Tenanglah dan jangan takut

Markus 6:45-56

Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa. Ketika hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat. Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka. Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak, sebab mereka semua melihat Dia dan merekapun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan anginpun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung, sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil. Setibanya di seberang Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret dan berlabuh di situ. Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus. Maka berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya kepada Yesus, di mana saja kabarnya Ia berada. Ke manapun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.

Pernahkah anda merasa lelah saat turun dari pesawat? Ketika saya masih di Universitas, saya sering terbang pulang pergi Sydney dan Dallas. Dan saya sering menggunakan Korean Air. Bukan karena saya penggemar Korea tetapi karena tidak ada penerbangan langsung antara Sydney dan Dallas. Jadi saya harus transit di suatu kota. Dan Korean Air menyediakan hotel gratis untuk transit di Incheon selama satu malam. Penerbangan dari Sydney ke Incheon membutuhkan sekitar 11 jam dan dari Incheon ke Dallas sekitar 13 jam. Dan setiap kali saya turun dari pesawat, saya merasa sangat lelah. Saudara tahu apa yang saya maksudkan? Bukankah ini menarik? Yang kita lakukan dalam penerbangan panjang hanyalah duduk, makan, minum, menonton, membaca, tidur, toilet, dan mengulang itu semua. Tetapi mengapa kita merasa lelah saat kita sampai di tujuan? Penelitian memberi tahu kita bahwa alasan kita lelah bukanlah karena apa yang kita lakukan tetapi karena apa yang kita dengar di dalam pesawat. Kita lelah karena kita terus menerus mendengar suara mesin pesawat. Kita mungkin tidak menyadarinya, tetapi suara itu ada di latar belakang. Mereka menyebutnya white noise. Jadi, meskipun sepertinya kita tidak mendengar suara mesin, otak kita mendengarnya dan terus-menerus memprosesnya di latar belakang. Itulah sebabnya kita sangat lelah setelah penerbangan yang panjang.

Mari kita bawa ini ke dalam kehidupan kita. Anda sadar atau tidak, ada banyak white noise di dalam kehidupan kita yang membuat kita lelah. Bagi sebagian anda, white noise itu adalah suara hubungan. Anda bertanya-tanya apakah anda akan menikah atau anda akan tetap melajang selamanya. Bagi sebagian anda, itu adalah suara keluarga. Anda bertanya-tanya apakah anda akan memiliki anak, atau anda khawatir tentang masa depan anak anda. Bagi sebagian anda, itu mungkin suara kebangkrutan, perceraian, pekerjaan, sekolah, atau penyakit. Atau mungkin itu adalah suara ketidakpastian akan masa depan. Itu adalah sesuatu yang belum tentu terjadi, tetapi hal itu selalu ada di dalam pikiran anda. Apa pun itu, suara-suara itu terus berputar di latar belakang kehidupan anda, dan anda menjadi sangat lelah karenanya. Dan anda tidak diam saja. Anda berusaha keras. Namun tampaknya untuk setiap satu langkah maju yang anda ambil, angin kehidupan mendorong anda sepuluh langkah mundur. Dan jika itu anda, saya punya kabar baik untuk anda hari ini. Sosok yang mengendalikan suara-suara dalam kehidupan anda melihat anda dan peduli terhadap anda. Dia tidak akan meninggalkan anda dan dia akan datang kepada anda.

Bacaan kita hari ini adalah tentang badai. Cerita badai ini berbeda dari cerita khotbah badai saya tiga bulan yang lalu. Tetapi misalnya sama pun, menurut saya kebanyakan dari saudara tidak akan menyadarinya. Karena saudara bahkan tidak ingat apa yang saya khotbahkan bulan yang lalu. Badai yang lalu terjadi dalam perjalanan Yesus dan murid ke Gerasenes. Badai kali ini adalah kelanjutan cerita lima roti dan dua ikan. Jadi rupanya, Tuhan berpikir bahwa para murid masih membutuhkan pelajaran tentang badai. Mengapa? Karena mereka belum memahami pelajaran mereka yang sebelumnya. Mereka masih harus belajar apa artinya untuk hidup dengan iman. Dan hal yang sama juga berlaku untuk kita. Perhatikan. Hidup dengan iman bukanlah sesuatu yang alami bagi kita. Saudara tahu apa yang datang secara alami bagi kita? Hidup dengan apa yang kita lihat. Keraguan adalah hal yang alami bagi kita. Kekhawatiran adalah hal yang alami bagi kita. Mempercayai diri sendiri adalah hal yang alami bagi kita. Tetapi hidup dengan iman berlawanan dengan intuisi kita. Dan tidak ada yang dapat mengajarkan kita untuk hidup dengan iman seperti badai kehidupan. Karena ketika kita berada di dalam badai, kita tidak berdaya. Coba pikirkan. Dengan semua kemajuan teknologi saat ini, kita masih tidak berdaya untuk menghentikan badai. Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mengendalikan cuaca. Kita bisa memprediksi cuaca tetapi kita tidak bisa menghentikan hujan datang dan membanjiri NSW. Hanya ada satu sosok yang bisa mengendalikan badai. Dan badai kehidupan dirancang bagi kita untuk melihat kepada Yesus dan menyaksikan kemuliaannya. Karena kemuliaan Yesus mengatasi segala badai.

