik, bahwa keputusan anda akan selalu mengarah pada hasil yang penuh damai dan harmonis, anda tidak mempercayai Alkitab; anda mempercayai dongeng.

Lihat kehidupan Yusuf sebagai contoh. Yusuf membuat keputusan yang tepat dan bijaksana. Dan tahukah anda apa yang terjadi padanya? Dia dilempar ke dalam sumur. Dia dikhianati oleh saudara-saudaranya. Dia dijual sebagai budak. Dan dia dimasukkan ke dalam penjara. Jadi, Yusuf mengambil pilihan yang bijaksana dan hidupnya meledak. Tetapi tahukah anda apa yang Alkitab katakan tentang Yusuf ketika dia mengalami semua penderitaan itu? Tetapi Tuhan menyertai Yusuf. Dan melalui penderitaan itulah Tuhan membuat Yusuf bertumbuh dalam hikmat untuk mencapai tujuan Tuhan dalam hidupnya. Dengan kata lain, Tuhan menentukan langkah Yusuf. Perhatikan. Sangatlah mungkin bagi hikmat untuk menuntun anda ke dalam badai. Hikmat tidak menjanjikan kehidupan yang bebas dari penderitaan, tetapi hikmat menjanjikan bahwa Tuhan memiliki tujuan untuk atas penderitaan anda. Jadi, buatlah rencana sebaik mungkin yang sesuai dengan firman Tuhan, dan Tuhan akan menentukan langkah anda.

Tetapi inilah bagian yang paling penting. Untuk dapat melangkah dalam hikmat, kita tidak hanya perlu menyimpan firman Tuhan di dalam hati kita, tetapi kita juga perlu mengasihi Tuhan di atas segalanya. Karena semua keputusan kita didorong oleh apa yang hati kita paling cintai. Kita tidak hanya harus menyimpan firman Tuhan di dalam hati kita, tetapi yang kedua, kita membutuhkan Firman yang hidup. Izinkan saya memberi tahu anda di mana mendapatkannya dan saya selesai. Kita perlu menempatkan kitab Amsal ke dalam konteks keseluruhan Alkitab. Inilah yang kita lihat. Dalam Yohanes pasal 5, Yesus berbicara kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Yohanes 5:39 – Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku. Perhatikan apa yang Yesus katakan. Tidaklah cukup bagi kita untuk mengetahui apa yang dikatakan Alkitab dan menyimpannya di dalam hati kita. Karena Yesus berkata, “Setiap bagian dari Alkitab, setiap firman di Kejadian sampai Wahyu, setiap perkataan hikmat di dalam Amsal berbicara tentang aku. Akulah Firman yang hidup.” Dengan kata lain, Yesus adalah hikmat Tuhan. Yesus adalah Firman Tuhan itu sendiri. Dan ketika kita menaruh Yesus di dalam hati kita, itu akan membuat kita menjadi bijaksana. Di dalam Yesus, hikmat Tuhan bukan lagi sebuah abstraksi; hikmat Tuhan adalah seorang pribadi. Hikmat adalah seseorang yang dapat kita kenal dan memiliki hubungan dengan kita. Dan hanya ketika kita melihat hikmat Tuhan di dalam pribadi Yesus, hanya ketika kita melihat hikmat Tuhan dimanifestasikan di kayu salib, hati kita akan mengasihi Tuhan di atas segalanya.

Tahukah anda mengapa Yesus adalah Firman yang hidup? Tahukah anda bagaimana Yesus membawa kesembuhan dalam hidup kita? Dengan menyerahkan hidupnya. Yesus adalah satu-satunya orang yang penuh hikmat yang pernah berjalan di muka bumi. Namun di akhir hidupnya, yang ia alami bukanlah terang, melainkan kegelapan yang paling dalam. Di kayu salib, Yesus berseru, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” Yesus mengalami kegelapan yang paling dalam yang seharusnya anda dan saya alami karena kebodohan kita. Yesus menanggung kegelapan yang layak kita terima. Dia memikul rasa ditinggalkan Tuhan sehingga ketika kita menaruh iman kita kepadanya, kita dapat yakin bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita. Sebaliknya, Tuhan akan menentukan langkah kita. Itulah yang menyembuhkan hati kita. Itulah keindahan yang dicari oleh hati kita. Itulah Injil.

Dan ketika kita membawa Injil ke dalam hati kita, ketika kita menancapkan kebenaran Injil ke dalam lubuk hati kita, hal itu akan mengubah apa yang hati kita paling cintai. Kita melihat keindahan salib dan kita mengasihi Yesus di atas segalanya. Dan hanya dengan demikian kita dapat melangkah dalam hikmat. Hati kita tidak lagi terpikat oleh hal-hal lain karena kita telah menemukan yang terindah dari segalanya. Kita tidak dapat mengubah hati kita dengan mengatakan, “Aku harus berhenti mencintai anak-anakku dengan berlebihan. Aku harus berhenti mencintai uang, pernikahan, dan karier dengan berlebihan. Aku harus lebih mencintai firman Tuhan.” Itu tidak akan berhasil. Hanya ketika keindahan Yesus menguasai hati kita, kita dapat mengasihi hal-hal lain lebih kecil daripada dia. Hanya ketika Yesus menjadi harta terutama di dalam hati kita, kita dapat melangkah dalam hikmat. Ketika Yesus menjadi yang terutama dan uang menjadi yang kedua, kita dapat mengambil keputusan finansial yang bijaksana. Ketika Yesus menjadi yang terutama dan pernikahan menjadi yang kedua, kita dapat memutuskan untuk mengasihi pasangan kita dengan baik. Ketika Yesus menjadi yang terutama dan anak-anak menjadi yang kedua, kita dapat membesarkan anak-anak kita dalam takut akan Tuhan. Ketika Yesus menjadi yang terutama dan karier menjadi yang kedua, kita dapat menjadi produktif untuk kemuliaan Tuhan. Melihat kemuliaan Yesus di kayu saliblah yang akan mengubah apa yang paling dicintai oleh hati kita.

Namun perhatikan, dan saya tutup dengan ini. Ini tidak terjadi dalam satu malam. Amsal 4:18 – Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari. Kita tidak menjadi bijak dalam satu malam. Jalan orang benar akan bersinar semakin terang. Ketika kita terus menatap Firman yang hidup, ketika kita terus merenungkan hikmat Tuhan yang disalibkan bagi kita, hati kita semakin mengasihi dia, kita semakin merindukan dia, dan tidak ada lagi yang lebih kita inginkan selain dia. Itulah sumber hikmat. Dan itulah cara kita melangkah dalam hikmat. Mari kita berdoa.

 

 

Discussion questions:

  1. What struck you the most from the sermon?
  2. “The Bible does not give us specific guidance for many situations we face in life, but the Bible helps us to be the kind of person who makes wise choices.” What does it teach us about Biblical wisdom and how is it different from how people often think about wisdom?
  3. Think about the three most foolish decisions you made last year. Why did you do it? What does it say about the importance of the heart?
  4. How does the gospel make us wise?
  5. In the light of what you have learned about wisdom, how do you make wise choices? Work together with your MC to list out each step and what needs to be taken into consideration in each step.
No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.