Membangun Bait Allah

“Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja utuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang!” (Hagai 1:6).

Apakah kehidupan kita sama seperti yang tertulis di dalam Hagai 1:6? Apakah kita yang masih sekolah/kuliah, walaupun sudah belajar dengan keras, tetapi tidak lulus? Apakah kita sudah rajin ke gereja, namun tidak ada damai di hati? Mengapa bisa terjadi demikian?

Di dalam Hagai pasal yang pertama, dua kali Tuhan berfirman: “Perhatikanlah keadaanmu!” (ayat 5 & 7). Pada jaman itu, umat Tuhan lebih mengutamakan kepentingan diri sendiri, masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri, dan tidak memperdulikan pembangunan Rumah Tuhan (ayat 9). Tuhan ingin kita terlebih dahulu membangun Bait Allah sebelum kita sibuk dengan keperluan kita sendiri.

Apa maksudnya dengan membangun Bait Allah? Maksudnya adalah membangun kehidupan rohani kita. Firman Tuhan berkata: “Jadi naiklah ke gunung, bawalah kayu dan bangunlah Rumah itu; maka Aku akan berkenan kepadanya dan akan menyatakan kemuliaan-Ku di situ, firman Tuhan” (ayat 8). Ayat ini berkata kepada kita agar kita naik ke gunung Tuhan untuk berdoa, memuji dan menyembah Dia. Semua ini harus kita lakukan sebagai suatu ekspresi cinta kita kepada Tuhan, dan seperti yang Ia janjikan, maka Ia akan menyatakan kemuliaan-Nya di dalam hidup kita.

Jikalau kita dekat dengan Tuhan, dunia boleh bergoncang, tetapi kita tidak akan merasakannya. Bahkan sebaliknya, kita akan diberkati dengan berlimpah oleh-Nya. “Aku akan menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan, firman Tuhan semesta alam. Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, demikianlah firman Tuhan semesta alam” (Hagai 2:8, 9). Jadi bagi kita yang dekat dengan Tuhan, yang senantiasa berdoa, memuji dan menyembah Dia, saat dunia bergoncang, kita akan diberkati-Nya. Semakin besar tantangan di dalam hidup kita, semakin besar juga mujizat yang akan kita alami.

“Lalu Zerubabel bin Sealtiel dan Yosua bin Yozadak, imam besar, dan selebihnya dari bangsa itu mendengarkan suara Tuhan, Allah mereka, dan juga perkataan nabi Hagai, sesuai dengan apa yang disuruhkan kepadanya oleh Tuhan, Allah mereka; lalu takutlah bangsa itu kepada Tuhan. Maka berkatalah Hagai, utusan Tuhan itu, menurut pesan Tuhan kepada bangsa itu, demikian: “Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman Tuhan.”” (Haggai 1:12, 13).

Kunci keberhasilan orang Israel di dalam membangun Rumah Tuhan pada waktu itu adalah karena mereka takut akan Tuhan (ayat 12), maka Tuhan menyertai mereka (ayat 13). Marilah kita juga hidup takut akan Tuhan!

Bagaimanakah kehidupan seorang yang takut akan Tuhan itu?
Jikalau seorang hamba takut akan majikannya, maka apa saja yang majikannya perintahkan pasti akan dia lakukan. Hamba itu tidak akan memperdulikan dan memikirkan apa alasan majikannya menyuruh dia untuk melakukan hal tersebut. Begitu juga dengan kita, jikalau kita hidup di dalam takut akan Tuhan maka apapun juga yang Ia perintahkan pasti akan kita lakukan.

Marilah kita semua hidup di dalam takut akan Tuhan, membangun kehidupan kita dengan naik ke gunung Tuhan untuk berdoa, memuji dan menyembah-Nya senantiasa. Maka seperti yang Tuhan telah janjikan kepada umat-Nya, Ia akan menyertai dan memberkati kita.

Tags:
No Comments

Post A Comment