Saya memisahkan khotbah saya menjadi empat bagian: Situasi; Masalah; Solusi; Hasil.

Situasi

Markus 6:45-47 – Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa. Ketika hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat.

Jika anda ingat apa yang terjadi sebelumnya, Yesus secara ajaib memberi makan ribuan orang dengan 5 roti dan 2 ikan. Dan ketika orang banyak menyaksikannya, mereka terkagum. Dan kemudian mereka ingin menjadikan Yesus raja dengan paksa. Mengapa? Inilah alasannya: orang banyak menyukai makan gratis. Alasan itu mungkin benar, tetapi alasan utamanya adalah mereka ingin memulai revolusi melawan pemerintahan Romawi. Dan menanggapi situasi ini, Yesus segera memerintahkan murid-muridnya naik ke perahu dan berangkat ke Betsaida. Mengapa? Karena Yesus tidak datang untuk menjadi raja militer. Dia datang untuk menjadi raja yang mati bagi rakyatnya. Dia datang bukan untuk menggulingkan Roma tetapi untuk mendamaikan manusia dengan Allah. Jadi, para murid naik ke perahu dan berangkat ke Betsaida, sementara Yesus tetap tinggal dan menyuruh orang banyak pulang. Ini mungkin terjadi sekitar jam 7 atau jam 8 malam. Dan setelah Yesus membubarkan orang banyak, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa. Perhatikan situasi cerita. Situasi cerita ini adalah para murid berada di tengah laut, sementara Yesus berada di atas bukit. Mereka berada di dua tempat yang berbeda. Dan ketika Yesus sedang berdoa, angin kencang menerpa perahu, dan para murid bersusah payah mendayung.

Jangan lewatkan pelajaran penting dari ayat-ayat ini. Ada kalanya kita menghadapi badai karena ketidaktaatan kita. Ada kalanya kita menghadapi badai karena kebodohan kita. Saudara yang pernah mengalaminya katakan amin. Namun ada kalanya kita menghadapi badai karena ketaatan kita. Jelas dalam cerita ini bahwa Yesuslah yang mengirim para murid ke dalam badai. Para murid menaati perintah Yesus. Dan ketaatan mereka kepada Yesus membawa mereka ke dalam badai. Jadi, para murid berada tepat di tempat yang diinginkan Yesus. Mereka berada di dalam kehendak Allah. Dan mereka menghadapi badai. Beberapa waktu yang lalu, keluaga Yusuf menghadapi badai. Nama badainya adalah barona, badai corona. Ini bermula dari papi mama saya yang tes positif di hari Minggu malam. Dan mulai seketika itu juga, saya langsung menjauh dari mereka. Saya langsung mengisolasi diri saya di dalam kamar dan selalu memakai masker. Jadi, mereka yang positif, saya yang isolasi mandiri. Dan saya berharap saya tidak akan ketularan Covid. Karena kalau saya juga kena, repot nanti hari Minggu tidak ada yang khotbah. Jadi saya berdoa dan beriman bahwa saya tidak akan ketularan Covid dan Tuhan akan melindungi saya karena saya harus melakukan kehendak Tuhan, yaitu berkhotbah di hari Minggu. Senin pagi saya tes, negatif. Puji Tuhan. Selasa pagi saya tes, negatif. Puji Tuhan. Saya sudah sangat yakin bahwa Tuhan meluputkan saya dari Covid. Rabu pagi saya tes, positif. Ternyata Covid lebih lebih kuat daripada iman saya. Satu-satunya yang diluputkan dari badai corona di rumah kami adalah Yohana Iluh. Mungkin iman saya tidak sekuat iman dia.

Dan ini bukanlah sesuatu yang baru di Perjanjian Baru. Kita dapat melihat di seluruh Alkitab bahwa ketaatan kepada Allah sering membawa badai. Sadrakh, Mesakh, dan Abednego menaati Allah dan mereka dilemparkan ke dalam dapur api. Daniel menaati Allah dan dia dilemparkan ke dalam gua singa. Ayub menaati Allah dan dia kehilangan segalanya. Apakah anda melihat apa yang terjadi? Ketaatan kepada Allah tidak nyaman. Ketaatan kepada Allah sering membawa ke dalam badai. Tetapi ketaatan kepada Allah juga membawa kepada sukacita. Jika Sadrakh, Mesakh dan Abednego tidak dilemparkan ke dalam dapur api, mereka tidak akan pernah melihat bahwa ada sosok lain yang berdiri di samping mereka di dalam api. Jika Daniel tidak pernah dilemparkan ke dalam gua singa, dia tidak akan pernah melihat tangan Allah yang perkasa yang menutup mulut singa. Jika Ayub tidak kehilangan segalanya, dia tidak akan dapat berkata, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” Perhatikan ini. Ketaatan kepada Yesus akan sering membawa kita ke dalam kesukaran badai dan sukacita keintiman. Dan mungkin alasan beberapa dari kita tidak memiliki sukacita keintiman dengan Yesus adalah karena kita tidak menaati Yesus. Tidak ada kehidupan Kekristenan tanpa badai. Ketika kita mendaftar untuk mengikuti Yesus, kita mendaftar untuk badai. Menghadapi badai bukan berarti kita tidak berada di dalam kehendak Allah. Terkadang badai justru menunjukan bahwa kita hidup di dalam kehendak Allah.

