Penghalang Mujizat

Bacaan hari ini diambil dari Injil Markus 5: 21-43, yang menceritakan tentang Yesus membangkitkan anak Yairus yang sudah mati dan menyembuhkan perempuaan yang sakit pendarahan selama dua belas tahun lamanya.

Di dalam cerita ini ada dua perkara yang tidak mampu dilakukan oleh manusia. Yang pertama, manusia tidak dapat menyembuhkan perempuan yang mengalami sakit pendaharan; di dalam ayat ke-25 dan 26 dikatakan bahwa perempuan ini telah menderita pendarahan selama dua belas tahun lamanya, dan ia juga telah berulang-ulang diobati oleh berbagai dokter sampai semua hartanya habis, tetapi tetap tidak bisa sembuh juga. Perkara yang kedua adalah manusia tidak dapat membangkitkan orang yang sudah mati. “Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: “Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?”” (ayat ke-35).

Yesus bukan saja mampu menyembuhkan perempuan yang sakit, tetapi Ia juga mampu membangkitkan anak yang sudah mati.

Banyak dari kita yang sering ragu akan apa yang dapat Tuhan lakukan. Kita kadang kurang percaya dengan mujizat, dan kita tidak pernah mengalami mujizat di dalam hidup kita. Kenapa bisa demikian? Karena ada penghalang-penghalang yang menghalangi kita untuk memperolehnya.

1. Tradisi Penghalang yang pertama adalah tradisi. Salah satu tradisi pada waktu peristiwa yang disebutkan di atas terjadi adalah manusia tidak boleh menyembah manusia. Mereka boleh menyembah patung-patung, illah-illah lain, atau apapun juga, tetapi tidak boleh menyembah manusia. Tetapi di dalam cerita ini, dikatakan bahwa Yairus menyembah Yesus di tengah-tengah banyak orang.
“Sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sedang Ia berada di tepi danau, datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan memohon dengan sangat kepada-Nya…” (ayat ke-21 & 22).

Seperti Yairus, untuk mendapatkan mujizat kita juga harus berani menantang arus tradisi di dalam hidup kita ini, mungkin juga tradisi keluarga kita, atau nenek moyang kita.

2. Harta Kekayaan dan Kedudukan Dengan menyembah kepada Yesus, kedudukan Yairus yang adalah seorang kepala rumah ibadat, dapat dicabut! Yairus mendapatkan mujizat sebab ia tidak takut kehilangan kedudukannya.

“Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Matius 10:39).

Janganlah kita takut akan kehilangan nyawa kita karena Yesus, apalagi jabatan dan kedudukan kita. Allah sanggup menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada.

3. Orang di sekitar kita Perempuan yang mengalami pendarahan ini berdesak-desakan di tengah-tengah banyak orang untuk bisa dekat dengan Yesus dan menjamah jubah-Nya. Orang-orang yang berada di sekeliling kita dapat menjadi penghalang bagi kita untuk mendapatkan mujizat.

Untuk mencapai suatu keberhasilan setiap kita harus terlebih dahulu melalui jalan-jalan yang sukar, ada banyak ujian dan masalah. Namun di saat kita menghadapi semuanya itu, biarlah kita senantiasa mencari wajah Yesus, fokus kepada-Nya, dan tidak henti-hentinya memuji dan menyembah Dia!

4. Penundaan
Tuhan Yesus, di dalam cerita ini kelihatannya seolah-olah terlambat menyelamatkan anak dari Yairus karena Ia terhambat di tengah jalan oleh wanita yang mengalami pendarahan sehingga anak Yairus mati. Namun kita tahu bahwa pada akhirnya Yesus membangkitkan anak dari Yairus. Yesus tidak terlambat!

Marilah kita senantiasa bersyukur walaupun mungkin doa kita belum dijawab-Nya, atau masalah kita yang belum teratasi, sebab kita tahu bahwa pertolongon dari pada-Nya tidak pernah terlambat.

Tags:
No Comments

Post A Comment