Masalah

Markus 6:48-50a – Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka. Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak, sebab mereka semua melihat Dia dan merekapun sangat terkejut.

Fokusnya sekarang berubah ke para murid. Para murid berada di tengah laut, dan mereka sedang berjuang. Mereka mencoba dengan yang terbaik yang mereka bisa untuk mencapai tujuan, tetapi angin melawan mereka. Dan waktu sudah kira-kira jam tiga malam. Artinya, mereka telah mendayung selama sekitar delapan jam. Dan hampir tidak ada kemajuan. Angin terlalu kencang untuk mereka. Dan saya yakin pada saat ini para murid sangat lelah dan capek mencoba melakukan apa yang Yesus perintahkan kepada mereka. Dan mungkin hari ini kehidupan anda berada di tempat yang sama dengan mereka. Anda mengikuti Yesus. Anda menaati Yesus. Tetapi anda lelah dan capek mencoba melakukan apa yang dia perintahkan. Sepertinya anda menghadapi badai demi badai, tanpa henti, setiap hari. Dan bukannya semakin dekat dengan tujuan, anda justru semakin jauh dari tujuan. Dan anda bertanya-tanya apakah Allah peduli kepada anda. Anda bertanya-tanya apakah anda melakukan hal yang benar.

Tetapi inilah kabar baiknya: Yesus melihat. Markus menuliskan bahwa Yesus melihat para murid bersusah payah mendayung. Saya tidak tahu bagaimana cara Yesus melihat. Karena Yesus ada di atas bukit, sedangkan para murid ada di tengah laut. Mungkin Yesus memiliki mata superman. Tetapi kebenarannya adalah, Yesus tahu persis di mana para murid berada dan apa yang sedang mereka alami. Dia melihat di mana mereka mulai berlayar. Dia melihat di mana mereka berada. Dan dia melihat ke mana mereka sedang pergi. Mereka tidak melihat Yesus tetapi Yesus melihat mereka. Biarlah ini menjadi dorongan bagi kita. Ketika kita berjuang untuk melihat Yesus, ketahuilah bahwa Yesus melihat kita. Dia tidak pernah absen. Sewaktu kita berada di tengah badai, mungkin Yesus tampak jauh. Mungkin tampaknya Yesus tidak memperhatikan. Mungkin dia sedang tidur siang atau mungkin dia sibuk dengan kehidupan orang lain. Tetapi dia sepertinya tidak peduli dengan kehidupan kita. Tetapi itu tidak benar. Bahkan ketika tampaknya Yesus tidak memperhatikan, Yesus sangat memperhatikan setiap hal yang terjadi pada kita. Dia melihat apa yang kita alami.

Tetapi rencana Yesus bukanlah rencana kita dan waktu Yesus bukanlah waktu kita. Yesus selalu memperhatikan kita. Dia tidak pernah meninggalkan kita. Dia memiliki rencana untuk kita. Tetapi dengarkan saya. Rencana Yesus selalu lebih baik dari rencana kita. Sewaktu kita menghadapi badai, kita selalu memiliki perspektif yang terbatas. Yang kita bisa lihat hanyalah badai. Tetapi Yesus melihat lebih jauh. Dia melihat apa yang menunggu kita di balik badai. Dia melihat dengan perspektif yang jauh lebih luas dan jauh lebih benar daripada perspektif kita. Coba pikirkan kembali tentang cerita Sadrakh, Mesakh, dan Abednego. Ini adalah salah satu cerita favorit sepanjang masa. Dan kita menyukai cerita ini karena kita tahu akhir ceritanya. Kesetiaan mereka kepada Allah membawa mereka kepada pengenalan akan Allah yang lebih indah. Kita tahu itu. Tetapi mereka tidak mengetahuinya. Hanya ketika mereka sampai di sisi lain badai, mereka tahu apa yang Allah lakukan di tengah badai. Hal yang sama juga berlaku kepada kita. Perspektif kita tentang badai selalu hanya sebagian. Tetapi ada perspektif lain, yaitu perspektif Allah. Dan di sisi kita sekarang, kita tidak akan memiliki semua perspektif yang kita inginkan. Tetapi kabar baiknya adalah Yesus melihat. Yesus tidak hanya melihat kita di dalam badai kita, tetapi dia juga melihat sisi lain dari badai kita. Ingat ini. Ketika kita berjuang untuk melihat Yesus, ketahuilah bahwa Yesus melihat kita.

Dan ada kabar baik lainnya. Yesus tidak hanya melihat, tetapi Yesus juga datang. Pada kira-kira jam tiga pagi, Yesus datang kepada para murid. Ini sangat indah. Inilah yang membedakan Kekristenan dari setiap agama lainnya. Setiap agama lain berkata, “Dayung lebih keras. Berusaha lebih keras. Bekerja lebih keras untuk menyelamatkan hidup anda.” Kekristenan berkata, “Yesus datang.Dan Yesus datang pada bagian paling gelap dari malam ketika para murid sudah kehabisan semua energi mereka dan sangat putus asa. Dia sengaja menunggu sampai situasi menjadi sangat putus asa dan semua pilihan manusia hilang sehingga mereka dapat belajar kesia-siaan kekuatan mereka dan bergantung kepada Yesus. Jadi, Yesus datang kepada mereka, berjalan di atas air. Dan dalam bahasa Yunani, berjalan di atas air berarti berjalan di atas air. Saya perlu mengatakan ini karena ada banyak orang yang mencoba mengatakan bahwa Yesus tidak benar-benar berjalan di atas air. Maksud saya, apakah anda pernah mencoba berjalan di atas air? Ketika saya masih kecil, saya kadang-kadang menonton film Kung-fu. Dan di film-film itu, jika kemampuan Kung-fu anda mencapai tingkat tertentu, anda bisa berjalan di atas air. Ada dua cara utama untuk melakukannya. Pertama, anda membuat tubuh anda seringan bulu dengan teknik pernafasan. Atau kedua, anda berlari secepat mungkin sehingga anda bisa memantul di atas air. Jadi, yang saya lakukan adalah saya menggabungkan kedua cara tersebut. Saya memastikan bahwa saya bernafas dengan benar. Saya membuat diri saya seringan bulu dengan mengisap perut saya. Lalu saya berlari secepat mungkin. Dan sewaktu saya melangkah ke atas air, saya berhasil tenggelam ke dalam air. Mengapa? Karena tidak ada manusia yang bisa berjalan di atas air. Itu tidak mungkin. Hanya Allah yang dapat berjalan di atas air. Dan itulah intinya. Yesus berjalan di atas air. Yesus melakukan sesuatu yang hanya dapat dilakukan oleh Allah. Dan dia tidak terburu-buru. Jadi Yesus tidak, “Fiuh, untung aku sampai ke murid-murid sebelum terlambat.” Oh tidak. Bahasanya di sini adalah Yesus sedang berjalan dengan santai. Ini adalah apa yang anda lakukan ketika anda jalan-jalan di mal. Coba pikirkan. Badai di tengah laut adalah kekuatan alam yang paling menghancurkan dan tidak terkendali. Anda dapat menjatuhkan bom nuklir ke dalam badai, dan itu tidak dapat menghentikan badai. Tetapi Yesus berjalan dengan santai di atas air di tengah badai.

Dan apa yang Markus katakan selanjutnya sangat menarik. Yesus hendak melewati mereka. Tunggu dulu. Ini aneh. Mengapa Yesus hendak melewati mereka? Ini kedengarannya seperti Yesus berjalan di atas air dan mencoba menyelinap melewati para murid. Jadi Yesus seperti, “Hahaha aku berjalan di atas air. Kalian sedang berjuang melawan badai. Aku akan menyelinap melewati kalian. Silahkan menikmati badai.” Tetapi kemudian salah satu murid menangkap Yesus sedang mencoba menyelinap dan Yesus berkata, Yah ketahuan. Ya sudah kalau begitu. Baiklah. Aku akan membantu kalian.Tetapi bukan itu yang terjadi. Perlu kita ketahui bahwa istilah “melewatkan” digunakan berkali-kali dalam Perjanjian Lama untuk menggambarkan penyingkapan kemuliaan Allah. Saya berikan satu contoh. Suatu ketika, Musa berjuang untuk memimpin bangsa Israel. Bangsa Israel terus menerus berbuat dosa terhadap Tuhan dan Musa lelah. Dia capek. Dia ingin menyerah. Tugas yang Tuhan berikan kepada Musa terlalu berat bagi dia. Dia menghadapi badai karena ketaatannya kepada Tuhan. Dan dia berkata kepada Tuhan, “Tuhan, tunjukkan kemuliaan-Mu. Aku perlu tahu bahwa kamu ada bersamaku.” Dan dengarkan apa yang Tuhan katakan kepada Musa.

Keluaran 33:19-23 – Tetapi firman-Nya: “Aku akan melewatkan segenap kegemilangan-Ku dari depanmu dan menyerukan nama TUHAN di depanmu: Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani.” Lagi firman-Nya: “Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup.” Berfirmanlah TUHAN: “Ada suatu tempat dekat-Ku, di mana engkau dapat berdiri di atas gunung batu; apabila kemuliaan-Ku lewat, maka Aku akan menempatkan engkau dalam lekuk gunung itu dan Aku akan menudungi engkau dengan tangan-Ku, sampai Aku berjalan lewat. Kemudian Aku akan menarik tangan-Ku dan engkau akan melihat belakang-Ku, tetapi wajah-Ku tidak akan kelihatan.” Tiga kali kata lewat digunakan untuk menggambarkan penyingkapan kemuliaan Allah. Saat Tuhan lewat di hadapan Musa, Musa melihat Tuhan dengan cara yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Jangan lewatkan koneksinya. Apa yang Yesus lakukan bukanlah mencoba menyelinap melewati para murid. Apa yang Yesus lakukan adalah dia ingin menunjukkan kepada para murid kemuliaan dirinya yang lebih besar dari yang mereka telah lihat sebelumnya. Yesus ingin mengungkapkan kemuliaannya yang lebih besar kepada para murid. Bahwa dia bukan manusia biasa. Bahwa dia bukan raja militer. Tetapi dia adalah Tuhan yang menjadi manusia dan datang untuk menyelamatkan umat-Nya dari dosa.

Dan lihat tanggapan para murid. Ketika para murid melihat Yesus berjalan di atas air, mereka sangat ketakutan. Bayangkan adegan ini dengan saya. Saat mereka sedang bersusah payah mendayung melawan angin, salah satu murid melihat ke kanan dan berkata, “Errr teman-teman, sepertinya aku melihat seseorang di atas air. “Maksudmu di dalam air? Jangan ngomong yang ngaco.” “Tidak, maksudku di atas air. Dan dia berjalan ke arah kita di tengah badai.” Kemudian mereka semua melihat ke kanan dan berteriak, Hantu! Tolong!” Mereka mengira Yesus adalah hantu. Jangan menertawakan para murid terlalu lama. Karena jika kita berada di situasi mereka, kita juga pasti sangat ketakutan. Karena apa yang Yesus lakukan tidaklah normal. Jika para murid melihat Yesus berenang ke arah mereka di tengah badai, mereka akan berkata, “Oh wow. Ternyata Yesus jago berenang.” Mereka akan terkejut, tetapi tidak takut. Tetapi berjalan di atas air di tengah badai, mereka sangat takut. Mereka telah melihat banyak badai, tetapi mereka belum pernah melihat orang berjalan di atas air di tengah badai. Mereka tidak memiliki kategori untuk itu selain hantu.

Solusi

Markus 6:50b-52 – Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan anginpun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung, sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.

Ini adalah bagian favorit saya dari cerita. Pada satu tingkat, apa yang terjadi di sini sangat menghibur dan sederhana. Ketika para murid ketakutan, Yesus tidak berkata, Apa? Kalian kira aku hantu? Yang benar saja. Setelah bertahun-tahun, apakah kalian masih tidak mengenal aku? Aku tersinggung. Kalian menyakiti perasaanku. Aku perlu waktu sendiri untuk sembuh dari luka ini.” Itu bukan Yesus. Itu pasangan anda. Yesus tidak melakukan itu. Tetapi Yesus datang kepada mereka di tengah ketakutan dan kecemasan mereka dan berkata, “Tenanglah. Ini aku. Jangan takut.Ini adalah bagaimana orang tua berbicara kepada anak mereka yang mengalami mimpi buruk di tengah malam. Orang tua, apa yang anda lakukan ketika anak anda datang kepada anda di tengah malam dengan mimpi yang menakutkan? Apakah anda memberikan mereka penjelasan bahwa mimpi itu tidak nyata? Apakah anda memberikan mereka khotbah tentang mengapa mereka tidak perlu takut? Tentu tidak. Jika anak anda datang ke kamar anda dan dia menangis, Papi, mami, aku mimpi buruk. Aku takut.Seorang mama akan meraih tangan sang anak, dan berbisik di telinganya, Jangan takut. Ada mami di sini. Ada papi di sini.” Atau seorang papa akan berkata, Jangan takut. Ada mami di sana. Sana ke mami.” dan lanjut tidur. Anda akan memeluk anak anda dan meyakinkan dia tentang kebenaran yang paling mendasar, Jangan takut. Papi mami ada disini bersamamu. Kamu tidak perlu khawatir.”

Dan beberapa dari kita perlu mendengar Yesus mengatakan itu kepada kita hari ini. Di tengah semua kecemasan, di tengah semua ketakutan, kita perlu mendengar Yesus mengatakan pelajaran teologi yang sangat sederhana dan terkadang paling mendalam, “Tenanglah! Aku ada disini. Jangan takut!” Kita perlu diingatkan akan kasih Yesus yang sempurna yang melenyapkan segala ketakutan. Jadi, dengarkan. Apapun badai yang kita hadapi saat ini, ketahuilah bahwa kasih Yesus melenyapkan segala ketakutan. Yesus ada bersama kita di dalam badai, dan dialah yang kita butuhkan. Jadi, pada satu tingkat, apa yang Yesus katakan sangatlah sederhana. Dia berkata kepada para murid, “Aku ada disini. Semuanya akan baik-baik saja.”

Tetapi ada tingkat lain. Ada tingkat lain di mana Yesus mengatakan sesuatu yang sangat dalam. Ini adalah perkataan, “Aku ini.Dalam bahasa Yunani, ini adalah perkataan, “Ego eimi.Dan ini adalah perkataan yang digunakan Allah untuk menggambarkan dirinya sendiri ketika dia menyatakan dirinya kepada Musa melalui semak berapi. Musa bertanya kepada Allah, “Siapa namamu? Siapa yang harus aku katakan mengirim aku kepada bangsa Israel?” Dan Allah menjawab, “AKU ADALAH AKU.Di sinilah kita mendapat nama YHWH. Dan arti di balik nama “AKU” adalah bahwa Allah itu ada dengan sendirinya. Dia tidak membutuhkan siapa pun atau apa pun selain dirinya sendiri. Dia baik sendirian. Dan itu juga berarti bahwa Allah itu mandiri. Dia adalah air mancur yang tiada habisnya yang tidak akan pernah kering. Dia tidak pernah lelah. Ini juga berarti bahwa Allah itu abadi dan tidak dapat berubah. Tidak ada waktu dahulu dimana dia tidak ada. Dan tidak akan ada waktu dimana dia tidak ada. Kemarin, hari ini, dan selamanya, nama Allah tetap “AKU”. Dahulu dia adalah Allah, sekarang dia adalah Allah, dan selamanya dia tetap Allah. Tidak ada yang dapat mengubah Allah dan tidak ada yang bisa menggerakkan Allah. Inilah “AKU ADALAH AKU.” Dan dalam bahasa Yunani, itu diterjemahkan sebagai, “Ego eimi.

Tahukah anda apa yang Yesus lakukan ketika dia berkata kepada para murid, “Aku ini”? Yesus mengambil nama Allah yang kudus dan memakainya pada dirinya sendiri. Jadi, Yesus tidak hanya berjalan di mana hanya Allah bisa berjalan, tetapi Yesus juga berbicara seperti Allah berbicara. Dengan kata lain, di tengah badai, Yesus menyatakan dirinya kepada para murid sebagai satu-satunya Allah yang kekal dan tidak pernah berubah. Dan inilah alasan mengapa mereka bisa tenang. Inilah alasan mengapa mereka tidak perlu takut. Karena “AKU ADALAH AKU” telah datang kepada mereka. Dan ketika Yesus naik ke perahu, angin kencang segera berhenti. Kehadiran Yesus di dalam perahu mengatasi segala badai. Dan para murid sangat terkejut. Mengapa? Perhatikan ayat 52. Ini sangat penting.

Markus 6:52 – sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil. Dapatkah anda melihat apa yang terjadi? Para murid seharusnya tahu lebih baik. Para murid seharusnya tahu siapa Yesus. Memberi makan orang banyak dengan lima roti dan dua ikan seharusnya sudah mengungkapkan identitas Yesus yang sebenarnya kepada mereka. Mereka seharusnya tahu bahwa Yesuslah yang mereka butuhkan. Yesus adalah Allah yang menjadi manusia. Yesus adalah Allah yang berdaulat atas alam semesta. Yesus lebih dari cukup. Tetapi mereka belum juga mengerti. Mereka melewatkan pelajarannya. Mengapa? Bukan karena mereka tidak cukup pintar. Tetapi karena hati mereka keras. Ini memberitahu kita bahwa kita dapat berada di sekitar Yesus dan menyaksikan karya Yesus yang ajaib dan masih memiliki hati yang keras. Menyaksikan mukjizat tidak menjamin apa pun. Terkagum kepada Yesus saja tidak cukup. Karena kita bisa terkagum kepada Yesus dan tidak menaruh iman kita di dalam Yesus. Karena iman adalah pemberian Allah. Iman bukanlah sesuatu yang kita bisa lakukan sendiri. Dan seringkali Allah menggunakan badai kehidupan untuk membuka mata iman kita untuk melihat siapa dia sebenarnya.

Perhatikan. Ada sesuatu tentang badai yang mengungkapkan ketidakcukupan kita dan kecukupan Yesus pada saat yang sama. Tujuan badai dalam kehidupan umat Kristus bukanlah untuk menghancurkan kita tetapi untuk mengungkapkan kemuliaan Yesus yang lebih besar. Yesus ingin mengungkapkan siapa dia kepada kita. Coba pikirkan sejenak. Jika tujuan Yesus adalah menghentikan badai, Yesus tidak harus berjalan di atas air. Yesus tidak harus datang kepada pada murid. Dia hanya perlu mengatakannya dari atas bukit dan angin akan mendengarkan suaranya. Tetapi dia tidak melakukan itu. Sebaliknya, Yesus datang kepada para murid, berjalan di atas air, dan menyatakan kemuliaannya kepada para murid. Mengapa? Karena Yesus jauh lebih tertarik agar para murid melihat kemuliaannya daripada menghentikan badai. Yang terutama dibutuhkan para murid bukanlah agar badai berhenti, tetapi untuk melihat kemuliaan sosok yang ada bersama dengan mereka.

Apakah anda melihat betapa sabarnya Yesus terhadap para murid? Mereka terus melewatkan pelajarannya, tetapi Yesus tidak menyerah terhadap mereka. Dan ini memberikan kita harapan. Karena kita tidak lebih baik dari para murid. Ketika kita menghadapi badai dalam hidup, kita sering panik dan kita sering mempertanyakan Allah. Kita seharusnya tahu lebih baik. Kita seharusnya tahu dari badai kita yang sebelumnya bahwa Allah yang tidak meninggalkan kita saat itu juga tidak akan meninggalkan kita saat ini. Namun seringkali kita gagal mengingat pelajarannya. Tetapi Yesus sabar dengan kita. Kita ingin badai berakhir secepat mungkin tetapi Yesus ingin kita melihat kemuliaannya yang lebih besar melalui badai. Dia menggunakan badai untuk mengingatkan kita bahwa dialah kebutuhan terutama kita di dalam badai. Kebutuhan terutama kita bukanlah untuk keadaan kita menjadi baik. Kebutuhan terutama kita adalah sosok yang berdaulat atas semua keadaan kita. Kita tidak perlu takut badai ketika dia yang berdaulat atas badai ada untuk kita. Apapun badai yang kita hadapi saat ini, dan yang akan kita hadapi di masa depan, dengarkan perkataan Sang Penguasa atas alam semesta, “Tenanglah. Aku ini. Jangan takut.” Yang kita butuhkan di dalam badai adalah pribadi Yesus.

Dan di sini ada teka-teki yang perlu kita pecahkan. Dalam perikop ini, ketika Yesus menyatakan kemuliaannya, itu menjadi alasan bagi para murid untuk tenang dan tidak takut. Namun dalam Perjanjian Lama, ketika Allah menyatakan kemuliaan-Nya, orang-orang ketakutan. Mari kita kembali ke contoh semak yang berapi. Suatu hari, Musa sedang menggembalakan domba di gunung Horeb dan Allah menampakkan diri-Nya kepada Musa dalam bentuk nyala api di semak-semak. Semak itu berapi namun tidak terbakar. Ini menarik perhatian Musa. Dan Allah memanggil dari semak-semak, “Musa, Musa, buka sandalmu karena tempat dimana kamu berdiri adalah kudus.” Dengan kata lain, Allah berkata, “Hati-hati Musa. Mundur. Jangan terlalu dekat. Lepaskan sandalmu. Karena aku kudus.” Dan kekudusan Allah membuat Musa begitu gentar sampai dia takut melihat Allah. Tidak seorang pun dapat mengalami manifestasi kehadiran Allah dan bersikap biasa saja. Kehadiran Allah yang kudus selalu membuat orang ketakutan. Kekudusan Allah menghancurkan orang berdosa.

Tetapi di sini, Yesus berkata kepada para murid, “Akulah Allah yang kudus. Tenanglah dan jangan takut.” Bagaimana mungkin? Karena kemuliaan dan kuasa Allah yang tidak terbatas sekarang bekerja untuk mereka dan bukan melawan mereka. Inilah kunci agar kita tidak takut. Kita perlu tahu bahwa kemuliaan dan kuasa Allah yang tidak terbatas bekerja untuk kita. Tetapi bagaimana kita tahu bahwa Allah bekerja untuk kita dan bukan melawan kita? Apa yang berubah? Mari saya beri tahu anda apa yang berubah. Ada sosok yang telah membayar harga kekudusan Allah. Ada sosok yang telah mengambil konsekuensi meremehkan kekudusan Allah dan mati karenanya. Inilah yang Yesus lakukan di kayu salib. Yesus, “AKU ADALAH AKU”, datang ke dunia untuk menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita. Di kayu salib, “AKU” yang mulia tanpa batas menjadi dosa dan dihukum, supaya di dalam Yesus kita dibenarkan oleh Allah. Jadi, ketika kita menaruh iman kita kepada Yesus, tidak ada setitik pun kenajisan di dalam diri kita. Kita ditutupi oleh kesempurnaan Yesus. Dan ketika Allah melihat kita, dia melihat kita sebagai orang yang kudus, tidak bercacat, dan tidak bercela. Yesus telah menyerap setiap tetes murka Allah terhadap dosa-dosa kita. Jadi, yang tersisa bagi kita hanyalah kebaikan dan kemurahan. Inilah mengapa kita tidak perlu takut. Karena Yesus telah datang untuk menggenapi apa yang Allah janjikan dalam Yesaya.

Dengarkan ini. Yesaya 43:1-3a – Tetapi sekarang, beginilah firman TUHAN yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel: “Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku. Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau. Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, Yang Mahakudus, Allah Israel, Juruselamatmu. Sungguh janji yang sangat indah. Dan janji ini adalah milik setiap orang yang menaruh iman mereka kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Inilah alasan mengapa kita bisa tenang dan tidak takut di tengah badai. Karena Tuhan Allah kita menyertai kita melalui air, sungai, dan api. Dia tidak akan mengecewakan kita. Bagi setiap orang yang mengasihi Allah, kita dapat memiliki keyakinan bahwa akhir cerita kita sudah dijamin: kemuliaan yang kekal. Ada banyak hal yang kita tidak ketahui dalam badai, tetapi kita tahu bahwa Yesus tidak akan gagal untuk memimpin kita melewati badai menuju kemuliaan yang kekal.

Hasil

Markus 6:53-56 – Setibanya di seberang Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret dan berlabuh di situ. Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus. Maka berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya kepada Yesus, di mana saja kabarnya Ia berada. Ke manapun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.

Tidak lama setelah Yesus naik ke perahu, perahu sampai di seberang. Namun, badai telah membawa mereka ke tempat yang berbeda dari tujuan awal mereka. Mereka berlayar ke Betsaida tetapi mereka mendarat di Genesaret. Perhatikan. Badai sering membawa kita ke tempat yang berbeda dari yang kita rencanakan. Namun bukan berarti kita berada di tempat yang salah. Allah tahu persis ke mana dia memimpin kita. Dia tidak membuat kesalahan. Dan dia sering menggunakan badai untuk mengarahkan kita ke tempat yang dia inginkan. Lihat apa yang terjadi di Genesaret. Segera setelah Yesus dan para murid turun dari perahu, orang-orang mengenali Yesus dan mulai membawa orang-orang sakit kepada Yesus. Dan Yesus melayani kebutuhan mereka. Yesus menunjukkan belas kasihan terhadap penderitaan di desa-desa dan kota-kota sekitarnya. Dan semua orang yang menyentuh Yesus dengan iman menjadi sembuh. Apakah anda melihat apa yang terjadi? Yesus tidak hanya ada untuk kita di dalam badai kita, tetapi Yesus juga ada untuk orang lain di dalam badai mereka. Dan hari ini, ada banyak orang di sekitar kita yang sedang berjuang dengan badai. Dan Yesus menggunakan badai kita untuk membawa kita ke dalam kehidupan mereka. Dan alasan dia melakukan itu adalah agar kita bisa menjadi tangan dan kaki Yesus bagi mereka. Sama seperti kita melihat kemuliaan Yesus melalui badai kita, Yesus ingin orang lain melihat kemuliaannya dalam badai mereka. Dan dia menggunakan kita untuk memberitakan Injil kepada mereka. Jadi, mari kita tunjukkan belas kasihan Yesus kepada mereka yang terluka dan membutuhkan.

Saya akan tutup dengan ini. Beberapa dari anda mungkin sedang berada di dalam badai dan anda berdoa untuk mukjizat. Anda menginginkan mukjizat penyembuhan, anda menginginkan mukjizat penyediaan, anda menginginkan mukjizat terobosan. Dan saya percaya Allah menghormati doa anda. Berdoalah untuk mukjizat. Tetapi jangan berhenti di situ. Pertanyaan utamanya adalah, apakah Yesus ada bersama anda di dalam perahu? Sudahkah anda menaruh iman anda kepada Yesus? Atau apakah anda hanya kagum kepada Yesus? Apakah anda sudah melihat kemuliaannya yang tidak terbatas bekerja untuk anda di kayu salib? Karena jika belum, maka anda kehilangan inti dari mukjizat. Yesus tidak melakukan mukjizat demi mukjizat. Dia melakukan mukjizat sehingga anda dapat mengetahui bahwa dialah satu-satunya Allah yang kekal dan tidak pernah berubah. Dia melakukan mukjizat agar anda menaruh iman anda kepada dia dan memiliki hidup yang kekal. Jadi, berdoalah untuk mukjizat. Tetapi pada akhirnya, berdoalah agar anda dapat melihat kemuliaan Yesus di dalam badai yang anda sedang hadapi. Mari kita berdoa.

Discussion questions:

  1. Give some examples of “white noise” in your life. Be specific when possible.
  2. Have you ever experienced storms because of your obedience to God? What happened?
  3. Why did Jesus mean to pass by the disciples? What does it say about Jesus in our storms?
  4. Read Mark 6:52. What is the main problem of the disciples? Can you relate to them?
  5. How can we not be afraid amid our storms?
  6. What can you do to be Jesus’s hand and feet to people around you who are experiencing storms right now?
No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.